ANCAMAN bencana hidrometeorologi kembali membayangi wilayah Indonesia jelang penutup tahun. Pergeseran pola iklim tercatat memicu kemunduran awal musim hujan di sebagian besar wilayah daratan, yang memicu perlunya respons cepat dari berbagai sektor guna menekan potensi kerugian.
BMKG mencatat bahwa awal musim hujan tahun ini bergeser lebih lambat dibanding rata-rata klimatologinya di 529 zona musim (ZOM) atau sekitar 61,08 persen daratan Indonesia. Meski demikian, transisi musim tetap membawa risiko tinggi. Pada November mendatang, sebanyak 185 ZOM (24,66 persen daratan) diprakirakan mulai diguyur hujan, diikuti 266 ZOM (17,3 persen daratan) pada Desember.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan bahwa fenomena ini perlu diantisipasi secara serius oleh pemerintah daerah dan masyarakat luas melalui langkah-langkah konkret di pelbagai lini. Di sektor pertanian, para petani diimbau mengadaptasi jadwal tanam dengan memilih varietas umur pendek untuk menyesuaikan durasi ketersediaan air.
Sementara itu pada sektor sumber daya air dan energi, pengelola waduk serta sistem drainase perkotaan disarankan mengoptimalkan kapasitas tampung guna mengantisipasi luapan air mendadak. Di sisi lain, sektor kesehatan juga diminta melakukan antisipasi dini terhadap kenaikan risiko penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) di masa peralihan musim.
Peringatan ini berdasar pada rekam jejak kebencanaan masa lalu. Pada periode November–Desember tahun lalu, intensitas hujan yang sangat deras—yang turut diperparah oleh Siklon Senyar—terbukti memicu banjir bandang dan tanah longsor berskala besar di Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh. Tanpa langkah mitigasi terpadu sejak dini, ancaman banjir, tanah longsor, hingga angin puting beliung berpotensi mengulang skenario bencana serupa di berbagai titik rawan.
(ham/ant)


