Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Lonjakan Kebakaran Hutan di Tanjungpinang Saat Musim Kemarau
    5 jam lalu
    Antara Penurunan Angka, Perubahan Instrumen, dan Tantangan Adaptasi Kebijakan Literasi
    5 jam lalu
    Pemko Batam Prioritaskan Pelebaran Jalan Jembatan dan Pembangunan SMK di Bengkong
    5 jam lalu
    Perdagangan Luar Negeri Batam Awal 2026: Ekspor Menurun, Impor Naik
    5 jam lalu
    Bocah SD di Batam Jadi Korban Tabrak Lari, Pengemudi Ditetapkan Tersangka
    6 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Cerita Lokal Batam untuk Anak-Minim di Perpustakaan Kota Batam
    2 hari lalu
    Bosnia Herzegovina Gagalkan Italia ke Piala Dunia 2026
    3 hari lalu
    Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
    6 hari lalu
    Atasi Volume Sampah di Batam, Pembangunan TPA Blok Baru di Kabil
    6 hari lalu
    Tahun 2026 Kemenag Batam Buka PMB Satu Pintu Jalur Prestasi Pada MTs Negeri
    1 minggu lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Jumlah Penduduk Beragama Islam di Kota Batam
    3 minggu lalu
    Kualitas Udara di Batam, Jumat (27/2/2026)
    1 bulan lalu
    Gunung Bekaka, Pulau Sugi – Kabupaten Karimun
    2 bulan lalu
    Kecamatan Tanjungpinang Kota, Tanjungpinang
    2 bulan lalu
    Raja Hoesin (Raja Husin) Ibn Radja Ja’far YDM Riouw VI
    3 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    2 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    2 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    2 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    3 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    9 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Gurihnya Sejarah Cah Kwe

Editor Admin 3 tahun lalu 803 disimak

CAMILAN kerap menemani aktivitas sehari-hari, mulai dari belajar, bekerja, hingga menonton film atau bermain gim. Tak jarang camilan pun tersedia di meja ruang tamu rumah hingga ruang rapat kantor.

Salah satu camilan kesukaan banyak orang adalah cah kwe atau cakwe. Roti goreng berbentuk panjang ini dikenal juga dengan nama you tiao. Selain sebagai camilan, cah kwe juga biasa ditambahkan ke dalam bubur, bakso, atau kembang tahu. Sebagai kudapan populer, tak sulit mencicipi gurihnya cah kwe di Jakarta. Di Pasar Baru misalnya, terdapat kedai yang menjual cah kwe dan kue bantal legendaris, yakni Cakue Koh Atek yang terletak di gang kecil tepat di sebelah Bakmi Gang Kelinci.

Koh Atek merupakan generasi kedua penerus ayahnya, Sutikno, yang berjualan cah kwe dan kue bantal sejak tahun 1971. Kedai Cakue Koh Atek buka setiap hari Selasa hingga Minggu, Senin libur. Ia menjadi salah satu destinasi wajib saat berkunjung ke Pasar Baru. Pasalnya, cah kwe olahan Koh Atek tak hanya mekar dengan sempurna, rasanya pun gurih. Tak heran, meski baru berjualan pukul 10.00 pagi, cah kwe olahan Koh Atek biasanya sudah ludes saat siang.

Bicara mengenai cah kwe kurang lengkap rasanya bila tak membahas awal mula terciptanya camilan ini. Dukut Imam Widodo dalam Monggo Dipun Badhog menyebut cah kwe yang berasal dari daratan Tiongkok, dalam dialek Hokkian memiliki arti “hantu yang digoreng”. Penamaan camilan ini juga berkaitan dengan bentuknya yang tak biasa seperti dua roti goreng yang bergandengan.

Kisah mengenai awal mula cah kwe berkaitan dengan kematian seorang jederal yang menjadi simbol patriotisme Cina melawan invasi asing. Jenderal itu adalah Yue Fei. Michael Wicaksono menulis dalam Memahami China bahwa kisah kepahlawanan Yue Fei menjadi inspirasi dari berbagai kisah yang dituturkan selama berabad-abad di Cina dan menjadi teladan yang diajarkan dalam buku pelajaran sejarah Cina sampai saat ini.

Yue Fei yang lahir tahun 1103 merupakan jenderal perang di bawah Kaisar Gaozong, seorang pangeran keturunan Kerajaan Song yang berhasil selamat dari Peristiwa Jingkang, yaitu serbuan besar-besaran pasukan Dinasti Jurchen (Jin) ke wilayah Song di bagian utara. Ibu kota Kerajaan Song dikepung serta Kaisar Qinzong dan ayahnya, mantan Kaisar Huizong dari Song, ditangkap.

“Nantinya kedua mantan kaisar Song ini tetap dibiarkan hidup namun diberikan gelar kebangsawanan yang merendahkan, dan sering kali mereka menjadi cemoohan dan bulan-bulanan Kaisar Jin,” tulis Wicaksono.

Pengangkatan Kaisar Gaozong sebagai kaisar Song yang baru mendorong perlawanan terhadap Jin. Di bawah kekuasaannya, periode Dinasti Song Selatan pun dimulai. Kemunculan Dinasti Song Selatan dipandang sebagai ancaman oleh Dinasti Jin. Mereka pun menyerbu wilayah selatan. Kali ini mereka kerap kelabakan akibat strategi perang Jenderal Yue Fei.

Yinke Deng dalam History of China menyebut Yue Fei yang berasal dari keluarga petani bergabung dengan pasukan Song Selatan pada 1126. Kemampuan Yue Fei dalam bertempur membuatnya dipromosikan dari prajurit menjadi marsekal atau pemimpin pertempuran. Pasukan Yue Fei dikenal sangat disiplin dan berani. Semangat mereka tak jarang membuat prajurit Jin terintimidasi.

“Yue Fei memimpin 126 pertempuran dalam hidupnya dan tidak pernah sekalipun dikalahkan,” tulis Yinke Deng.

Ketangkasan Yue Fei dalam mengatur strategi perang menjadi salah satu faktor yang menyebabkannya sulit dikalahkan. Dalam China at War An Encyclopedia, Xiaobing Li mengisahkan, dalam salah satu perang tahun 1139, Yue Fei yang memimpin 800 tentara berhasil mengalahkan pasukan Jin yang berjumlah 500.000 orang. Di tahun yang sama, Yue Fei memerintahkan anak angkatnya, Yue Yun, untuk menyerang pasukan Wanyan Zongbi (pemimpin pasukan Jin) dan Wanyan Zongxian (Raja Gaitian) yang memimpin 15.000 kavaleri dan 100.000 pasukan infanteri saat tiba di utara Yancheng. Yue Yun memimpin sekelompok penunggang kuda untuk menyerang pasukan Jin yang paling berpengalaman yang disebut Prajurit Besi.

Yue Fei tahu meskipun Prajurit Besi dilengkapi peralatan perang yang baik dari ujung kepala hingga ujung kaki, namun baju besi membuat gerak mereka tidak fleksibel. “Karena itu, dia memerintahkan unit kavaleri Beiwei dan Youyi untuk menyerang kavaleri musuh diikuti oleh infanteri yang dilengkapi dengan pedang dan kapak Mazha,” sebut Xiaobing Li.

Strategi Yue Fei itu berhasil. Ribuan tentara Jin tewas. Pertempuran Yancheng itu menjadi kemenangan besar bagi pasukan Song Selatan. Namun, kemenangan pasukan Yue Fei tak menyenangkan semua pihak di dalam Dinasti Song Selatan. Pertempuran yang berlarut-larut antara Song Selatan dan Jin membuat para pemimpin Song terpecah. Beberapa ingin melanjutkan perang dan mendorong Jin lebih jauh ke utara, sedangkan yang lain menginginkan perdamaian.

Yue Fei berada di kelompok yang pertama. Ia memimpin pasukannya untuk terus berjuang melawan pasukan Jin. Namun, penentangan datang dari Perdana Menteri Qin Hui yang memimpin kelompok untuk mewujudkan perdamaian Song Selatan dan Jin.

Qin Hui mengatakan kepada Kaisar Gaozong agar mengutamakan perdamaian daripada perang. Pertimbangannya didasarkan pada kondisi Dinasti Song Selatan yang belum lama berdiri dan kondisi masyarakat yang menderita akibat pertempuran. Saran Qin Hui didengar oleh Kaisar Gaozong yang kemudian memanggil kembali pasukan di bawah Yue Fei. Meski tak sepenuhnya setuju dengan keputusan kaisar, Yue Fei bersama pasukannya kembali setelah berhasil memenangkan pertempuran. Tak lama setelah itu, Yue Fei diberhentikan dari jabatannya. Ia kemudian dipenjara karena tuduhan pemberontakan.

Menurut Yinke Deng, Perdana Menteri Qin Hui memiliki andil dalam penangkapan Yue Fei. Qin Hui menghasut Zhang Jun dan Moqi Xie untuk membuat kesaksian palsu demi menjebak Yue Fei. Hidup sang jenderal pun berakhir tragis. Ia bersama putranya, Yue Yun, dan anak buahnya, Zhang Xian, dibunuh pada 1142. Pada tahun itu pula kaisar Song menandatangani perjanjian damai dengan Dinasti Jin yang dikenal dengan Kesepakatan Damai Shaoxing.

Dua puluh tahun kemudian, pada 1162 kaisar baru Song Selatan, Xiao Zong, merehabilitasi Yue Fei. Kaisar juga memerintahkan pembangunan makam dan kuil di Hangzhou sebagai bentuk penghormatan kepada sang jenderal perang. Kuil itu hingga kini masih berdiri. Selain terdapat makam Yue Fei, di kompleks itu juga terdapat patung besi Qin Hui dan istrinya yang tengah berlutut memohon ampunan kepada pria yang mereka bunuh.

Sementara itu, untuk melampiaskan kemarahan kepada Qin Hui dan istrinya, rakyat membuat dua batang roti yang digandeng lalu digoreng dan dimakan. Makanan itu kemudian dikenal dengan nama you tiao atau cah kwe.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan Cah kwe, Dinasti song, kuliner, tionghoa
Admin 16 November 2022 16 November 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Waduh! Peserta BPJS Kesehatan di Natuna Melebihi Jumlah Penduduk
Artikel Selanjutnya Gubernur Kepri Beri Sinyal BUMD Kelola Taman Gurindam 12 Tanjungpinang

APA YANG BARU?

Lonjakan Kebakaran Hutan di Tanjungpinang Saat Musim Kemarau
Artikel 5 jam lalu 75 disimak
Antara Penurunan Angka, Perubahan Instrumen, dan Tantangan Adaptasi Kebijakan Literasi
In Depth 5 jam lalu 67 disimak
Pemko Batam Prioritaskan Pelebaran Jalan Jembatan dan Pembangunan SMK di Bengkong
Artikel 5 jam lalu 67 disimak
Perdagangan Luar Negeri Batam Awal 2026: Ekspor Menurun, Impor Naik
Artikel 5 jam lalu 71 disimak
Bocah SD di Batam Jadi Korban Tabrak Lari, Pengemudi Ditetapkan Tersangka
Artikel 6 jam lalu 71 disimak

POPULER PEKAN INI

Mulai Hari Jum’at (3/04/2026) Jalan Gajah Mada (Area Hotel Vista) Ditutup Sementara
Artikel 3 hari lalu 362 disimak
Rencana Batas Belanja Pegawai 30% pada APBD 2027, Nasib PPPK Bintan Terancam
Artikel 6 hari lalu 282 disimak
Kemarau Panjang, Pemko Batam dan Warga Gelar Salat Istisqa
Artikel 6 hari lalu 263 disimak
Tidak Ada “Kota Hantu” di Singapura
Catatan Netizen 6 hari lalu 260 disimak
Lonjakan Arus Balik di Pelabuhan Sekupang
Artikel 6 hari lalu 254 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?