DI tengah hiruk-pikuk peringatan Hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2026), kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, menyaksikan sebuah pemandangan yang tak biasa. Ratusan lengan terangkat serempak ke udara, mengacungkan tiga jari tengah ke langit. Diiringi lantunan lagu-lagu perjuangan dan bentangan spanduk, gestur tersebut dipelopori oleh BEM Universitas Indonesia (UI) bersama Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR).
AKSI ini tidak sekadar unjuk rasa biasa, melainkan panggung adopsi simbol perlawanan global: three-finger salute—gestur yang berakar dari fiksi distopia THE HUNGER GAMES dan kini resmi diadopsi oleh gerakan prodemokrasi Indonesia.
Salam tiga jari berawal dari imajinasi penulis Suzanne Collins dalam novel dan adaptasi film THE HUNGER GAMES, sebuah kisah perjuangan melawan rezim otoriter. Dalam cerita aslinya, salam dilakukan dengan menempelkan tiga jari tengah tangan kiri ke bibir sebelum diangkat ke udara—sebuah adegan ikonik yang bermula saat warga Distrik 12 memberi hormat kepada Katniss Everdeen yang menggantikan adiknya di turnamen maut. Pada sekuelnya, Catching Fire, gestur ini berevolusi menjadi lambang revolusi.
Meski bentuknya menyerupai tanda Scout yang dikenal sejak 1908 (walau Collins tak pernah menyebutnya sebagai inspirasi), gestur fiksi ini melompati layar kaca menuju dunia nyata:
- Thailand (Mei & November 2014, 2020): Pertama kali digunakan sebagai penolakan tanpa suara pascakudeta militer Thailand Mei 2014. Militer Thailand bahkan mengancam akan menangkap kerumunan yang enggan menurunkan tangan. Pada 20 November 2014, bertepatan dengan pemutaran THE HUNGER GAMES MOCKINGJAY PART 1, polisi menahan tiga mahasiswa di Bangkok yang mengacungkan salam ini di sekitar bioskop. Gestur ini kembali bergema pada gelombang protes 2020.
- Hong Kong (2014, 2019–2020): Diadopsi oleh para demonstran dalam Gerakan Payung 2014 dan dihidupkan kembali dalam unjuk rasa 2019–2020.
- Myanmar (Februari 2021): Pasca-kudeta militer 1 Februari 2021, salam ini menjadi pemandangan umum. Reuters mencatat puluhan ribu pengunjuk rasa mengacungkan salam tiga jari di dekat Pagoda Sule, Yangon, pada 10 Februari 2021. Sebagian penentang kudeta terhubung secara daring melalui tagar
#MilkTeaAlliance, jejaring yang mempertemukan aktivis Thailand dan Hong Kong.
Manifestasi di Indonesia: Lima Tuntutan dan Solidaritas Lintas Elemen
DI Jakarta, BEM UI menyikapi salam ini bukan sekadar gaya, melainkan sebagai bahasa universal gerakan sosial yang mewarisi prinsip Revolusi Prancis: liberté (kebebasan), égalités (kesetaraan), dan fraternité (persaudaraan)—penafsiran yang sama seperti yang pernah digaungkan demonstran Thailand pada 2014. Simbol ini dipakai untuk menyatukan mereka yang menolak represi dan merindukan ruang demokrasi yang terbuka.
Melalui Gerakan Indonesia Sadar, BEM UI dan Komite SADAR menyuarakan kritik terhadap dua tahun masa pemerintahan serta berbagai persoalan nasional. Aksi ini melibatkan mahasiswa, buruh, petani, hingga masyarakat umum untuk mengawal lima tuntutan utama:
- Penetapan status bencana nasional.
- Evaluasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
- Penurunan biaya pendidikan.
- Reformasi hukum.
- Perlindungan hak asasi manusia (HAM) serta demokrasi.
Perjalanan massa menuju Bundaran HI tak sepenuhnya mulus; rombongan mahasiswa sempat tertahan barikade kepolisian di Jalan Jenderal Sudirman sebelum akhirnya berhasil mencapai titik aksi.
Ketika Figuran Layar Kaca dan Figur Publik Turun ke Jalan
DAYA tarik gerakan ini turut menggerakkan barisan figur publik dan selebriti untuk berbaur langsung di lapangan maupun menyuarakan dukungan di media sosial:
- Zaskia Adya Mecca: Turun langsung membawa ambulans, perlengkapan medis, serta bantuan makanan dan minuman bersama aliansi ibu-ibu. Zaskia yang baru kembali dari Kalimantan untuk menyalurkan bantuan korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengaku membawa amanah warga setempat. “Karena aku gelisah, aku memilih untuk enggak diam, aku harus turun,” ungkapnya. Ini merupakan aksi keduanya di Bundaran HI setelah sebelumnya hadir membawa tiga ambulans pada aksi mahasiswa 12 Juni 2026.
- Hamidah Rachmayanti: Hadir bersama suaminya mendistribusikan bantuan dari Aliansi Ibu Indonesia dan menuliskan pesan di Threads: “Alam pun mendukung perjuangan siang ini.”
- Wanda Hamidah & Chika Fawzi: Terlihat ikut bersuara dan turun langsung di lokasi unjuk rasa.
- Reza Rahadian & Eva Celia: Terlihat berbaur di tengah massa aksi berdasarkan unggahan warga di media sosial.
- Andovi da Lopez & Shahnaz Soehartono: Andovi membagikan video langsung dari Bundaran HI pada pukul 17.54 WIB, sementara Shahnaz Soehartono (host Insert) turut mengunggah video dari dekat kerumunan massa.
(ham/Kapanlagi)


