SAYA pemegang sertifikat Food Safety Course (FSC) yang dikeluarkan Singapore Food Agency. Sertifikat ini, wajib saya miliki, sebagai syarat bekerja di resto cepat saji McDonald’s, 2019 silam. Semua orang di Singapura yang bekerja di sektor olah-olah makanan, harus punya sertifikat ini. Wajib, tidak bisa ditawar!
Oleh: Sultan Yohana
UNTUK memperolehnya, saya harus melewati serangkaian kursus dan test yang ketat. Begitu lulus dan bekerja, di tempat kerjaan, manajer selalu mengingatkan anakbuahnya untuk selalu mematuhi aturan FSC. Tidak ada jalan pintas, sekalipun untuk mempraktikkan itu semua, biaya yang dibutuhkan besar.
Contoh sederhana aturan FSC itu, misalnya, saya harus memakai kaus tangan warna biru sekali pakai untuk semua bahan makanan yang belum dimasak. Misalnya, memasukkan nugget mentah ke penggorengan. Sementara untuk nugget matang, saya wajib memakai tong/penjepit makanan. Kalau meracik burger, kaus tangan sekali pakai warna putih yang kudu dipakai. Salah pakai, manajer pasti teriak marah. Semua makanan tidak tersentuh kulit tangan langsung.
Itu baru soal tangan yang menjamah makanan.
Soal waktu penyajian lain lagi tingkat kerumitannya. Setiap bahan makanan matang, punya batas waktu tertentu hingga disajikan/laku. Sekali lagi, nugget misalnya, hanya punya waktu 20 menit setelah digoreng, untuk laku/disajikan. Lepas itu, jika tidak terjual, harus dibuang. Padahal, setelah digoreng, nugget disimpan di rak tertutup khusus dan dilengkapi pemanas. Di sinilah kemampuan berhitung dan memperkirakan seorang manajer sangat dibutuhkan.
Manajer harus cermat berhitung, berapa nugget, patty, atau kentang, yang harus dimasak di momen-momen tertentu. Agar tidak terbuang percuma. Kita tidak boleh seenak udel, masak sebanyak-banyaknya di sekali waktu, untuk nyetok. Semua ada aturan ketatnya.
Itu kenapa, jika Sampeyan-sampeyan andok McDonald’s di Singapore, kualitas makanannya, terasa istimewa, dan tentu saja Anda ndak sakit perut. Jauh lebih sip dibandingkan dengan makanan serupa di Malaysia, Taiwan, Thailand, bahkan McDonald’s Jepang. Di empat negeri itu, setidaknya saya pernah merasakan makan di Mcdonald’s.
Yang paling mengesankan, dan vital di antara dapur McDonald’s Singapura adalah lemari pendingin. Setiap McDonald’s Singapura, punya dua lemari pendingin utama. Satu, dan terbesar (bisa seukuran setengah lapangan voli), suhunya diatur minus 20 derajat. Di sinilah segala stok bahan makanan seperti daging, ayam, roti, dll, disimpan.
Lemari pendingin kedua, yang lebih kecil, yang suhunya dibuat seperti lemari pendingin rumahan, dipakai untuk menyimpan susu, sayuran, dan sejenisnya. Setiap bahan makanan atau minuman dilabeli tanggal datang dan kadaluwarsa. Di gerai tempat saya kerja, dulu, saya selalu merasa ingin “menangis sedih” manakala harus membuang bahan-bahan makanan yang sudah kadaluwarsa. Padahal sepengamatan mata, kondisinya masih sangat baik.
Kebersihan adalah nomor satu! Personal hygiene itu penting, misalnya pegawai dilarang berkuku panjang. Tiap hari, alat-alat dapur, setiap sudut gerai, terutama toilet, harus dibersihkan dengan seksama. Lap untuk meja dengan lap untuk nampan berbeda warna, dan semuanya harus disterilkan sebelum dipakai.
Kalau ada hewan masuk seperti kecoa, manajer segera memanggil pets control, untuk dicari bagaimana si kecoa bisa datang. Saat gerai tutup, tidak boleh ada satupun tempat sampah yang ada isinya. Karena sampah selalu mengundang hewan-hewan berbahaya untuk datang.
Secara berkala dan tiba-tiba pegawai Singapore Food Agency akan menggelar inspeksi mendadak. Mengecek apa pun kondisi gerai. Jika ada yang dirasa berbahaya, segera gerai itu ditutup, untuk memberi waktu perbaikan. Tidak ada budaya kongkalikong antara petugas dan pemilik/pegawai gerai. Tidak ada budaya sogok-menyogok. Mereka tahu, taruhannya nyawa.
Keracunan
SEBEGITU rumit, mahal, dan disiplinnya sebuah gerai Mcdonalds mempersiapkan dagangan mereka agar tetap higienis. Itu menujukkan bahwa makanan yang tidak disajikan secara betul, bisa sangat berbahaya. Bisa mematikan. Ini juga menjelaskan, betapa mudah dan cepatnya bakteri-bakteri jahat pada makanan, menempel dan menyebar ke makanan.
Bakteri jahat bisa menyebar dari bahan mentah ke bahan makanan matang. Bakteri jahat juga bisa datang dari tempat/dapur kotor. Bakteri mematikan bisa ditularkan dari hewan yang masuk ke dapur, atau pegawai yang tidak mengerti bagaimana menghigieniskan diri. Bakteri jahat bisa datang dari bahak makanan busuk atau tidak disimpan secara benar. Bakteri beracun bisa datang dari mana-mana.
Bayangkan, misalnya, jika di satu pagi ada seorang pegawai SPPG untuk MBG sakit perut. Lalu beol dan mencret. Ia lupa mencuci tangan, dan segera bekerja menyajikan makanan-makanan untuk makan siang gratis tanpa prosedur yang benar. Bakteri dari beolnya segera menyebar ke makanan.
Lalu, Ketika semua makanan MBG sudah siap pada pukul 9 pagi, murid-murid baru akan menyantapnya pada pukul 12 atau 1 siang. Di rentang waktu yang panjang itu, bakteri-bakteri yang berasal dari beol pegawai yang mencret, bisa mengontaminasi begitu banyak makanan yang disiapkan. Jika ini terjadi, berapa banyak anak-anak yang bakal keracunan?!?!
Hal terbaik yang paling mungkin dilakukan untuk menghindari (meminimalisir) keracunan MBG, adalah memasaknya di sekolah, dan segera menyajikannya secepat mungkin. Tentu saja dengan tetap mempertahankan prosedur-prosedur kebersihan pengolahan makanan.
Ini seperti praktik pemberian makan siang gratis ketika saya masih TK pada era 80an. Ketika itu, setiap murid TK di sekolah saya, diberi makan siang berupa bubur yang masih panas (karena baru dimasak), dengan sayur dan lauk sehat sederhana namun terasa nikmat rasanya.
Dalam kehidupan sehari-hari pula, ada tips aman ketika Anda andok atau makan di warung, terutama warung pinggir jalanan. Sebaiknya memilih makanan yang baru saja dimasak, dan masih panas. Untuk meminimalkan resiko terkontaminasinya makanan oleh bakteri mematikan. Siapa tahu, saat mempersiapkan bahan mentahnya, si penjual garuk-garuk pantatnya dulu. Hehe.
(*)
Penulis/ Vlogger : Sultan Yohana, Citizen Indonesia berdomisili di Singapura. Menulis di berbagai platform, mengelola blog www.sultanyohana.id


