“Mau ke mana?” pertanyaan ini spontan keluar dari mulut saya, ketika seorang pemuda, tiba-tiba mecungul di depan saya, saat saya keluar dari lift apartemen, Senin (26/10) pagi. Bercelana PDL biru dongker dengan kaos oblong sewarna, S, pemuda itu, ramah menjawab sambal bergegas jalan ke arah berlawanan, “Selamat pagi uncle, mau sekolah”.
Oleh: Sultan Yohana
ENTAH kenapa, jawaban itu membuat saya gembira luar biasa. Mencerahkan pagi yang sebetulnya berudara suram karena kiriman asap dari Indonesia. Sambil jalan menuju bus stop, saya merapalkan doa untuk si S, semoga rahmat dan barokah menauinginya. Semoga kelak ia berguna bagi keluarga dan bangsanya.
S adalah anak tetangga, dari keluarga Melayu. Sejak sekolah dasar ia sudah akrab dengan keluarga kami. Ia kerap bermain dengan anak-anak saya. Usianya berbeda sekitar 2 tahun dari anak sulung saya yang kini 19 tahun. Bapaknya, seorang pekerja kilang, juga teman nongkrong saya, teman merokok. Ibunya yang selalu terlihat sakit-sakitan, tidak bekerja.
Yang membuat nelangsa dari keluarga ini adalah adik S, seorang perempuan seusia 15 tahun, yang entah kenapa, tidak mau melanjutkan sekolah. Ia berhenti sekolah setelah lulus SD. Ini kasus yang tidak biasa di Singapura. Bapaknya pernah bercerita, sekalipun ia memaksa anak gadisnya melanjutkan sekolah, si anak bergeming. Menolak mentah-mentah. Kini, saya kerap lihat dia, sledrang-sledreng dengan lelaki seusia. Wajah sudah mulai penuh make-up dewasa. Sedih melihatnya.
Adik terkecil S, juga perempuan, masih SD, seperti juga punya masalah kesehatan. Tubuhnya kurus kayak malnutrisi.
Dengan segala kondisi keluarga yang kurang ideal ini, S tumbuh menjadi bocah berandal. Kerap dugem, dan mencoba segala macam kenakalan remaja. Tapi kami gemar main bola futsal bersama, di soccer corner di blok kami. Meski berandal, S anak yang sopan. Disenangi banyak orang. Kami gemar mengobrol, terutama seputar urusan bola. Bakatnya main bola luar biasa. Gocekan mewah. Timingnya saat membagi bola, menunjukkan dia bocah yang cerdas, dan tidak selfish. Dari cara bermain bola ini saja, saya bisa melihat, S seorang yang berotak encer.
Jika saja ia diurus dengan benar, saya yakin dia bisa menjadi pemain bola profesional. Tapi ya itu, ia berandal, dan keluarganya yang kurang mampu seperti tidak terlalu memperhatikan bakatnya. Saya bahkan tak pernah melihat bapaknya mengajaknya bermain sejak dia balita. Ia terbiasa main sendiri bersama kawan-kawan sejak sekolah dasar.
Habis main futsal, S biasanya memilih sedat-sedut rokok’an.
Meski akrab, saya tidak pernah melarang apa pun perilaku berandalnya. Lha wong saya bukan bapaknya. Tapi, setiap kali kami ngobrol, saya selalu menekankan pada dia, “Kita orang Melayu, jika tidak sekolah dengan baik (di Singapura), mau jadi apa masadepan kita? Lihat kawan-kawan Chinamu, meski mereka sama berandalnya, tapi sekolah mereka rata-rata serius”. Begitu kira-kira yang selalu saya tekankan pada S. Dan, saya tahu, dia selalu mendengarkan saya.
S seperti yang saya sebutkan di atas, disukai banyak orang. Ia bergaul dengan macam-macam orang. Ia bergaul dengan pemuda China, pemuda India, bergaul dengan orangtua seperti saya, juga bocah-bocah yang lebih muda darinya. Itu menunjukkan tingkat kedewasaannya yang baik. Sekolahnya pun tidak buruk-buruk amat. Setidaknya ia bisa menyelesaikan O-level dan masuk salah satu politeknik favorit di Singapura, dan menyelesaikannya dengan baik sebelum kemudian harus ikut wajib militer selama dua tahun. Sekali lagi, riwayat sekolahnya membuktikan bahwa S dianugerahi kecerdasan yang baik.
Beberapa bulan lalu ia sempat mengutarakan niatnya untuk kuliah. Setelah wajib militernya kelar. Saya gembira mendengar niatannya itu. Ia berencana mengambil kuliah enjiner. Ia mengaku ditawari kuliah oleh salah satu universitas negeri di Singapura. Kabar yang tidak hanya membuat saya gembira. Lebih dari itu, sebagai tetangga yang kerap ngobrol dengannya, kekhawatiran saya sebelumnya, bahwa S bisa saja berakhir menjadi berandalan beneran, berakhir di penjara; bisa saya singkirkan jauh-jauh.
Pagi ini, melihatnya berangkat kuliah dengan berpakaian PDL, itu meyakinkan saya, jalan hidup seseorang benar-benar tak terduga.
Tapi inilah Singapura. Anda tak butuh jadi anak orang kaya, atau jadi anak pejabat, atau punya koneksi di mana-mana; untuk bisa mengubah nasib hidup Anda. Anda hanya butuh kemauan dan kemampuan. Perkara biaya, sarana, dan thethekbengeknya, negara selalu punya cara untuk membantu orang-orang seperti S. Di Singapura, orang miskin tidak pernah ditinggalkan sendirian.
(*)
Penulis/ Vlogger : Sultan Yohana, Citizen Indonesia berdomisili di Singapura. Menulis di berbagai platform, mengelola blog www.sultanyohana.id


