Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Awal Pekan, Harga Emas Antam dan UBS di Pegadaian Batam Turun
    19 jam lalu
    KSOP Batam Bantah Isu Tongkang Granit Terbalik karena Ditolak Singapura
    19 jam lalu
    Sensus Ekonomi 2026: BPS Batam Terjunkan 800 Petugas, Sisir 400 Ribu Keluarga dan Pelaku Usaha
    20 jam lalu
    Debarkasi Haji Batam Hampir Tuntas, 10.516 Jamaah Pulang, Tinggal Kloter 25 di Madinah
    1 hari lalu
    Tongkang Batu Granit Terbalik di Perairan Batu Ampar, Seluruh ABK Selamat
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Krisis Anggaran dan Infrastruktur, Kepri Mundur Jadi Tuan Rumah Porwil Sumatera 2027
    16 jam lalu
    Jadwal Lengkap 32 Besar Piala Dunia 2026, Banyak Partai Bigmatch
    1 hari lalu
    Piala Dunia 2026, Tuan Rumah Kanada Lolos ke Babak 16 Besar
    1 hari lalu
    32 Tim Lolos Babak Knok Out, Tim Eropa dan Afrika Dominasi
    2 hari lalu
    “Timah 55 Kaki di Bawah Singkep, Kebaikan Sultan Riau Lingga”
    2 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Mei 2026: Inflasi Sektor Informasi dan Komunikasi Karimun di Angka 0,1 Persen
    16 jam lalu
    Kancil/ Pelanduk (Tragulidae) di Kepulauan Riau
    3 hari lalu
    Data Volume Sampah di Kota Batam 2026
    3 hari lalu
    Statistika Harga Makanan dan Rokok Melonjak di Batam
    5 hari lalu
    Ikan Lepu (Lion Fish)
    6 hari lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    7 hari lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    1 minggu lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    2 minggu lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    4 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    5 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Catatan Netizen

Bunuh Diri Massal Pers Indonesia

Editor Admin 8 tahun lalu 2.1k disimak

 

Daftar Isi
Pertanyaan:Dengan latar belakang militer Anda, bagaimana menurut Anda soal dukungan Australia terhadap rencana AS membangun pelabuhan militer di PNG (Papua Nugini-red)? Haruskah Indonesia memberi perhatian khusus? Bagaimana pula tanggapan Anda soal rencana Australia memindahkan kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem?Prabowo:PNG sangat dekat dengan Australia secara tradisional. Jadi itu urusan Australia dan PNG dan AS. Saya tidak melihat itu menjadi masalah bagi Indonesia.Untuk pemindahan kedutaan, saya belum membaca soal keputusan Australia memindahkan kedutaannya ke Yerusalem. Kita sebagai pendukung Palestina, kita tentu punya pendapat sendiri, tapi Australia juga merupakan negara independen dan berdaulat, maka kita harus menghormati kedaulatan mereka.

Oleh : Hersubeno Arief

PILPRES 2019 membawa media dan dunia kewartawan di Indonesia memasuki sebuah episode terburuk sepanjang sejarah pasca Reformasi. Situasinya bahkan lebih buruk dibandingkan dengan era Orde Baru.

Kooptasi dan tekanan hukum oleh penguasa, sikap partisan para pemilik media dan wartawan, hilangnya idealisme di kalangan para pengelola media dan wartawan, membuat mereka tanpa sadar melakukan bunuh diri secara massal. Pers Indonesia memasuki masa gawat darurat!

Pada era Orde Baru media melakukan dengan terpaksa karena tekanan rezim. Kendati begitu dengan berbagai cara, media tetap melakukan perlawanan, tetap menjaga idealismenya. Saat ini banyak yang melakukan secara sukarela. Motifnya bermacam-macam. Menjadi bagian rezim dan menikmati rezeki kekuasaan, sekedar kepentingan bisnis, dan pragmatisme untuk mendapatkan remah-remah dari para penguasa.

Para wartawan, redaktur, maupun pimpinan media yang masih berakal sehat, bersikap kritis harus mengalah kepada para pemilik media. Ini konskuensi dari media di era industri. Pers bukan lagi medan perjuangan.
Publik kehabisan akal, apatis, marah, dan menjadi kehilangan kepercayaan terhadap media-media di Indonesia. Di era kelimpahan informasi (Information abundance), dan menguatnya media sosial sebagai media alternatif, bila tidak segera berubah, media konvensional terancam ditinggalkan publik.

Ada memang yang tetap waras di tengah kegilaan massal itu. Namun mereka minoritas. Kebanyakan hanya media pinggiran dan bukan arus utama (mainstream). Media-media arus utama sebagian besar larut dalam sebuah “kejahatan besar” yang disebut sebagai framing (membingkai berita), atau di Indonesia dikenal dengan istilah “pemlintiran” dan “menggoreng isu.” Dua istilah terakhir ini bahkan jauh lebih jahat dari framing.

Framing dalam pengertian umum adalah praktik membingkai sebuah berita, sehingga informasi yang sampai kepada pembaca atau pemirsa berbeda dengan fakta sebenarnya. Framing biasanya dilakukan dengan cara mengutip atau mengambil gambar dari sudut (angle) tertentu, sehingga persepsi yang diterima publik menjadi berbeda. Cara ini dilakukan secara halus. Masih ada sentuhan “seninya.”

Sementara pemlintiran adalah niat jahat menjungkirbalikkan fakta dengan tujuan-tujuan tertentu. Caranya bermacam-macam. Biasanya sangat kasar dan menabrak semua kaidah jurnalistik dan akal sehat. Ada yang dengan sengaja mengutip pernyataan secara salah, mengajukan pertanyaan yang menjebak, mewawancarai nara sumber yang tidak tepat, dan berbagai teknik lainnya.

Praktik ini kemudian diikuti dengan teknik “menggoreng isu. Biasanya mereka bekerja sama dengan sejumlah politisi, atau tokoh yang ikut membesar-besarkan masalah dengan mengabaikan fakta.

Setelah itu, agar paket “penggorengan isu” menjadi lengkap, ada kelompok-kelompok masyarakat yang disiapkan untuk melakukan unjukrasa. Aksi mereka diliput secara besar-besaran dengan target memicu aksi serupa di tempat lain. Setelah itu sang tokoh yang menjadi sararan penggorengan dipaksa meminta maaf.

Ajaibnya setelah meminta maaf, isu ini kembali digoreng untuk menunjukkan bahwa tokoh ini tidak layak karena sering membuat kesalahan dan meminta maaf. Sikap luhur bersedia minta maaf, terlepas salah atau tidak, diplintir lagi untuk mendiskreditkan sebagai kelemahan sikap.

Salah atau sengaja salah mengutip?

Laman tirto.id edisi Sabtu (24/11) membuat liputan menarik seputar ‘kegilaan” media. Parahnya kesalahan itu juga terjadi tidak hanya pada media lokal, namun juga sejumlah media asing. Dalam sebuah artikel berjudul : “Pangkal Ucapan Prabowo Soal Kedubes Australia yang Keliru di Media,” diungkapkan betapa media keliru (sengaja?) mengutip pernyataan Prabowo.

Laman BBC Indonesia pada 22 November 2018 menurunkan laporan berjudul: “Prabowo: Pemindahan kedutaan Australia ke Yerussalem bukan masalah untuk Indonesia“.

Republika Online juga menurunkan laporan yang berjudul “Prabowo: Pemindahan Kedutaan Australia Bukan Masalah Bagi RI” pada Kamis 22 November 2018 pukul 22:19 WIB. Laman berita Viva News juga menurunkan artikel dengan judul hampir senada: “Prabowo Tak Masalah Kedutaan Australia Pindah ke Yerusalem” pada Jumat 23 November 2018 pukul 04:15 WIB.

Bukan hanya media online dalam negeri, pernyataan Prabowo juga disimpulkan secara keliru oleh situs berita luar negeri Sydney Morning Herald (SHM). Dalam artikel yang dimuat pada Kamis 22 November 2018 SHM menurunkan artikel berjudul: ”Indonesian Presidential Candidate Says Jerusalem Move No Problem yang dalam bahasa Indonesia berarti “Calon Presiden Indonesia Mengatakan Pemindahan ke Yerussalem Bukan Masalah.”

Kekeliruan dalam menyimpulkan pernyataan Prabowo bermula dari kesalahan mengutip pernyataan Prabowo. Dalam sesi wawancara dengan wartawan usai menjadi pembicara di acara Indonesia Economic Forum di Hotel Shangri-La, Jakarta pada 21 November 2018 lalu, Prabowo ditanyai dua buah pertanyaan dalam bahasa Inggris.

 

Pertanyaan:

Dengan latar belakang militer Anda, bagaimana menurut Anda soal dukungan Australia terhadap rencana AS membangun pelabuhan militer di PNG (Papua Nugini-red)? Haruskah Indonesia memberi perhatian khusus? Bagaimana pula tanggapan Anda soal rencana Australia memindahkan kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem?

Prabowo:

PNG sangat dekat dengan Australia secara tradisional. Jadi itu urusan Australia dan PNG dan AS. Saya tidak melihat itu menjadi masalah bagi Indonesia.
Untuk pemindahan kedutaan, saya belum membaca soal keputusan Australia memindahkan kedutaannya ke Yerusalem. Kita sebagai pendukung Palestina, kita tentu punya pendapat sendiri, tapi Australia juga merupakan negara independen dan berdaulat, maka kita harus menghormati kedaulatan mereka.

 

Kedua jawaban Prabowo ini kemudian dicampuradukkan. Jawaban atas pertanyaan tentang dukungan Australia terhadap rencana militer AS membuka pangkalan militer di PNG dengan pemindahan Kedubes Australia ke Jerusalem. Jadilah terkesan Prabowo mendukung Australia membuka Kedubes di Jerusalem.

Isu kemudian digoreng oleh para politisi dan media. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto membuat press rilis “PDIP: Pernyataan Prabowo Setuju Pemindahan Kedubes Australia ke Yerusalem, Ahistoris.”
Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi Politisi Demokrat yang pernah menjadi pendukung Prabowo dan sekarang membelot ke kubu Jokowi juga membuat press rilis yang disebar ke media.

Menurut TGB, pernyataan Prabowo itu menafikan jalinan sejarah perjuangan Palestina yang erat dengan perjuangan bangsa Indonesia.
“Ini bukan sekadar masalah kedaulatan suatu negara sahabat, tetapi ini isu kebangsaan dan keumatan yang selalu menjadi perhatian kita sebagai bangsa,” kata TGB.

Hampir semua politisi kubu pendukung inkumben, ramai-ramai mempersoalkan isu ini. Metro TV bahkan menjadikan isu ini sebagai sorotan khusus dalam Editorialnya. Di medsos ini juga digoreng habis oleh buzzer pendukung inkumben. Mereka meluncurkan tagar #PrabowoAntekZionis.

Para lawan Prabowo ini sangat tahu bahwa isu Palestina sangat sensitif bagi umat Islam, terutama di perkotaan. Sementara basis pemilih Prabowo di kalangan pemilih ini sangat kuat. Dampak pencampuran fakta dan opini ini bahkan sampai mempengaruhi pendukung Prabowo. FPI dan GNPF Ulama juga ikut mengecam dan mempertanyakan sikap Prabowo. Bisa disimpulkan pemlintiran dan penggorengan isu ini cukup berhasil.

Mengubah judul

Sejumlah media asing yang menyadari kekeliruannya langsung mengubah judul dan isi beritanya. BBC misalnya mengganti judul “Prabowo: Pemindahan kedutaan Australia ke Yerussalem bukan masalah untuk Indonesia” menjadi “Pemindahan kedutaan ke Yerusalem, Prabowo hormati kedaulatan Australia.”,

SMH yang semula menulis judul: ”Indonesian Presidential Candidate Says Jerusalem Move No Problem” diubah menjadi ”Presidential candidate says Indonesia should respect Australian sovereignty on embassy move”.

Bagaimana dengan media-media di Indonesia? Tak ada pengubahan judul. Benar mereka kemudian menampilkan versi lengkap wawancara Prabowo. Namun tidak ada revisi judul, apalagi permintaan maaf. Mereka malah terus menampilkan berita tanggapan yang salah dari sejumlah sumber.

Selain Viva, dan Republika sesungguhnya banyak media lain yang membuat berita yang salah tersebut. Jejak digitalnya bertebaran. Tinggal googling, dan kita akan menemukan fakta media melakuan kesalahan berjamah.

Untuk isu ini kita masih berbaik sangka, mungkin sebagian besar kesalahan terjadi karena pmahaman bahasa Inggris wartawan yang terbatas. Atau mereka cuma mengcopy-paste berita yang dibuat oleh seorang wartawan. Praktik ini sudah menjadi praktik yang “lazim” di kalangan wartawan. Sudah tahu sama tahu. Akibatnya ketika yang dipercaya membuat berita salah, maka semuanya menjadi salah.
Yang patut kita curigai adalah praktik penggorengannya. Jelas ada unsur kesengajaan. Sebab bukan hanya kali ini Prabowo menjadi korban pemlintiran dan penggorengan media.

Kasus “tampang boyolali, ” juga digoreng habis media dan kubu inkumben. Demikian pula soal pernyataan Prabowo yang menyatakan miris karena karir lulusan pelajar SLTA di Indonesia menjadi tukang ojek online.

Keprihatinan Prabowo terhadap masa depan anak muda Indonesia, dan keinginannya memperbaiki nasib anak bangsa, diplintir dan digoreng habis, sebagai penghinaan. Sejumlah pengemudi Ojol di berbagai kota dikerahkan untuk mendemo Prabowo.

Yang terbaru adalah pernyataan Prabowo yang kesulitan mengajukan kredit ke Bank Indonesia. Isu ini juga digoreng habis untuk menunjukkan kebodohan Prabowo. Padahal yang dimaksud adalah perbankan di Indonesia. Sebagai pengusaha besar multinasional sangat mustahil Prabowo tidak mengerti bahwa Bank Indonesia menangani regulasi perbankan, bukan memberi kredit.

Bukan hanya Prabowo yang menjadi korban pemlintiran dan penggorengan media. Nasib cawapres Sandiaga Uno juga tak kalah buruk. Sandi misalnya menjadi korban bully dan unjukrasa akibat melangkahi makam salah satu pendiri NU Kyai Bisri Syansuri.
Saat ini yang menjadi bola panas yang sedang digoreng media adalah tudingan korupsi terhadap koordinator juru bicara Prabowo-Sandi Dahnil Anhar Simanjuntak.

Praktik jahat semacam ini tak boleh terus dibiarkan. Media harus diperingatkan. Betapa bahayanya permainan mereka hanya untuk mendukung langgengnya sebuah kekuasaan.

Seperti pernyataan penulis terkenal asal Selandia Baru Lance Morcan yang perlu kembali dikutip, kooptasi media dampaknya sangat mengerikan. Kita sedang bersukacita sambil meracuni persediaan air bangsa. Dampak kerusakan akan menyeluruh, merusak semua sendi kehidupan bangsa Indonesia. Terlalu mahal. (end)

 

Sumber : hersubenoarief.com

 

Kaitan framing, goreng isu, Pers indonesia, top
Admin 26 November 2018 26 November 2018
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Tentang si Penulis Cerita Little House
Artikel Selanjutnya Mengenang Enid Blyton

APA YANG BARU?

Mei 2026: Inflasi Sektor Informasi dan Komunikasi Karimun di Angka 0,1 Persen
Statistik 16 jam lalu 135 disimak
Krisis Anggaran dan Infrastruktur, Kepri Mundur Jadi Tuan Rumah Porwil Sumatera 2027
Sports 16 jam lalu 147 disimak
Awal Pekan, Harga Emas Antam dan UBS di Pegadaian Batam Turun
Artikel 19 jam lalu 177 disimak
KSOP Batam Bantah Isu Tongkang Granit Terbalik karena Ditolak Singapura
Artikel 19 jam lalu 160 disimak
Sensus Ekonomi 2026: BPS Batam Terjunkan 800 Petugas, Sisir 400 Ribu Keluarga dan Pelaku Usaha
Artikel 20 jam lalu 176 disimak

POPULER PEKAN INI

Walikota Batam Enggan Jawab Saat Ditanya Ada Orasi Politik di Pawai MBG Siswa
Artikel 6 hari lalu 433 disimak
Akomodasi Keluhan Warga, Pemko Batam Alihkan Proyek TPS ke 140 Bin Kontainer
Lingkungan 3 hari lalu 429 disimak
Ikan Lepu (Lion Fish)
Rupa 6 hari lalu 375 disimak
Sah! Batam Punya Perda PSU, Pengembang Wajib Sediakan Jalan hingga TPS
Artikel 5 hari lalu 349 disimak
KPAI Sesalkan Pawai Dukungan MBG Melibatkan Anak Sekolah di Batam
Pendidikan 7 hari lalu 342 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?