BURUKNYA kualitas udara akibat kabut asap mengancam kesehatan dan keselamatan warga Kota Batam. Paparan partikel berbahaya mulai memicu risiko gangguan pernapasan, sementara jarak pandang yang merosot tajam mengintai para pengguna jalan raya.
Berdasarkan pantauan Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, jarak pandang di wilayah tersebut menyusut hingga 2,8–3 kilometer. Menurunnya daya pandang ini memaksa para pengendara untuk segera mengurangi kecepatan dan memperlebar jarak aman antarkendaraan guna menghindari potensi kecelakaan lalu lintas.
Dari sisi kesehatan masyarakat, udara di Batam resmi masuk dalam kategori tidak sehat. Tim forecaster BMKG melaporkan lonjakan konsentrasi partikulat PM2.5 yang mencapai angka 88,7 µg/m³ tepat pada pukul 09.00 WIB Senin (14/9) kemarin.
Kondisi kritis ini merupakan imbas langsung dari pola pergerakan massa udara regional. Angin yang berembus dari arah timur-tenggara menuju barat laut-utara dengan kecepatan 9–18 kilometer per jam telah menjebak Batam di jalur lalu lintas polusi lintas batas (transboundary haze).
Data citra sebaran asap BMKG pada pukul 08.00 WIB mengonfirmasi skala masif dari krisis udara ini:
- Hampir seluruh wilayah Kepulauan Riau dilaporkan terdampak kabut asap.
- Pergerakan asap lintas batas dari sumber kebakaran di Kalimantan terpantau meluas hingga ke Sarawak, Semenanjung Malaysia, Singapura, dan Vietnam.
- Polusi serupa turut menyelimuti berbagai wilayah di Sumatera dan Kalimantan.
Mengingat arah dan kecepatan angin masih sangat menentukan konsentrasi partikulat di udara, BMKG memproyeksikan kabut asap ini masih akan menyelimuti Batam selama beberapa waktu ke depan.
(ham)


