Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Perang Malaria di Tanjungpinang, 518 Kasus dalam Enam Bulan
    5 menit lalu
    Jaringan Promosi Judi Online Internasional di Batam Digerebek Polisi
    22 menit lalu
    ASDP Batam Berlakukan Pas Masuk Pelabuhan
    48 menit lalu
    Kamis (25/06) Harga Emas di Batam Terpantau Menurun
    9 jam lalu
    Sah! Batam Punya Perda PSU, Pengembang Wajib Sediakan Jalan hingga TPS
    10 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Piala Dunia 2026, Brace Vinicius Jr Pastikan Tim Samba Brasil Lolos Babak 32 Besar
    12 jam lalu
    Aplikasi Si-Pintar untuk Pendaftaran Sekolah Tahun 2026 di Bintan
    1 hari lalu
    KPAI Sesalkan Pawai Dukungan MBG Melibatkan Anak Sekolah di Batam
    2 hari lalu
    Pakar Hak Anak Soroti Pawai Dukungan MBG di Batam
    2 hari lalu
    Piala Dunia 2026: Enam Tim Lolos 32 Besar, Empat Lain Terhenti Lebih Awal
    2 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Statistika Harga Makanan dan Rokok Melonjak di Batam
    36 menit lalu
    Ikan Lepu (Lion Fish)
    2 hari lalu
    Pohon Bakau Api Api
    3 hari lalu
    Inflasi Perumahan Batam Meningkat pada Mei 2026
    3 hari lalu
    Pulau Benan, Lingga
    1 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    2 hari lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    4 hari lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    1 minggu lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    4 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    5 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
In Depth

Bagaimana Bumi Berubah Selama 37 Tahun Terakhir? | Google Earth Rilis Timelapse

Editor Admin 5 tahun lalu 1.2k disimak

Google telah merilis Timelapse di Google Earth. Ada 24 juta foto satelit dari 37 tahun terakhir telah dikompilasi menjadi pengalaman 4D interaktif.

Dalam pembaruan terbesar Google Earth sejak 2017, kita sekarang bisa melihat Bumi dalam dimensi yang baru.

“Selama 15 tahun terakhir, miliaran oranng telah beralih ke Google Earth untuk menjelajahi Bumi dari sudut padang yang tak ada habisnya. Kamu mungkin pernah mengintip Gunung Everest atau terbang melintasi kota asal kamu,” tutur Google.

Untuk menjelajahi Timelapse di Google Earth, kamu bisa membuka tautan g.co/Timelapse, di mana kamu bisa memanfaatkan bilah penelusuran praktis untuk memilih tempat mana pun di Bumi dalam pergerakan watu.

Melalui tautan tersebut, Uzone.id melihat banyak Timelaps yang bisa dilihat oleh pengguna. Kami mencoba melihat perubahan yang terjadi pada tambang emas Free Port dekat Puncak Jaya, Papua, sejak 1984 hingga 2020.

Selain itu, perubahan dramatis juga terjadi di Uni Emirat Arab di tahun 1984 kota Dubai masih kawasan gurun pasir yang tandus perlahan-lahan menjadi sebuah kota.  

Kamu juga bisa membuka Google Earth dan klik roda kapal untuk menemukan Timelapse di platform storytelling milik Google, yakni Voyager, untuk melihat tur terpandu interaktif.

Google juga telah mengunggah lebih dari 800 video Timelapse dalam 2D dan 3D untuk digunakan publik pada tautan g.co/TimelapseVideos.

“Kamu bisa memilih video apa pun yang kamu ingin inginkan sebagai video MP4 yang siap digunakan atau duduk dan menonton video di YouTube,” kata Google.

Hasil kerjasama

Google bekerja sama dengan para ahli di CREATE Lap di Universitas Carnegie Mellon untuk menciptakan teknologi di balik Timelapse, dan Google bekerja dengan mereka lagi untuk memahami apa yang Google lihat.

“Saat kami melihat apa yang terjadi, lima tema muncul: perubahan hutan, pertumbuhan kota, suhu yang menghangat, sumber energi, dan keindahan dunia yang rapuh. Google Earth membawa kamu dalam tur terpadu dari setiap topi untuk lebih memahaminya,” tutur Google.

Menurut Google, bikin Timelapse seukuran planet butuh banyak hal, yang mereka sebut “penghancuran piksel” pada Earth Engine, platform cloud Google untuk analisis geospasial.

Untuk menambahkan citra Timelapse animasi ke Google Earth, Google mengumpulkan 24 juta citra satelit dari tahun 1984 hingga 2020, mewakili kuadriliun piksel.

Butuh lebih dari 2 juta jam pemrosesan pada ribuan mesin di Google Cloud untuk mengumpulkan 20 petabyte citra satelit ke dalam satu mozaik video berukuran 4,4 terapiksel. Itu setara dengan 530.000 video dalam resolusi 4K!.

Semua komputasi ini dilakukan di dalam pusat data Google yang netral karbon, 100 persen energi terbarukan, yang merupakan bagian dari komitmen Google untuk membantu membangun masa depan bebas karbon.

Sejauh ini, Timelapse di Google Earth adalah video terbesar di dunia. Untuk membuatnya butuh kolaborasi luar biasa.

“Pekerjaan ini memungkinkan karena komitmen pemerintah AS dan Uni Eropa untuk membuka dan mengakses data,” kata Google.

Timelapse di Google Earth juga tak mungkin terjadi tanpa NASA dan program Landsat Survei Geologi Amerika Serikat, program observasi Bumi sipil pertama (dan paling lama berjalan) di dunia, dan program Copernicus Uni Eropa dengan satelit Sentinelnya.

(*)

Kaitan bumi, Google, Google earth, khas, timelapse
Admin 19 April 2021 19 April 2021
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya ‘Audio Sosial’, Layanan Berbasis Audio Dari Facebook
Artikel Selanjutnya Piala Menpora 2021 | Persib Melaju ke Partai Puncak

APA YANG BARU?

Perang Malaria di Tanjungpinang, 518 Kasus dalam Enam Bulan
Artikel 5 menit lalu 31 disimak
Jaringan Promosi Judi Online Internasional di Batam Digerebek Polisi
Artikel 22 menit lalu 53 disimak
Statistika Harga Makanan dan Rokok Melonjak di Batam
Statistik 36 menit lalu 51 disimak
ASDP Batam Berlakukan Pas Masuk Pelabuhan
Artikel 48 menit lalu 76 disimak
Kamis (25/06) Harga Emas di Batam Terpantau Menurun
Artikel 9 jam lalu 124 disimak

POPULER PEKAN INI

SAR Gabungan Sisir Perairan Tanjung Budus Cari Nelayan Hilang
Artikel 6 hari lalu 557 disimak
Jalan Lingkar Selatan Batam Dibangun, Tahap Awal Rp15 Miliar
Artikel 6 hari lalu 470 disimak
Pohon Bakau Api Api
Rupa 3 hari lalu 461 disimak
Lonjakan Malaria di Tanjungpinang, Senggarang dan Kampung Bugis Fokus Ditangani
Artikel 6 hari lalu 429 disimak
Kronologi Demo Mahasiswa Batam Yang Ricuh
Artikel 6 hari lalu 419 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?