Hubungi kami di

Budaya

Tradisi Bakar Tongkang, Bentuk Syukur Warga Tionghoa Batam kepada Tuhan

Terbit

|

Warga Tionghoa menggelar ritual bakar tongkang di Klenteng Cetya U Pho Sakadarma, Ruko Pantai Permata, Baloi Batam, Jumat (15/7/2022). F. Dok. Istimewa

WARGA Tionghoa di Batam punya cara unik untuk mengucap syukur. Tradisi Bakar Tongkang itu dilakukan Pengurus Kelenteng Cetya Upho Sakadarma Batam di Kompleks Ruko Pantai Permata, Baloi, Jumat (15/7/2022) pada pukul 16.00 WIB.

Tradisi Bakar tongkang sudah dilakukan secara turun temurun. Tradisi ini diyakini merupakan ritual untuk memperingati hari ulang tahun Dewa Kie Hu Ong Ya atau lebih di kenal dewa pelindung masyarakat setempat.

Bertempat di Kelenteng Cetya U Pho Sakadarma, Ruko Pantai Permata, Baloi Batam, Jumat (15/7/2022), warga Tionghoa berkumpul untuk membakar tongkang sebagai wujud terima kasih mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ketua Panitia Pelaksana , Rusdi, mengatakan kegiatan inj kembali digelar setelah dua tahun ditiadakan karena pandemi Covid-19.

BACA JUGA :  Dua JCH Kloter 8 Embarkasi Batam Batal Berangkat ke Tanah Suci karena Sakit

Rusdi mengatakan makna dari pelaksanaan ritual Bakar Tongkang sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat dan dan kemudahan dalam mencari nafkah.

“Inti dari ritual ini kita berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena telah memberikan kita rezeki, kemudahan untuk cari nafkah. Itu memang sudah kepercayaan kita, biasanya doa-doa kita dikabulkan,” katanya.

Lebih lanjut, Rusdi menjelaskan pada tahun 1820 etnis Tionghoa asal Tiongkok sulit untuk mencari makan, yang kemudian melakukan perjalanan laut menggunakan perahu tongkang.

Setelah menempuh perjalanan jauh, mereka tiba di Bagansiapiapi, Rokan Hilir RiauProvinsi Riau dan akhirnya mereka memiliki penghasilan ikan yang cukup banyak.

“Setelah sampai di Bagansiapiapi, ternyata di sana mereka punya hasil ikan yang melimpah ruah. Sampai Bagansiapiapi ini terkenal dengan pengekspor ikan nomor 1 di Indonesia,” cerita Rusdi.

BACA JUGA :  Peremajaan Gedung Bida Utama | BP Batam Lakukan Pengadaan Secara Terbuka

Hal tersebut membuat etnis Tionghoa pada saat itu memilih untuk tidak kembali pulang ke negara asal dan akhirnya membakar perahu tongkang yang membawa mereka sampai di Bagansiapiapi.

“Jadi mereka dari Tiongkok menuju ke Bagansiapiapi mereka membawa dewa Kie Hu Ong Ya. Menurut kepercayaan etnis Tionghoa, dewa ini membantu mereka. Jadi begitu mereka sudah tiba Bagansiapiapi tidak ada niatan pulang, makanya tongkang-nya dibakar,” ujar Rusdi.

Dalam proses pembuatan perahu tongkang tersebut, Rusdi mengatakan membutuhkan waktu 3 bulan dengan biaya mencapai Rp 100 juta.

Dana tersebut berasal dari uang yang dikumpulkan oleh umat Tionghoa di Klenteng Cetya Upho Sakadarma, Kota Batam.

(*)

Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Sebaran

Facebook

id
enid

id
enid