Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    THM di Batam Digerebek Bareskrim! 32 Orang Diamankan di Tengah Dugaan Pesta Narkoba
    18 jam lalu
    KSOP Larang Pompong Bersandar di Pelabuhan Sri Bintan Pura
    1 hari lalu
    Tim Gabungan Gagalkan Penyelundupan 1,3 Ton Ketamin di Perairan Bintan
    2 hari lalu
    DPR Minta Pemerintah Evaluasi Total Perizinan Ruang Laut di Batam
    2 hari lalu
    Diduga Terjadi Pengavelingan Laut di Teluk Tering, BP Batam Verifikasi Alokasi Lahan 28 Perusahaan
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Waduk Nongsa Menyusut 2,5 Meter, BP Batam Siapkan Langkah Darurat
    22 jam lalu
    Krisis Tenaga Pendidik di Batam
    22 jam lalu
    14
    Tanjungpinang Riau – Agustus 1928 & 1938 (Bagian 1)
    1 hari lalu
    1.225 Pelari Padati Dekranasda Fun & Run 2026 di Tanjungpinang
    1 hari lalu
    Persib Bandung Jumpa Persebaya Surabaya di Final Piala Presiden 2026
    6 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pengeluaran Warga Batam Melonjak Rp3,12 Juta per Bulan/ Kapita
    3 minggu lalu
    Tun Abdul Jamal (Temenggung Johor Riau 1757 – 1802)
    4 minggu lalu
    Realisasi Belanja Pemko Batam per Juli 2026
    1 bulan lalu
    Lebah Bergantung (Lebah Bergayut)
    1 bulan lalu
    Pulau Los, Tanjungpinang
    1 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    2 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    2 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    2 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    6 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    6 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Alex Maramis: Dari Advokat Partikelir Menjadi Menteri Keuangan

Editor Admin 4 tahun lalu 650 disimak

SEHARI setelah proklamasi, dipilihlah pimpinan-pimpinan negara melalui sidang PPKI. Sukarno-Hatta menjadi nahkoda negara yang baru lahir tersebut sebagai presiden dan wakil presiden. Konstitusi dan wilayah negara pun akhirnya disahkan.

Keesokan harinya, kabinet pertama pun lahir. Beberapa nama populer yang terpilih sebagai menteri di antaranya Mr. Ahmad Subardjo sebagai menteri luar negeri, Mr. Supomo, sang perancang draft UUD, sebagai menteri kehakiman, Amir Sjarifuddin menjadi menteri penerangan, dan beberapa tokoh lainnya juga turut terlibat membantu kabinet perdana republik.

Alex Maramis turut mendapatkan peran penting sebagai salah satu dari lima orang menteri negara. “…ia diangkat sebagai wakil menteri keuangan,” tulis Parengkuan

Dua minggu kemudian, Alex Maramis tiba-tiba diangkat menjadi menteri keuangan de facto (beslit surat pengangkatan AA Alex Maramis sebagai Wakil Menteri Keuangan, 19 Agustus 1945, ditandatangani oleh Presiden Sukarno). Ia menggantikan Dr. Samsi Sastrowidagdo yang sebelumnya terpilih namun ternyata tidak dapat melaksanakan tugasnya dan tak sempat menyusun organisasi.

Dapat dibayangkan bagaimana harus mengurusi kondisi keuangan negara yang baru saja lahir itu dan ekonomi masyarakat yang sedang berada dalam kondisi darurat perang. Indonesia memang kaya sumber daya alamnya, tapi bagaimana mungkin mengelolanya dengan baik jika administrasi pemerintah dan sistem moneternya amburadul?

Ditambah lagi ancaman Belanda yang ngebet untuk segera berkuasa kembali dengan memboncengi sang pemenang perang dunia kedua: tentara sekutu.

Alex Maramis pun langsung tancap gas.

ORI, Mata Uang Simbol Perjuangan Rakyat Indonesia

Carut marutnya ekonomi Indonesia saat itu menjadi tantangan utama bagi Alex Maramis. Begitu rumitnya mengatur perekonomian negara ketika pada saat yang sama berlaku beberapa mata uang secara sekaligus.

Rakyat Indonesia sudah terlanjur akrab dengan mata uang Belanda dan juga mata uang Jepang, sementara uang Jepang tersebut tidak memiliki dukungan devisa sama sekali.

Langkah radikal harus ditempuh.

Untuk segera dapat membuat pijakan awal bagi penyehatan sistem moneter indonesia, Alex Maramis mengeluarkan maklumat menteri keuangan yang berisi keputusan bahwa untuk sementara segala persoalan yang menyangkut urusan keuangan negara tetap berlangsung seperti biasa.

Apa yang pada jaman pendudukan Jepang berlaku seperti tagihan pajak, piutang negara, bahkan surat izin mengisap candu dan pemakaian garam istimewa, tetap diakui keabsahannya. Kebijakan perdana Alex Maramis itu ditandatanganinya pada 5 Oktober 1945 dan tercatat dalam Berita Republik Indonesia 1 Desember 1945, Tahun 1 No.2.

Tentu saja kebijakan menteri keuangan tersebut merupakan kebijakan yang harus dilihat sebagai keputusan darurat sesuai dengan kondisi saat itu. Adalah hal yang tak lumrah jika dalam satu negara berlaku beberapa alat pembayaran atau mata uang sekaligus.

Suara-suara yang meminta agar ada alat tukar yang baru yang berlaku di Indonesia memang juga sudah bermunculan. Erwin Kusuma, dalam bukunya Uang Indonesia sejarah dan Perkembangannya (2021) mencatat bahwa desakan-desakan agar pemerintah segera mencetak uang telah dilontarkan oleh beberapa pihak seperti Perserikatan Ahli-ahli Penilik dan Pemegang Buku di Bandung.

Mosi dari perserikatan tersebut dimuat dalam surat kabar Merdeka, 10 November 1945. pada 19 Desember 1945, surat kabar yang sama memberitakan ”…rakyat banyak bertanya kapankah pemerintah RI akan mengeluarkan uang kertasnya sendiri?”

Tak dapat ditunda lagi, penyeragaman mata uang harus dilakukan. Pemerintah harus segera mencetak uangnya sendiri.

Alex Maramis kemudian menginisiasi sebuah keputusan penting, yaitu memerintahkan dicetaknya Oeang Republik Indonesia atau ORI.

Uang tersebut dibuat dengan tujuan menggantikan mata uang lain yang sebelumnya digunakan rakyat Indonesia. Di samping itu Alex Maramis berpandangan bahwa, ” selain untuk bisa menutup kekurangan perbelanjaan dan mengendalikan jumlah uang yang beredar, mata uang republik juga dapat membuktikan kepada dunia luar serta kepada rakyat di dalam negeri bahwa pemerintah RI memang benar-benar berdaulat.” catat Erwien Kusuma
Tak berselang lama, dibentuklah Panitia Penyelenggaraan Percetakan Uang Kertas RI.

Anggotanya terdiri dari pejabat-pejabat Departemen Keuangan, Bank Rakyat Indonesia, dan beberapa anggota Serikat Buruh Percetakan G. Kolff & Co, yang bertugas untuk menertibkan usaha pemerintah RI dalam mengeluarkan ORI tersebut. (Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 3/RO tanggal 7 November 1945).

Selain sebagai alat tukar yang sah, ORI juga memiliki makna lain. ORI adalah alat yang mempersatukan seluruh rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. ORI adalah alat perjuangan, demikian dikatakan oleh OeY Beng To, mantan direktur Bank Indonesia dalam bukunya Sejarah Kebijakan Moneter Indonesia Jilid 1 (1945-1958) (1991).

Dalam sejarah mata uang, ORI memiliki kesamaan nilainya dengan ”Continental Money”, atau yang juga biasa disebut dengan ”Greenbacks” yang dikeluarkan oleh negara-negara koloni di Amerika Serikat pada masa perang kemerdekaan mereka melawan kerajaan Inggris yang awalnya menjadi negara induk mereka

Mengutip Prof. JK. Galbraith dalam bukunya ” Money whence It came where it went” (1975) uang kertas yang dikeluarkan negara-negara bekas koloni itulah yang sesungguhnya membiayai revolusi Amerika. Pinjaman-pinjaman yang diperoleh dari luar negeri tidak banyak artinya.

Mengutip Prof. JK. Galbraith dalam bukunya ” Money whence It came where it went” (1975) uang kertas yang dikeluarkan negara-negara bekas koloni itulah yang sesungguhnya membiayai revolusi Amerika. Pinjaman-pinjaman yang diperoleh dari luar negeri tidak banyak artinya.

ORI memiliki makna yang sama dalam perjuangan rakyat Indonesia. ” ORI merupakan suatu ”instrument of revolution,” ungkap Oey Beng To.

ORI ditandatangani Alex Maramis dan mulai beredar pada 30 Oktober 1946. Dalam sambutan atas diterbitkannya ORI, dikutip dari Rupiah Di Tengah Rentang Sejarah terbitan Kementerian Keuangan (1991), Wakil Presiden Mohammad Hatta mengatakan bahwa dengan diterbitkannya ORI maka uang yang sah sebagai alat tukar adalah ORI. Uang Jepang tidak mendapat tempat lagi dalam transaksi di wilayah RI.

” … Beserta dengan uang Jepang itu ikut pula tidak berlaku uang de Javasche Bank. Dengan ini tutuplah suatu masa dalam sejarah perekonomian Republik Indonesia..” kata Mohammad Hatta.

Emisi pertama ORI terdiri dari pecahan bernilai 1,5, 10 dan 50 sen. Pecahan 1,5,10, dan 100 Rupiah kemudian menyusul diterbitkan. Kesemuanya ditandatangani Alex Maramis selaku Menteri Keuangan RI.

Wajah Presiden Sukarno menghiasi pecahan 1 sampai 10 Rupiah. Tujuannya untuk membesarkan hati rakyat serta mematahkan dominasi uang NICA yang sudah banyak menyebar di wilayah Indonesia.

Kondisi yang masih diliputi perang kemerdekaan menimbulkan kesukaran-kesukaran dalam penataan kebijakan moneter. Menyusutnya wilayah RI, akibat perjanjian Renville, yang hanya meliputi Jawa, Sumatra, dan Madura saja membuat ORI hanya diberlakukan di ketiga pulau tersebut saja

Bahkan ORI tak sempat beredar di Sumatra, karena kesulitan pengangkutan akibat perang.

Sebagai gantinya, ”di beberapa wilayah di Sumetra beredar uang yang dikenal dengan beberapa nama seperti Oeang Republik Propinsi Sumatera (ORIPS), Uang Republik Indonesia sumatera Utara (URISU) Uang Republik Indonesia Daerah Djambi (URIDJA), Uang Republik Indonesia Daerah Aceh (URIDA), dan Oeang Republik Indonesia Daerah Tapanoeli (ORITA),” tulis Oey Beng To.

Tentu saja hal itu dilakukan dengan seizin pemerintah RI.

Satu hal yang menarik adalah kenyataan bahwa sejak awal perencanaan, percetakan, dan peredarannya yang berlangsung dalam mencekamnya suasana perang kemerdekaan, dibawah desing peluru dan ledakan bom serta bau menyengat mesiu, menjadikan ORI mendapat tempat istimewa di hati rakyat indonesia.

Rosihan Anwar, dikutip oleh Erwin Kusuma, mengatakan bahwa keluarnya ORI yang oleh masyarakat disebut sebagai ”uang putih”, untuk membedakannya dengan uang NICA yang disebut ”uang merah, cukup menggetarkan masyarakat Jakarta.

Dikutip dari Rupiah Di Tengah Rentang Sejarah, disebutkan bahwa pertarungan kewibawaan dua mata uang dari dua pihak yang berseteru, RI dengan Belanda, memaksa setiap orang yang berada di wilayah yang diduduki Belanda pasca Renville untuk memilih: menolak atau menerima.

Uang NICA atau ORI. Kerap kali berujung dengan insiden penganiayaan terhadap mereka yang pro-RI akibat mereka menolak uang NICA. ORI benar-benar menjadi simbol perjuangan.

Suasana revolusioner dalam upaya mempertahankan eksistensi negara dari ancaman kolonial membuat kondisi politik negara menjadi jatuh-bangun. Ibukota pindah ke Yogyakarta.

Kabinet pemerintah bergonta-ganti, sebagai konsekuensi merespon situasi. Republik indonesia berjibaku mempertahankan kemerdekaan melalui diplomasi dan angkat senjata.

Pucuk dicinta ulam tiba. Kemerdekaan lengkap diraih secara de facto dan de jure melalui pengakuan kedaulatan 27 Desember 1949.
Tiga tahun lebih lima bulan setelah diterbitkan pertama kali, ORI kemudian ditarik kembali pada Maret 1950. Indonesia memasuki babak sejarah baru.

ORI kemudian tercatat dengan tinta emas dalam lembar awal sejarah Bangsa Indonesia sebagai salah satu bukti eksistensi republik.

Dari Menteri Keuangan Menjadi diplomat.
Alex Maramis selesai menjabat sebagai menteri keuangan pada 14 November 1945. Ia digantikan oleh Mr. Sunario Kolopaking, di bawah pemerintahan kabinet Sjahrir I yang berlangsung antara 14 November 1945 hingga 12 maret 1946. Selama itu ia tidak memegang jabatan di kabinet.

Alex Maramis kembali menjadi menteri keuangan sebanyak tiga kali dalam kabinet Amir Sjarifudin I, kabinet Amir Sjarifudin II, dan kabinet Hatta I.

Saat Belanda mengadakan Agresi Militer II, Alex Maramis sedang berada di luar negeri sebagai duta istimewa dengan kuasa penuh. Agresi tersebut membuat pemerintah RI tidak berfungsi akibat Presiden Sukarno dan beberapa pemimpin lainnya ditangkap Belanda.

Pemerintah darurat Republik Indonesia (PDRI) pun berdiri, sesuai mandat yang sebelumnya diberikan presiden Sukarno kepada Sjafruddin Prawiranegara yang berada di Bukit Tinggi, Sumatera Barat (termuat dalam https://jikn.go.id/index.php /mandat-presiden-ri-kepada-mr-sjafrudin-prawiranegara, juga dalam katalog Setneg RI 1945-1949, No. 985, di Arsip Nasional Republik Indonesia)

Alex Maramis dalam kondisi darurat itu kemudian menjabat sebagai menteri luar negeri. Karir sebagai diplomat dimulai. Arena perjuangan yang baru pun dimasukinya dengan mantap.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan Advokat, Alex Maramis, Kabinet pertama, menkeu, Tokoh
Admin 27 Oktober 2022 27 Oktober 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Tekan Stunting, Tiap Pekan Pemkab Natuna Beri Siswi SMP dan SMA Vitamin
Artikel Selanjutnya Barcelona Turun Kasta, Ini 12 Tim Lolos ke 16 Besar Liga Champions

APA YANG BARU?

THM di Batam Digerebek Bareskrim! 32 Orang Diamankan di Tengah Dugaan Pesta Narkoba
Artikel 18 jam lalu 111 disimak
Waduk Nongsa Menyusut 2,5 Meter, BP Batam Siapkan Langkah Darurat
Lingkungan 22 jam lalu 152 disimak
Krisis Tenaga Pendidik di Batam
Pendidikan 22 jam lalu 150 disimak
Tanjungpinang Riau – Agustus 1928 & 1938 (Bagian 1)
Histori 1 hari lalu 207 disimak
KSOP Larang Pompong Bersandar di Pelabuhan Sri Bintan Pura
Artikel 1 hari lalu 179 disimak

POPULER PEKAN INI

Cuaca Panas Masih Terasa di Batam, Waspadai Hujan Angin dan Petir
Artikel 6 hari lalu 498 disimak
Amsakar Lantik 2 Pejabat Eselon II, Geser Ratusan ASN di “Babak Pertama” Rotasi 2026
Artikel 6 hari lalu 477 disimak
Persib Bandung Jumpa Persebaya Surabaya di Final Piala Presiden 2026
Sports 6 hari lalu 451 disimak
BP Batam Dukung Pemerintah Pusat: Penataan Lahan & Laut Harus Ada Kepastian Hukum
Artikel 5 hari lalu 389 disimak
Pemko Batam Segera Lakukan Perombakan Struktur OPD Terbaru
Artikel 7 hari lalu 373 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?