Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Aniaya Seorang Buruh Bangunan, Dua Pelaku Diamankan Polsek Sagulung
    15 jam lalu
    KJRI Johor Bahru Pulangkan 87 WNI dan PMI ke Batam
    16 jam lalu
    Kualitas Udara Batam Memburuk Lagi
    16 jam lalu
    Prabowo Resmikan 6 Kodam Baru, Kepri Resmi Punya Kodam XXV/Sultan Mahmud Riayat Syah
    2 hari lalu
    Imbas Pelebaran Jalan Tengku Sulung, Pengendara Diarahkan Lewat Botania
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Kenalkan Sejarah dan Budaya di Ranah Digital
    16 jam lalu
    Polibatam Bawa 9 Inovasi Unggulan ke The Premier Manufacturing Indonesia Series 2026
    16 jam lalu
    Timnas Indonesia Raih Tropi Internasional Sepakbola, Setelah 35 Tahun Puasa Gelar
    2 hari lalu
    Lila di Hulu Sungai Bere & Makam Tua Di Pengujan
    3 hari lalu
    Singapura, & Hidup Bersama Kecerdasan Artifisal
    3 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pohon Belian: Raksasa Kayu Besi dan Jejak Sejarahnya di Pulau Batam
    1 minggu lalu
    Pelawan Merah: Pohon Eksotis yang Menjaga Hutan Kepulauan Riau
    1 minggu lalu
    Nazief Soesiladharma (Walikota Batam Ketiga)
    1 minggu lalu
    10
    Pulau Pandan, Karimun
    2 minggu lalu
    6
    Rumah Belah Bubung
    3 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    4 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    4 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    4 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    8 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    8 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Getirnya Perjalanan Tuba Menghapus Stigma 1965

Editor Admin 4 tahun lalu 781 disimak

SIANG itu, seperti biasa, kawasan Penjaringan riuh oleh gerak dan suara puluhan truk kontainer yang berlalu lalang. Sebagai kawasan niaga dan industri yang dekat dengan pelabuhan, wilayah di utara Jakarta ini memang nyaris selalu hidup. Kesibukan ini juga menjadi bagian keseharian masyarakat yang tinggal di kawasan padat di sekitar wilayah itu.

Di lorong-lorong permukiman padat itu terdapat potongan sejarah bangsa ini. Persis di samping Rumah Duka Bandengan, ada sebuah gang kecil dengan tembok-tembok di kedua sisi dipenuhi berbagai macam coretan, mulai dari pelajaran sekolah dasar hingga seruan nasionalisme, seperti teks Sumpah Pemuda.

Gang yang lebarnya hanya cukup untuk satu sepeda motor ini merupakan jalan menuju rumah seorang pria penyintas peristiwa 1965. Pria bernama Tuba bin Abdurrahim ini pernah menjalani hukuman penjara selama 14 tahun. “Akhirnya sampai juga, ya. Susah tidak nyari rumahnya? Maaf ya tapi duduknya di bawah,” sambut Pak Tuba menerima kunjungan Historia.ID.

Tuba memulai ceritanya dari kampung halamannya, Brebes, Jawa Tengah. Pada 1962, Tuba membulatkan tekad merantau ke Jakarta untuk memperbaiki ekonomi keluarganya. Pada masa itu, Presiden Sukarno sedang bersemangat membangun Jakarta karena akan menjadi tempat pagelaran Asian Games 1962.

Tuba muda membayangkan, agenda Asian Games di Jakarta berarti banyak kesempatan bekerja untuknya. Ia memulai kiprahnya di Jakarta dengan menjadi pegawai Dinas Pekerjaan Umum Teknik Montir. Ia kehilangan pekerjaan itu setelah ditahan karena mencatut karcis bioskop. Ketika bebas, Tuba menjadi pedagang kaki lima di Lapangan Banteng, kemudian menjadi juru parkir dan loper koran di Kemayoran.

Pada 1963, Tuba masuk menjadi anggota Pemuda Rakyat, organisasi yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Setahun setelahnya, ia menjadi relawan Dwikora yang dipersiapkan untuk menggagalkan dibentuknya Federasi Malaysia. Sebagai relawan, Tuba dan anggota lainnya mendapatkan pelatihan militer di Lubang Buaya, dan pada malam 30 September 1965 ia mendapatkan tugas untuk jaga malam.

“Malam itu saya mendapat tugas untuk ronda malam, hingga menjelang subuh saya mendengar suara mobil bergemuruh. Kemudian turunlah para pasukan Tjakrabirawa dan meletuslah peristiwa yang dikenal sebagai G30S itu. Saya sendiri sama sekali tidak tahu menahu tentang gerakan ini karena saya di sana hanya disuruh jaga malam bukan yang lain,” ujar Tuba.

Selang satu hari setelahnya, Tuba mendapat perintah bahwa semua sukarelawan yang ada supaya berkumpul di Lubang Buaya dan mengembalikan semua peralatan latihan militer secepatnya.

“Mendengar itu saya pun segera ke sana dengan menyerahkan semuanya bahkan sandal jepit yang saya pakai juga ikutan lepas. Jadi, saat itu, saya hanya memakai kaus dan celana pendek saja tanpa alas kaki. Sejak itulah saya menjadi buronan,” kata Tuba.

Tuba pun menjalani fase terberat dalam hidupnya, mulai dari tinggal tidak tetap di berbagai stasiun, misalnya Stasiun Jakarta Kota, tidak makan berhari-hari hingga akhirnya ditangkap di depan ibunya di Brebes. Setelah ditangkap, Tuba menjalani hukuman tahanan selama 14 tahun di sejumlah penjara karena ia beberapa kali dipindahkan, mulai dari Salemba, Tangerang, Nusa Kambangan, hingga Pulau Buru.

“Jadi buat para tapol, interogasi itu merupakan momok karena harapannya kalau tidak mati, ya hidup dalam keadaan cacat. Lalu saat saya di Tangerang saya juga sempat menulis beberapa lagu ya untuk menghibur diri,” kata Tuba sambil sesekali menghela napas.

Babak selanjutnya dalam hidup Tuba adalah ketika dibuang ke Pulau Buru. Saat itu, Pulau Buru merupakan pulau dengan gunung yang gersang dan hutan yang masih banyak dihuni oleh binatang buas.

“Di Pulau Buru itu tiada hari tanpa bekerja dan belajar. Jadi setiap jam empat pagi kita sudah bangun untuk mengolah tanah pertanian, membuat gula, menanam sayuran dan mengurus peternakan. Kita juga hanya boleh menulis tidak lebih dari dua puluh kata untuk berkirim surat kepada keluarga. Jika kita lihat ada upacara bendera Merah Putih di unit lain walaupun jauh harus tetap hormat tanpa topi dan kacamata. Jika itu tidak kita lakukan, kita bisa disiksa,” kata pria dengan satu cucu ini.

Tuba bebas pada 1979. Pelabuhan Tanjung Priok menjadi tempat perhentiannya. Ia menghirup udara kebebasan dengan membawa beban.

Perjalanan hidup yang panjang dari penjara ke penjara tanpa pernah diproses di pengadilan membuat Tuba merasa perjuangannya belum selesai. Bersama dengan banyak orang yang mengalami berbagai bentuk ketidakadilan, Tuba rutin mengikuti acara Kamisan yang digelar di depan Istana Negara setiap hari Kamis. Bersama mereka, Tuba mengingatkan bangsa ini bahwa ada keadilan yang masih terpenjara.

“Karena jujur saja, selama saya bekerja usai bebas dari penjara di sektor perikanan Jakarta saya selalu mendapatkan diskriminasi dan ujaran kebencian,” sambung Tuba.

“Ya, harapan saya saat ini pemerintah bisa bertanggung jawab dan memenuhi hak-hak kami para mantan tapol. Yaitu hak akan keadilan, pemulihan nama baik dan pengungkapan kebenaran, dan juga mencegah agar peristiwa 1965 itu tidak terjadi lagi,” tutupnya lirih.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan g30s pki, Tapol, Tuba
Admin 2 Oktober 2022 2 Oktober 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Rusuh Usai Laga Arema vs Persebaya, 127 Orang Tewas
Artikel Selanjutnya Korban Tewas Tragedi Kanjuruhan Malang Bertambah Jadi 174 Orang

APA YANG BARU?

Aniaya Seorang Buruh Bangunan, Dua Pelaku Diamankan Polsek Sagulung
Artikel 15 jam lalu 40 disimak
Kenalkan Sejarah dan Budaya di Ranah Digital
Budaya 16 jam lalu 223 disimak
Polibatam Bawa 9 Inovasi Unggulan ke The Premier Manufacturing Indonesia Series 2026
Pendidikan 16 jam lalu 426 disimak
KJRI Johor Bahru Pulangkan 87 WNI dan PMI ke Batam
Artikel 16 jam lalu 262 disimak
Kualitas Udara Batam Memburuk Lagi
Artikel 16 jam lalu 247 disimak

POPULER PEKAN INI

Lila di Hulu Sungai Bere & Makam Tua Di Pengujan
Histori 3 hari lalu 565 disimak
Kapolri Baru Lakukan Mutasi Besar-besaran, Kapolda Kepri Diangkat Jadi Kabareskrim
Artikel 5 hari lalu 516 disimak
Rapor Merah Industri Perhotelan di Tengah Tren ‘Wisata Sehari’ Batam
In Depth 4 hari lalu 513 disimak
Tiga Bulan Air Mati, Ratusan Warga Nongsa Turun ke Jalan; Singgung Proyek Data Center
Artikel 3 hari lalu 505 disimak
Imbas Pelebaran Jalan Tengku Sulung, Pengendara Diarahkan Lewat Botania
Artikel 2 hari lalu 490 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?