“Pada bulan Juni 1887, letnan Asworth yang berada di Singapura, akhirnya mengirimkan dokumen foto-foto yang diambil pada tahun 1873 ke British Museum dan Bataviaasch Genootschap di Batavia untuk diteliti lebih lanjut.”
…
“Di banyak bahasa di Nusantara, termasuk karena pengaruh Hindu, orang sering menyebut “kaki” seseorang sebagai bentuk penghormatan. Bukan menyebut namanya langsung.” (J.L.A. Brandes, 1887)
Oleh: Bintoro Suryo
INFORMASI tentang situs sejarah ini pertama kali disampaikan dalam forum ilmiah pada tahun 1873 oleh Karel Frederik (K.F.) Holle di Batavia Genootschap. Sebuah perkumpulan masyarakat ilmiah dan peneliti yang berpusat di Batavia.
Holle diketahui merupakan seorang pengusaha sekaligus penasihat pemerintah kolonial Hindia Belanda. Ia memiliki minat yang besar terhadap bahasa dan sastra di Indonesia.
Berdasarkan informasi dari Holle, terdapat sebuah inkripsi kuno yang ditemukan oleh dua peneliti muda dari Singapura, Letnan Asworth dan Skinner di sebuah tebing batu granit di pulau Karimun pada 19 Juli 1873.
Lokasinya berada di sekitar pantai Pasir Panjang Meral, Ukuran inkripsi yang diperkirakan telah berusia tua itu sekitar 93 cm x 137. Tulisan prasastinya terukir di tebing batu granit pada lokasinya yang langsung berhadapan dengan laut.

Awalnya, Holle mendapatkan salinan sketsa inkripsi tersebut dari letnan Asworth yang berusaha diteliti dan diterjemahkan. Namun hingga bertahun-tahun, sketsa inkripsi salin Asworth tersebut gagal diterjemahkan.

Pada bulan Juni 1887, letnan Asworth yang berada di Singapura, akhirnya mengirimkan dokumen foto-foto yang diambil pada tahun 1873 ke British Museum dan Bataviaasch Genootschap di Batavia untuk diteliti lebih lanjut.


Foto sosok yang diduga Letnan Ashworth berada di salah satu foto yang diabadikan, tepat di atas Batu Prasasti Pasir Panjang, 1873. Foto dengan nuansa asli hitam putih (kanan) dan foto repro dengan pewarnaan ulang (kiri).
Sketsa tersebut dikirimkan melalui Natalan, Konsul Jenderal Belanda yang berada di Singapura dan diterima JA. Brandes, seorang Filologi (ahli bahasa kuno) dan leksiografer (penyusun kamus bahasa langka).



Foto-foto lokasi penemuan prasasti di Pasir Panjang Karimun pada tahun 1873.
Tanggal 6 Oktober 1887, Jan Laurens Andries Brandes menyampaikan hasil pandangan dan penelitiannya terhadap dokumen foto yang dikirimkan tersebut.

Berikut isi surat Brandes seperti disalin dari Notulen Van de Algemen en Bestuursvergaderingen Van Het Batavia Genotscap Van Kunsten en Wetenschappen – Deel XXV 1887.

Surat dari Konsul Jenderal Belanda di Singapura
Tanggal: 6 Oktober 1887, No. 845
Lampiran: Foto inskripsi dari Kepulauan Karimun
Juga disertakan catatan dari Bapak Dr. J. L. A. Brandes yang isinya:
Kepada Bapak Skinner dan Bapak Ashworth dari Singapura, sebagaimana disebut. Kami sampaikan terima kasih karena merekalah
yang membuat inskripsi di Kepulauan Karimun (Pasir Panjang) bisa diketahui.
Pada 1873 dan 1874, pimpinan perkumpulan kami atas saran dari anggota kehormatan kami, K. F. Holle, sudah mencoba mendapatkan salinan atau cetakan dari inskripsi ini.
Upaya itu tidak berhasil. Hasil yang dibuat dengan bantuan Residen Riau saat itu
tidak cukup jelas untuk bisa membaca atau menafsirkan inskripsinya.
Foto yang kami terima sekarang jauh lebih baik.
Dari foto itu terlihat garis-garis hurufnya sengaja ditebalkan dengan tinta di atas cetakannya. Memang, masih ada beberapa bagian yang bisa dibuat lebih teliti oleh ahli tulisan. Tapi secara umum foto ini sudah cukup untuk memastikan bentuk hurufnya.
Meski begitu, untuk kepastian penuh, sebaiknya kita tetap minta cetakan aslinya. Ini penting untuk perbandingan di masa depan dengan inskripsi lain yang memakai jenis huruf sama,
agar kita bisa mempelajari bentuk hurufnya sampai detail terkecil.
Tentang inskripsinya:
Inskripsi Pasir Panjang (Kepulauan Karimun) ditulis dengan huruf Nagari berukuran besar.
Totalnya hanya 17 huruf dalam 3 baris, dengan ukuran sekitar 30 cm tinggi dan 60 cm lebar.
Usianya sulit dipastikan. Tulisan ini memang agak tua, tapi saya tidak cukup ahli dalam sejarah huruf Nagari untuk menilai bentuk-bentuk khususnya. Jumlah hurufnya juga sedikit, dan huruf-huruf yang biasanya paling berubah bentuk justru tidak ada di sini.
Beberapa ciri khasnya:
- Garis datar pada huruf sa masih miring ke sudut.
- Garis tengah huruf a tertutup di atas.
Huruf ba dan da bentuknya hampir sama seperti zaman dulu. - Pada huruf ta, tarikan ke bawah di atas lengkung bawah juga menjorok ke atas di sisi kanan.
- Tanda yang di Nagari modern ada di atas huruf, di sini masih berupa garis kecil di bagian depan atas huruf.
- Huruf na juga unik: terdiri dari 2 garis ditambah garis atas dan belakang,
yang bawah mendatar dan yang satunya miring.
Di akhir inskripsi tidak ada tanda visarga.
Tapi di bawah sisi kiri huruf terakhir ada gambar kecil berbentuk bagian atas simbol “Timbangan” . Mungkin itu sebagai pengganti visarga.
Dari segi ejaan, kata yanlra dalam golayantrita ditulis dengan n lingual, bukan n dental seperti penulisan umumnya.
Catatan:
Visarga adalah tanda diakritik atau lambang bunyi dalam aksara Dewanagari (ः) yang melambangkan bunyi frikatif glotal tak bersuara (mirip bunyi “h”) pada akhir suku kata dalam tata bahasa Sanskerta.

Bunyi inskripsinya: “Kaki Yang Mulia dari Gautama Yang Mulia, penganut Mahayana, pemilik sebuah armilarium.”
Penjelasan:
Kata sri dalam bahasa Sanskerta artinya “kemuliaan” dan “keagungan”.
Umat Hindu menggunakannya sebagai gelar penghormatan di depan nama orang penting, terutama raja dan tokoh agama.
Di banyak bahasa di Nusantara, termasuk karena pengaruh Hindu, orang sering menyebut “kaki” seseorang sebagai bentuk penghormatan. Bukan menyebut namanya langsung.
Contoh: “Narayana Yang Mulia telah bersabda”,
secara harfiah “oleh kaki Narayana Yang Mulia telah dikatakan”.
Begitu juga di sini: “kaki Gautama Yang Mulia”.
Di Jawa ada sebutan sinuhun, di Melayu ada ke bawah duli dan paduka, misalnya paduka sang maharaja.
Gautama yang disebut di sini bukan Sang Buddha, melainkan orang lain yang kebetulan bernama sama.
Disebutkan juga bahwa Gautama memiliki golayantra. Golayantra adalah istilah Sanskerta untuk armillarium – alat astronomi
berupa rangkaian cincin yang dipakai untuk mengamati bintang.
Bentuknya bisa berbeda-beda di tiap zaman.
Penjelasan tentang golayantra versi Hindu bisa dibaca di esai Colebrooke “On the Indian and Arabian divisions of the Zodiac” Memiliki alat seperti ini bahkan sampai sekarang masih dianggap penting.
Gautama adalah seorang mahayadika, yaitu penganut atau biksu Mahayana. Jadi agamanya Buddha aliran Utara, berbeda dengan Hinayana aliran Selatan dari Srilanka.
Dari bukti-bukti yang ada sejauh ini, Buddhisme di Nusantara memang banyak dipengaruhi aliran Mahayana. Hal ini juga sudah pernah saya bahas di tempat lain.
Lain halnya dengan inskripsi Mahayana
dari Kepulauan Karimun yang memakai huruf Nagari. Hal ini mungkin memberi petunjuk tentang usia inskripsi tersebut.
Sebab huruf Nagari memang bukan asli dari Nusantara, dan tampaknya sebagian besar inskripsi Nagari yang ditemukan di Nusantara,
sekitar selusin, atau sedikit lebih banyak dari yang pernah saya sebutkan di Tijdschr. Ind. T. L. en Vk., XXXI, 243, tidak lebih tua dari abad ke-8 Saka.
Dari inskripsi-inskripsi itu ada beberapa yang menurut saya jenis tulisannya agak lebih modern. Iskripsi dari Kepulauan Karimun termasuk di dalamnya.
Namun saya menduga perbedaan waktunya tidak terlalu besar. Dengan alasan ini, mungkin inskripsi tentang ahli astronomi Gautama
bisa diperkirakan berasal dari abad ke-9, atau mungkin abad ke-10 Masehi.
Sekretaris menyampaikan bahwa isi nota ini sudah diberitahukan kepada Konsul Jenderal,
dan kepadanya juga sudah disampaikan terima kasih dari Perkumpulan atas bantuan baiknya dalam hal ini.
HASIL transliterasi prasasti ini berdasarkan pembacaan Brandes yaitu ”mahayanika golayantritasri gautamasripada”.
Mengandung arti: “Pemujaan kepada Sang Buddha melalui Tapak KakiNya”
Menurut penelitian Brandes, prasasti itu diperkirakan telah ada di wilayah Pasir Panjang, Karimun, sejak abad 7 – 8.
Jejak Tapak Kaki & Sumur Batu di Tebing Granit
Di dekat tebing tempat tiga baris teks Sansekerta dipahat, terdapat formasi cerukan pada batu granit yang menyerupai bentuk cetakan telapak kaki manusia dalam ukuran yang sangat besar (raksasa). Di sekitarnya juga terdapat sebuah sumur batu berisi air.


Brandes juga berpendapat bahwa jejak kaki yang terletak di bawah sumur batu itu bukani jejak kaki dari Gautama sang biksu. Namun merupakan sebuah simbol penghormatan terhadap Gautama.

Jejak kaki tersebut memiliki makna serta hubungan dimana jejak kaki tersebut dibuat lebih rendah dari prasasti sebagai tanda Hormat.
Bagi masyarakat penganut agama Buddha (khususnya sekte Mahayana) yang kemudian mensakralkan tempat ini, tapak besar tersebut menjadi penanda kaki Buddha Gautama.
Beberapa peneliti memperkirakan jejak kaki besar tersebut diukir di batuan granit sebagai bagian dari tulisan prasasti. Dari bentuk teksturnya, masyarakat setempat langsung mengenalinya sebagai sebuah jejak kaki.
DALAM legenda lokal di Karimun, ceruk berbentuk tapak kaki raksasa ini, dikaitkan dengan legenda Si Badang. Tokoh manusia perkasa bertubuh raksasa dalam folklor Melayu. Jejak batu bertapak di sini sering kali dianggap sebagai bekas pijakan kaki Si Badang saat ia melompat atau bertarung mempertahankan wilayah. Satu jejak tapak lagi menurut folklor Melayu berada di Singapura.
Makam tokoh si Badang dalam legenda Melayu ini, diyakini berada di pulau Buru. Sebuah ekspedisi pendokumentasian, sempat dilakukan pada masa setelah kemerdekaan RI.


(*)
Bersambung
Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com


