“SEMAKIN saya belajar (banyak) tentang bola, semakin saya belajar tentang kemanusiaan,” sembari menjabat tangan pelatih Aidil, saya mengatakan ini padanya. Di hari terakhir kursus kepelatihan sepakbola akar rumput, yang diselenggarakan FAS (PSSI-nya Singapura), Minggu (27/9/2026). Sambil menarik bibirnya lebar-lebar, ia menjawab, “ya, tentu saja (begitu)”.
Oleh: Sultan Yohana
DARI pelatihan selama dua hari itu, tak hanya sertifikat melatih yang saya peroleh. Dari sana, saya justru membawa pulang “ilmu”, ternyata sepakbola bukan hanya sekedar menendang si kulit bundar.
Sepakbola, seperti halnya keluarga, agama, atau sastra – saya meyakini – adalah alat yang bisa membentuk manusia lebih manusiawi, disiplin, lebih beradab, lebih pintar, dan lebih peduli pada sekelilingnya.
Pemateri tidak hanya mengajarkan kami soal tekhnik-tekhnik melatih bola. Lebih penting dari bola, kata mereka, adalah bagaimana menghadapi manusia dengan segala warna sikap, sifat, dan permintaan mereka.
Dan menghadapi hal itu, sama sekali tidak mudah.
BTW, dengan sertifikat itu, saya kini diijinkan melatih sepakbola bocah-bocah usia 10 tahun ke bawah oleh PSSI-nya Singapura.
Atau, siapa tahu, sertifikatnya bisa dipakai sebagai syarat mencalonkan diri menjadi wakil presiden 2029 mendatang. Hehehe.
Kan sertifikat saya tidak hanya “bukti kehadiran”! Ini sertifikat, 100 persen sertifikat kelulusan!
(*)
Penulis/ Vlogger : Sultan Yohana, Citizen Indonesia berdomisili di Singapura. Menulis di berbagai platform, mengelola blog www.sultanyohana.id


