Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Sekolah Negeri Bisa Tolak MBG
    16 jam lalu
    Batam Dominan Berawan, BMKG Imbau Waspada Asap Karhutla
    20 jam lalu
    Tim Gabungan Batam Tertibkan Delapan Bangunan Ilegal di Sagulung
    21 jam lalu
    Kualitas Udara Batam Membaik, Kasus ISPA Akibat Kabut Asap Turun Drastis 50 Persen
    21 jam lalu
    BP Batam Alokasikan Rp665,11 Miliar untuk Infrastruktur dari Pagu Rp2,44 Triliun di 2027
    21 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    143 Siswa SMAN 5 Tanjungpinang Ikut Perkemahan Penerimaan Tamu Ambalan
    17 jam lalu
    Grup Musik No Na Buka Era Album Island Girl Lewat Lagu Star
    17 jam lalu
    Langsing dengan Tiga Cara Nyantai: Murah, Tanpa Ribet, Tanpa Siksaan
    20 jam lalu
    Udara Membaik, Disdik Batam Kembalikan Aktifitas Pembelajaran Tatap Muka
    2 hari lalu
    Atlet NPCI Borong 7 Gelar Kejurda Para Menembak 2026
    4 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    6
    Rumah Belah Bubung
    2 hari lalu
    Raja Haji Abdullah ibn Raja Haji Ahmad
    2 minggu lalu
    8
    Masjid Al Mubaraq, Karimun (Masjid Raja Haji Abdullah)
    2 minggu lalu
    Realisasi Belanja Pemko Tanjungpinang hingga September 2026
    2 minggu lalu
    Tanjung Lamun, Batam
    2 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    3 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    3 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    3 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    7 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    7 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Assiamkang; Jejak Komunitas Teochew di Belantara Batam

Editor Admin 48 menit lalu 85 disimak
Potongan peta ‘De Battam Archipel’ 1882, terlihat wilayah Assiamkang yang dibelah oleh sungai Assiamkang/ sungai Ngedan di bagian timur pulau Batam masa lalu. © Arsip perpustakaan Leiden.Disediakan oleh GoWest.ID

SECARA administratif, Pulau Batam hari ini dikenal sebagai kota industri, teknologi, dan perdagangan bebas modern. Tapi, jauh sebelum deru mesin pabrik mendominasi, pulau Batam merupakan hamparan hutan tropis lebat yang menjadi salah satu sentra ekonomi perkebunan di bawah protektorat Kesultanan Riau-Lingga.

Daftar Isi
Komunitas Teochew di Hutan BatamJalur Transportasi: Sungai yang membelah BelantaraEkonomi & Ekologi Perkebunan Gambir di BatamWilayah Penguasa BaganLokasi Assiamkang pada Masa Kini

Oleh: Bintoro Suryo


Salah satu wilayah yang sempat memiliki peran ekonomi di belantara Batam masa lalu, namun kini hampir terlupakan adalah; Assiamkang.

Catatan terperinci mengenai wilayah ini bisa ditelusuri; salah satunya dari catatan seorang kontrolir Belanda yang pernah bertugas di wilayah Kepulauan Batam, J.G. Schot. Melalui laporannya di dokumen “De Battam Archipel” (1882), kita dapat meneroka kembali potret lanskap kuno Batam yang kini telah bertransformasi total.


NAMA Assiamkang berakar dari sistem ekonomi kangka (kang-kar); istilah bahasa Tionghoa (Teochew) yang berarti “kaki sungai” atau “pelabuhan tambat”. Pada abad ke-19, gelombang imigran Tionghoa sempat membuka hutan-hutan Batam untuk dijadikan perkebunan gambir dan lada lewat sistem konsesi lahan dengan memanfaatkan aliran sungai sebagai akses.

J.G. Schot mengidentifikasi wilayah Assiamkang sebagai salah satu wilayah kangka yang jadi urat nadi perekonomian di pulau Batam yang masih didominasi hutan belantara. Dalam bab awal laporannya mengenai topografi sungai di Kepulauan Batam (Battam Archipel), Schot menuliskan:

“Di antara sungai-sungai yang ada di kepulauan ini, terdapat beberapa sungai yang cukup besar, seperti Sungai Doeriankang atau Doerian di Batam, Sungai Tongkang, Antjoet, Bidan (Ngedan) atau Assiamkang, serta sungai Mërëndi.”

Selain sebagai entitas sungai, Assiamkang juga berkembang menjadi klaster perkebunan produktif yang terhubung dengan pos-pos perkebunan lain. Dalam KBBI, istilah ‘kangka’ kemudian meluas dan diartikan sebagai ‘perkebunan’.

Schot memetakan jaringan ekonomi ini dalam catatan tambahannya mengenai persebaran kangka di hutan-hutan belantara Batam masa itu:

“… Seperti misalnya Kangka di sekitar sungai Tembesi, Kangka di sekitar sungai Doeriangkang, Assiamkang, Merendi atau Kangka di sekitar sungai Panas, sekitar Djodoe hingga Bengkong.”

Komunitas Teochew di Hutan Batam

DALAM bab analisis kependudukan di dokumen ‘De Battam Archipel’, J.G. Schot memberikan catatan sosiologis yang sangat menarik mengenai profil para imigran Tionghoa yang menjadi pionir utama pembukaan Hutan-hutan Batam, termasuk di kawasan hutan di Assiamkang dan wilayah kangka sekitarnya.

Schot menyebut bahwa mayoritas mutlak para pekerja perkebunan, mandor, dan pemilik modal kangka (Tauke Kangka) di Batam berasal dari Suku Teochew (dalam dokumen lama ditulis sebagai orang Tio-Tsiu). Mereka berasal dari kawasan Chaoshan, Guangdong. Karakter dan pola hidup mereka dicatat secara spesifik pada dokumen ‘De Battam archipel’.

Schot mengagumi daya tahan fisik orang-orang Teochew. Mereka masuk ke pedalaman Batam yang saat itu masih berupa rawa berpenyakit, hutan lebat, dan sarang binatang buas demi mendirikan bangsal-bangsal pengolahan gambir (bangsal gambir).

Menurut Schot, struktur Sosial “Kangka-Eigenaar” (Pemilik Kangka) di hutan-hutan Batam masa itu, berbeda dengan klan Tionghoa Hakka atau Hokkien yang lebih banyak beraktifitas dagang di pusat pelabuhan Riau. Etnis Teochew di Batam membangun sistem tata kelola otonom di bawah pimpinan seorang Tauke Kangka. Pemimpin kangka ini memegang hak monopoli dari Kesultanan untuk menarik pajak, mengelola perjudian legal, candu, dan mendistribusikan logistik makanan bagi para kuli kebun di sepanjang wilayah perairan Assiamkang.

Jalur Transportasi: Sungai yang membelah Belantara

BAGAIMANA orang-orang Tionghoa abad ke-19 ini bisa menembus pedalaman Batam yang sangat lebat dan terisolasi? J.G. Schot menguraikan secara mendalam faktor aksesibilitas kelautan yang menjadi kunci sukses pengelolaan Assiamkang, yakni melalui jalur Sungai sebagai Akses Masuk ke Pedalaman.

Potongan peta ‘De Battam Archipel’ 1882, terlihat wilayah Assiamkang yang dibelah oleh sungai Assiamkang/ sungai Ngedan di bagian timur pulau Batam masa lalu. © Arsip perpustakaan Leiden

Pada era 1880-an, jalur darat di Batam hampir tidak ada, selain berupa alur setapak kecil membelah belantara. Kondisinya sangat menyulitkan untuk dilalui. Apalagi pada musim penghujan.

Oleh karena itu, para petani Teochew memanfaatkan muara Sungai Assiamkang dan Duriangkang sebagai akses transportasi utama. Mereka mendirikan perkebunan tepat di tepi aliran sungai.

Sungai menjadi satu-satunya infrastruktur logistik untuk menyalurkan persediaan makanan, peralatan kebun, hingga pasokan candu dari pelabuhan luar menuju ke area bangsal di pedalaman.

Untuk membawa keluar hasil panen berupa pasta gambir padat dan lada, komunitas kangka di pulau Batam masa itu mengandalkan perahu kayu tradisional seperti sampan kotak untuk menyusuri wilayah sungai yang dangkal. Ketika sampai di muara sungai yang lebih dalam, muatan dipindahkan ke perahu tongkang atau jung yang berukuran lebih besar.

Menariknya, Schot juga mencatat bahwa hutan Batam kaya akan kayu berkualitas tinggi yang langsung dimanfaatkan oleh komunitas Tionghoa di sini untuk merakit rangka perahu dan tongkang baru.

Berdasarkan pengamatan ekonomi Schot, seluruh pergerakan perahu logistik dari wilayah Assiamkang tidak diarahkan menuju pusat pemerintahan Kesultanan di Tanjung Pinang (Riau), melainkan langsung berlayar ke utara menyeberangi selat menuju Singapura.

Singapura bertindak sebagai hub pasar global terbesar untuk komoditas gambir saat itu. Hubungan dagang ini begitu kuat sehingga komoditas dari Batam ditukar langsung dengan kebutuhan pokok dan modal finansial dari para saudagar Teochew di Singapura untuk kelangsungan hidup kangka di Assiamkang.

Ekonomi & Ekologi Perkebunan Gambir di Batam

GAMBIR (Uncaria gambir) pada pertengahan abad ke-19, merupakan komoditas ekspor prima global. Ekstrak dari daunnya sangat dibutuhkan oleh industri tekstil dan penyamakan kulit di Eropa, serta menjadi bahan baku utama tradisi menyirih/menginang di Asia Tenggara. Namun, laporan J.G. Schot membuka tabir sisi gelap dari intensifnya ekonomi perkebunan ini.

Tingginya harga jual gambir memicu kapitalisasi lahan secara masif. Schot mencatat bahwa perkebunan gambir milik para pengusaha Cina ini secara agresif menggusur lahan-lahan pertanian padi tradisional milik penduduk pribumi. Ekspansi massif perkebunan Gambir di wilayah ini, menciptakan kondisi monokultur, seperti yang terjadi di wilayah pulau Sugi (pada masa itu dikelompokkan dalam gugus kepulauan Batam). Banyak areal pertanian padi kering di sana yang menyusut, lebat lain akhirnya menghilang.

Proses pengolahan daun gambir mentah menjadi pasta padat, juga membutuhkan pembakaran konstan bersuhu tinggi. Proses itu pada akhirnya menciptakan siklus Produksi dan Penebangan Hutan di Batam yang cukup massif.

Bangsal-bangsal pengolahan Gambir, seperti yang berada di wilayah Assiamkang, membutuhkan pasokan kayu bakar dalam jumlah masif. Akibatnya, hutan-hutan primer di sekeliling wilayah kangka ditebang habis secara sembarangan hanya untuk diambil kayu bakarnya.

Dalam dokumen ‘De Battam Archipel’, Schot memberikan kritik tajam terhadap metode bertani para imigran Tionghoa di hutan-hutan Batam termasuk Assiamkang yang kurang mempedulikan keberlanjutan tanah. Setelah pohon-pohon besar ditebang habis, lereng-lereng perbukitan Batam langsung ditanami gambir atau lada tanpa terasering.

Akibatnya, saat hujan tropis melanda, unsur hara tanah hanyut terbawa air, merusak akar, dan membuat produktivitas kebun gambir merosot tajam hanya dalam hitungan tahun.

Kondisi tanah yang cepat gersang ini memaksa komunitas kangka terus berpindah membabat hutan baru di pedalaman Batam masa itu.

Wilayah Penguasa Bagan

BERDASARKAN tata pemerintahan pribumi masa itu, wilayah perkebunan timur Batam di Assiamkang masa itu, diatur di bawah sistem apanase (hak pengutipan pendapatan langsung oleh bangsawan yang menjadi wakil kerajaan). Wilayah hukum adatnya membentang luas menembus pedalaman hutan. Dokumen kolonial mencatat batas-batasnya sebagai berikut:

“Membentang dari muara Sungai Ladi di pantai utara Batam, ke arah timur sepanjang pantai hingga Kampung Bagan di muara Sungai Doeriankang, Kangboi, dan Assiamkang. Batas garis dalam pedalaman ditandai oleh Sungai Ladi dan Doeriankang.”
(J.G. Schot – De Battam.Archipel, 1882)

Wilayah ini awalnya berada di bawah pengawasan Raja Yakub (Yakup) dari Nongsa, seiring penerapan wakil kerajaan sebagai perpanjangan Sultan dan raja muda sejak 1857. Namun saat kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Raja Muhammad Saleh (Schot menyebut Raja Muhammad Saleh juga biasa dikenali sebagai Raja Mahmud), yang bersangkutan memilih tinggal di pedalaman timur, kampung Bagan.

Status apanase yang ditetapkan sultan dan yang Dipertuan muda di wilayah yang menjadi otoritas raja Yakub dan kemudian berlanjut ke raja Mahmud; mengindikasikan bahwa wilayah ini belum dianggap potensial secara ekonomi. Hak pengutipan terhadap potensi pendapatan oleh wakil kerajaan di sini, secara langsung dapat mengurangi beban biaya permakanan/ gaji yang harus dibayarkan pihak kerajaan di Penyengat.


DARI kampung Bagan yang menjadi tempat tinggalnya, Raja Muhammad alias Raja Mahmud mengontrol aktifitas warga Tionghoa yang banyak membangun kangka di belantara Batam. Aktifitas warga Tionghoa yang menggunakan akses sungai, bisa dengan mudah dikontrol. Terutama dari ‘surat sungai’ yang diterbitkan pihak kerajaan.

Dalam catatan Schot, surat sungai bukan sekadar izin menebang hutan biasa. Melainkan sebuah pemberian hak otonom dan monopoli penuh kepada seorang pengusaha Tionghoa yang ditunjuk sebagai Tauke Kangka (atau Kangchu). Di dalam wilayah aliran sungai yang tertera di surat tersebut (misalnya wilayah Sungai Assiamkang/Duriangkang), pemegang surat berhak atas:

  • Hak Atas Lahan: Menguasai seluruh lembah sungai dari muara hingga ke hulu untuk ditanami gambir dan lada.
  • Hak Monopoli Cukai: Menarik pajak dari para kuli, membuka warung logistik, dan menguasai peredaran candu (opium).
  • Hak Hukum Internal: Mengadili perselisihan kecil di antara sesama pekerja Tionghoa di dalam distrik kangka tersebut.

Sehubungan surat sungai yang dikeluarkan, Schot menyoroti bahwa sistem surat sungai ini adalah hubungan timbal balik yang sangat menguntungkan kas Kesultanan. Pemegang surat sungai di Assiamkang diwajibkan untuk membayar uang muka (premi) saat surat pertama kali diterbitkan.menyetor upeti tahunan atau persentase dari hasil ekspor gambir dan lada yang dibawa keluar dari Batam, termasuk dari wilayah Assiamkang.

Sebagai seorang pejabat pengawas kolonial (Controleur), Schot juga menyertakan kritik tajam terhadap dampak dari sistem surat sungai ini. Ia mencatat bahwa karena surat sungai memberikan kebebasan mutlak atas wilayah perairan, para Tauke Kangka sering kali mengeksploitasi hutan Batam secara berlebihan tanpa memikirkan kelestarian alam.

Ketika tanah di sepanjang aliran sungai Assiamkang sudah gersang dan rusak akibat erosi, warga Tionghoa di belantara Batam, biasanya akan mengembalikan surat tersebut atau mencari surat sungai baru untuk membuka hutan di wilayah perairan Batam lainnya, meninggalkan lahan kritis yang tak lagi produktif.


DI wilayah yang berdekatan dengan Assiamkang, diketahui juga menjadi habitat hidup kelompok suku asli “Orang Hutan”. Mereka digambarkan Schot hidup berdampingan dengan para pengusaha Tionghoa di bawah perlindungan Raja Mahmud.

“Sebagian lainnya menetap di timur Batam, di sekitar hulu Sungai Merendi dekat kampung Bagan. Kelompok yang tinggal di sana mengakui Raja Mahmud Saleh/ Raja Muhammad yang tinggal di kampung Bagan, sebagai pemimpin mereka.” (J.G. Schot – De Battam.Archipel, 1882)

Di masa kini, jejak Raja Mahmud atau juga dikenal sebagai Raja Muhammad, masih bisa disimak pada makamnya yang terletak di kampung Bagan. Lokasi pemakamannya dan keluarga, berada di pinggir lapangan sepakbola di kampung Bagan.

Berbeda dengan komplek makam sejenis di Nongsa, kondisi pemakaman Raja Muhammad/ Raja Mahmud dan keluarga di kampung Bagan tergolong sangat sederhana. Pemeliharaan makam hanya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat setempat, terutama dari warga golongan tua.

Lokasi Assiamkang pada Masa Kini

JIKA merekonstruksi peta kuno ‘De Battam Archipel’ yang digambar oleh Schot pada tahun 1882 dan mencocokkannya dengan topografi modern, jejak geografis wilayah Assiamkang saat ini tersebar di beberapa kawasan vital di Batam bagian Timur hingga Tenggara.

Wilayah yang disebut Assiamkang oleh Schot, membentang dari Kawasan Industri Kabil & Kampung Tua Ngedan dekat muara sungai Duriangkang.

Sementara sungai Assiamkang yang oleh Schot disebut juga sebagai Sungai Bidan atau Ngedan, kini telah bertransformasi total menjadi kawasan pesisir industri modern, yaitu Kawasan Industri Kabil (Kabil Integrated Industrial Estate) serta pelabuhan logistik. Jejak namanya hanya tersisa secara samar pada Kampung Tua Ngedan di wilayah Kabil, Kecamatan Nongsa.

Sebaran wilayah Assiamkang di masa kini, juga termasuk wilayah genangan Waduk Duriangkang. Wilayah itu pada masa lalu merupakan jaringan anak sungai Assiamkang yang mengalir dan membelah lembah dan berdekatan dengan Sungai Duriangkang (Doeriankang).

Ketika wilayah ini dibendung pada dekade 1990-an untuk dijadikan kantong air bersih utama, lembah pedalaman bekas perkebunan kuno milik komunitas Teochew tersebut sepenuhnya tenggelam menjadi Waduk Duriangkang.

Wilayah Assiamkang dalam catatan Schot masa lalu, juga termasuk kawasan Kampung Bagan (Tanjung Piayu) yang menjadi pusat kendali tradisional tempat Raja Mohammad Saleh/ Raja Mahmud memerintah. Kampung Bagan pada masa itu merupakan kawasan yang strategis untuk memantau pergerakan hasil bumi dan cukai dari kangka Assiamkang yang melalui jalur Sungai dari hutan belantara di pedalaman Batam.

(*)

Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com

Kaitan Assiamkang, batam, De Battam Archipel, Duriangkang, History, J.g. Schot, kampung bagan, Kangka, nongsa, sejarah, sungai
Admin 20 September 2026 20 September 2026
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Sekolah Negeri Bisa Tolak MBG

APA YANG BARU?

Sekolah Negeri Bisa Tolak MBG
Artikel 16 jam lalu 147 disimak
143 Siswa SMAN 5 Tanjungpinang Ikut Perkemahan Penerimaan Tamu Ambalan
Pendidikan 17 jam lalu 130 disimak
Grup Musik No Na Buka Era Album Island Girl Lewat Lagu Star
Ragam 17 jam lalu 124 disimak
Langsing dengan Tiga Cara Nyantai: Murah, Tanpa Ribet, Tanpa Siksaan
Catatan Netizen 20 jam lalu 155 disimak
Batam Dominan Berawan, BMKG Imbau Waspada Asap Karhutla
Artikel 20 jam lalu 164 disimak

POPULER PEKAN INI

Kabut Asap Selimuti Wilayah Batam, Disdik Berlakukan Belajar Dari Rumah
Pendidikan 5 hari lalu 448 disimak
Warga Diimbau Kurangi Aktivitas Luar Ruangan
Lingkungan 6 hari lalu 401 disimak
Dua Warga Dilaporkan Meninggal Dalam Bentrokan di Setokok
Artikel 6 hari lalu 346 disimak
Jeritan Hati dan Ketidakpastian 1.025 Buruh PT Ghim Li Batam
In Depth 4 hari lalu 341 disimak
Siswa Tanjungpinang Dialihkan Belajar Daring hingga 18 September 2026
Pendidikan 6 hari lalu 337 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?