Hubungi kami di

Ini Batam

Tidaklanjuti Fatwa MUI Soal Atribut Natal, Walikota Tinjau Mall

Zilfia Sarah

Terbit

|

WALIKOTA Batam, Muhammad Rudi meninjau pelaksanaan himbauan walikota terkait toleransi beragama. Walikota mengunjungi Mega Mall Batam Centre dan Nagoya Hill untuk melihat apakah ada pegawai di pusat perbelanjaan tersebut yang dipaksa kenakan atribut agama tertentu.

“Kita diberi kebebasan beragama sesuai Undang-undang Dasar. Saya mau cek apakah betul informasi di media sosial dan SMS bahwa ada yang memaksakan. Tapi nggak ada kan. Semua sudah memahami, saling menghargai sesama ¬†antar agama,” kata Rudi seperti dikutip dari laman Mediacentre Batam, Selasa (20/12) kemarin.

Menurutnya di laman itu, pemerintah bisa memberi sanksi terhadap pelaku usaha yang memaksakan karyawannya menggunakan atribut keagamaan tertentu. Namun ia berharap tidak perlu sampai ada yang harus ditindak. Artinya semua sudah bisa saling memahami dan menghargai.

Sebelum turun ke pusat-pusat perbelanjaan, sehari sebelumnya Rudi sudah menerbitkan surat himbauan bernomor 91/TK/XII/2016. Surat ini sudah disosialisasikan Dinas Tenaga Kerja ke pengelola mall yang ada di Batam.

BACA JUGA :  Bandara Hang Nadim Jadi Kampung Tangguh ke 12 di Batam

GM Nagoya Hill, Eddi Khoo di laman Mediacentre Batam mengatakan pihaknya sudah menyampaikan kepada para tenant untuk menjalankan himbauan Walikota tersebut.

“Tenant kita ada 400an. Kita sampaikan ke semua tenant kita yang ada di sini. Kita jalani sesuai apa yang diinstruksikan pak walikota. Sejauh ini tidak ada pemaksaan,” ujarnya.

Surat edaran Walikota Batam ini menindaklanjuti UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Fatwa Majelis Ulama Indonesia tahun 2016 tentang hukum menggunakan atribut keagamaan non muslim. Atas dasar tersebut Walikota menghimbau agar saling menghormati keyakinan dan kepercayaan setiap agama dalam wujud toleransi kebebasan dalam menjalankan ibadah.

Pimpinan perusahaan diminta menjamin hak karyawan dan karyawatinya dalam menjalankan agamanya sesuai keyakinannya dan tidak memaksakan kehendak untuk menggunakan atribut keagamaan yang tidak sesuai dengan ajaran agamanya, terkait dengan perayaan hari besar agama tertentu. Serta tidak memberikan sanksi terhadap karyawan/karyawati yang tidak menggunakan atribut keagamaan tersebut. ***

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook