BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan wilayah Batam dan sekitarnya sama sekali tidak tersentuh sebaran abu vulkanik akibat letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Kondisi udara serta ruang angkasa di Kepulauan Riau dipastikan berada dalam jalur aman.
Forecaster BMKG Batam, Riza Juniarti, menegaskan bahwa pemantauan citra satelit memperlihatkan posisi Batam tidak dilintasi sebaran abu dari gunung yang aktif meluncurkan material vulkanik sejak Jumat (4/9) tersebut.
“Berdasarkan citra sebaran abu vulkanik, wilayah Batam dan sekitarnya tidak terdampak adanya erupsi Gunung Krakatau,” kata Riza.
Kepastian ini sekaligus meluruskan penyebab terjadinya gangguan penerbangan di Bandara Internasional Hang Nadim Batam pada Minggu (6/9/2026). BMKG menegaskan bahwa pembatalan rute bukan dipicu oleh kondisi cuaca atau abu vulkanik di langit Batam, melainkan lumpuhnya Bandara Soekarno-Hatta yang terdampak langsung oleh erupsi.
Dampak domino penutupan bandara tujuan tersebut membuat sekitar 10 dari 15 penerbangan rute Batam–Jakarta dibatalkan, yang menyebabkan sekitar 2.000 penumpang batal berangkat atau harus dijadwalkan ulang. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Direktur Utama PT Bandara Internasional Batam (BIB), Annang Setia Budhi.
Aktivitas Bandara Hang Nadim Tetap Normal
KONDISI operasional take off maupun landing di Bandara Hang Nadim sendiri berjalan tanpa kendala teknis akibat cuaca lokal. Jarak pandang (visibility) terpantau berada di rentang 5.000 hingga 9.000 meter, angka yang sangat aman untuk kriteria navigasi penerbangan.
Adapun kabut asap yang terlihat di wilayah Kepri murni berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kiriman wilayah Sumatra, Riau, dan Kalimantan. Kendati demikian, konsentrasinya tercatat melandai dan jauh lebih tipis dibandingkan hari sebelumnya, dengan pergerakan angin berhembus menuju barat laut dan utara.
(dha)


