Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Bentrokan Lahan Pulau Setokok, Polda Kepri Tetapkan 3 Tersangka Baru
    9 jam lalu
    Tagih Janji 18 September, Ratusan Buruh PT Ghimli Datangi Kembali Pemko Batam
    11 jam lalu
    Tarif Parkir Tahunan Batam Dipangkas 50 Persen, Ini Daftar Harga Terbarunya
    14 jam lalu
    Dua Kebakaran Lahan Melahap 2,5 Hektare Area di Bintan Timur
    20 jam lalu
    Makamnya Dibongkar, Jasad Bayi Hilang Di Gunung Lengkuas
    20 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Batam 10K 2026 Diikuti 2.500 Pelari
    21 jam lalu
    Assiamkang; Jejak Komunitas Teochew di Belantara Batam
    2 hari lalu
    143 Siswa SMAN 5 Tanjungpinang Ikut Perkemahan Penerimaan Tamu Ambalan
    3 hari lalu
    Grup Musik No Na Buka Era Album Island Girl Lewat Lagu Star
    3 hari lalu
    Langsing dengan Tiga Cara Nyantai: Murah, Tanpa Ribet, Tanpa Siksaan
    3 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    10
    Pulau Pandan, Karimun
    18 jam lalu
    6
    Rumah Belah Bubung
    4 hari lalu
    Raja Haji Abdullah ibn Raja Haji Ahmad
    2 minggu lalu
    8
    Masjid Al Mubaraq, Karimun (Masjid Raja Haji Abdullah)
    2 minggu lalu
    Realisasi Belanja Pemko Tanjungpinang hingga September 2026
    2 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    3 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    3 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    3 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    7 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    8 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Catatan Netizen

Kita Adalah Orangtua Kandung Premanisme: dan Dua Buku yang Menjelaskan Fenomena Premanisme

Editor Admin 1 tahun lalu 685 disimak
Ilustrasi, © F. Sultan YohanaDisediakan oleh GoWest.ID

SAYA membaca laporan Majalah Tempo pekan ini, “Oke Gas, Hercules”. Tentang premanisme, terutama tentang sepakterjang Herkules dengan organisasi GRIB-nya.

Oleh: Sultan Yohana


TULISAN-TULISAN, dalam laporan itu, menempatkan preman dan premanisme sebagai “aktor utama” kisruh yang akhir-akhir ini kerap menjadi viral. Laporan yang juga menjlentrehkan hubungan mutualisme antara preman dan penguasa, antara preman dengan pebisnis, atau antara preman dengan para tokoh-tokoh high-profile, termasuk ulama. Tapi, sedikit sekali – atau jika boleh disebut tidak ada – laporan yang menjelaskan kenapa preman lahir, dan berkembang begitu digjaya di negeri ini.

Di laporan tentang premanisme ini, Tempo banyak mengutip caatan-catatan dalam buku “Politik Jatah Preman”-nya Ian Douglas Wilson. Buku ini memang menarik dan asyik. Anda harus membacanya! Buku ini menjelaskan dengan gamblang bagaimana preman dan premanisme lahir dan membesar di Indonesia.

Untuk kemudian, dalam perkembangannya, tokoh-tokoh preman itu bermetamorfosis menjadi politikus, menjadi pebisnis, membentuk organisasi kemasyarakatan. Semua itu dilakukan sebagai upaya untuk “MENCUCI DIRI” agar mereka berubah menjadi persona yang lebih bisa diterima masyarakat secara luas. Ada BENANG MERAH kenapa sebagian politikus Indonesia begitu koruptif dan seolah “raja tega” terhadap penderitaan masyarakat. Karena latarbelakang mereka yang memang preman dan sangat manipulatif.

Tapi, ada banyak preman “baik”, dan biasanya preman-preman yang demikian tidak pernah ingin terlibat politik atau masuk organisasi kemasyarakatan, hanya untuk “mengamankan” diri mereka sendiri. Pendek kata, mereka tidak munafik.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “preman” disematkan pada orang-orang jahat yang kerap menodong, merampok, memeras, atau sejumlah tindakan melawan hukum lainnya. Sementara Wikipedia menambahkan, “premanisme” sebagai cara hidup yang mengedepankan kekerasan sebagai tindakan penyelesaian satu persoalan.

Dari pengertian ini, jika Anda JELI memperhatikan, Anda akan menemukannya AKSI PREMANISME di hampir setiap lini kehidupan masyarakat Indonesia.

Tahukah Anda, di negeri yang begitu kaya seperti Indonesia, siapa pihak yang paling keras melakukan pemerasan? Penghilangan nyawa? Tipu muslihat? Mari kita cari siapa pihak itu!!!

Banyak contoh aksi-aksi premanisme, yang terkadang justru luput dari perhatian kita. Misalnya Pemerintah yang memeras rakyatnya dengan pajak dan pungutan-pungutan tak masuk akal, sementara hasil pajak justru dikorupsi, dan dana pembangunan dicarikan lewat utang. Petugas kelurahan mempersulit pengurusan KTP agar tercipta peluang dapat sogokan.

Organisasi keagamaan atau masyarakat yang doyan nodong proposal atau minta paksa proyek. Ustad-ustad yang memakai isu surga/neraka/pahala sebagai alat mengumpulkan sedekah untuk kepentingan pribadi. Dosen yang memberi nilai bagus setelah diservis bagus oleh mahasiswanya. Wakil rakyat yang menipu lewat pembuatan undang-undang. Penggusuran Rempang. Pembukaan paksa lahan di Papua atau Kalimantan. Polisi yang suka 86. Wartawan yang gemar memeras lewat berita.

Sebagian kecil contoh-contoh di paragraf atas, yang biasa kita temui di kehidupan sehari-hari, bagi saya, adalah aksi-aksi premanisme nyata yang lebih merusak ketimbang jagoan embong Malang yang nodong cuma minta rokok. Sayangnya, masyarakat justru tidak menyadari aksi-aksi premanisme itu, bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah. Sesuatu yang dibolehkan.

Sesuatu yang seharusnya terjadi. Lebih ironis lagi, pelaku-pelakunya justru dilambungkan sebagai TOKOH MASYARAKAT yang patut mendapat hormat sebesar gunung Tangkuban Perahu.

Jaman memang, wis wolak-walik! Seperti gunung Tangkuban yang disangka terbalik.

Contoh-contoh tindakan premanisme sehari-hari di atas, yang pelakunya justru dianggap sebagai bukan preman, kemudian melekat di memori masyarakat kita. Membentuk sikap permisif di masyarakat kita. Hingga pada akhirnya, dianggap sebagai sebuah kewajaran. Yang tidak melakukan, justru dianggap bodoh.

Sebaliknya, sebutan preman hanya disangkakan pada tukang-tukang parkir yang sekedar mencari seribu-dua lembar rupiah. Kepada mas-mas gondrong tatoan yang cari penumpang di terminal. Pemabok-pemabok yang gemar tawuran. Atau orang-orang semacam Herkules yang, suka atau tidak suka, justru bisa menjadi SINYAL peringatan kepada kita semua: bahwa ada yang tidak beres di negeri ini!

Saya beruntung punya banyak pengalaman dengan preman-preman jalanan yang selalu menjadi obyek syak wasangka buruk banyak pihak. Ketika puluhan tahun menjadi wartawan kriminal di Batam, saya kerap bersinggungan dan “akrab” dengan mereka. Penjahat-penjahat jalanan yang seringkali terpaksa masuk penjara, hanya karena mempertahankan hidup mereka yang keras dan minim pilihan. Preman atau penjahat-penjahat yang menjadi jahat karena memang sudah duluan divonis masyarakat sebagai “penjahat”.

Preman atau penjahat-penjahat yang merasa tidak lagi punya tempat – di masyaakat – kecuali di dunia kejahatan mereka sendiri. Preman atau penjahat-penjahat, yang justru jahat karena DIKORBANKAN oleh sistem yang korup dan merusak. Saya bahkan punya seorang karib, preman yang menjadi “tukang pukul” seorang politikus beken di Batam, dan salah satu kerjanya adalah menerima order “memberi pelajaran” siapa-siapa orang yang menjahili bosnya.

Jika bukunya Ia Doglas Wilson, “Politik Jatah Preman” menjelaskan fenomena preman dan premanisme di Indonesia; Anda bisa ulik rusaknya sistem pemerintahan kemasyarakatan yang korup secara mendalam lewat jalinan fakta dan bukti sejarah di bukunya Anton E Lucas, “Peristiwa Tiga Daerah”. Kawan saya, seorang sejarawan, Dedi Arman, pernah mengatakan, buku Anton E Lucas ini adalah buku yang “wajib” dibaca oleh mahasiswa-mahasiswa jurusan sejarah.

Ini menunjukkan betapa pentingnya buku “Peristiwa Tiga Darah”. Buku Anton Lucas bagi saya, adalah penjelasan sejarah yang paling telak dan jujur, jauh dari pesan-pesan propaganda buku-buku pelajaran sejarah yang sebelumnya sudah biasa kami pelajari di sekolah-sekolah. Buku yang bisa memberi gambaran dan penjelasan, kenapa premanisme begitu marak dan subur di Indonesia.

Di buku “Peristiwa Tiga Darah”, meski tidak membicarakan preman atau premanisme secara khusus, kita bisa menelusuri jejak yang panjang dari jahat, korup, dan rusaknya sistem kemasyarakatan (baca: pemerintahan) di Indonesia. Sudah sejak jaman Belanda misalnya, praktik-praktik korupsi dan penindasan dilakukan pejabat pamong-praja, penguasa daerah, serta ulama-ulama daerah, yang skala kerusakannya mampu menjadi pemicu pemberontakan-pemberontakan di daerah.

Kemiskinan dan penderitaan yang teramat berat, kemudian memunculkan orang-orang nekat yang punya satu cara untuk bisa mengubah hidup mereka: menjadi preman. Di jaman itu, menjadi preman, bisa juga berarti mendapatkan tiket untuk bisa menjangkau akses ekonomi yang lebih baik. Meski dengan cara yang jahat.

Di buku itu, tiga daerah yakni tiga daerah yakni Brebes, Tegal dan Pemalang, dipakai Lucas sebagai contoh terbaik dari system rusak itu. Partai Komunis, dalam hal ini berhasil memanfaatkan situasi kacau itu untuk mengkonsolidasi, mengorganisir dengan baik perlawanan-perlawanan rakyat jelata.

Di jaman romusha Jepang misalnya, para lurah-lurah banyak yang menilap jatah hidup dan bayaran dari pekerja, hingga mengakibatkan kelaparan parah dan kematian yang tak perlu. Lurah-lurah itu, bekerjasama dengan jagoan-jagoan setempat (baca preman); membentuk sebuah persekutuan kuat untuk mengintimidasi masyarakat, hingga tak berani melakukan perlawanan.

Ini sebetulnya cara serupa yang dilakukan Belanda untuk melanggengkan kekuasaan mereka di Nusantara.

Praktik korupsi dan penindasan pribumi oleh “penguasa pribumi” sendiri, di era penjajahan Belanda dan Jepang, terjadi hampir di semua wilayah nusantara. Itu berlangsung hingga Indonesia merdeka. Tak semua daerah punya keberanian seperti yang ditunjukkan Tegal, Brebes, dan Pemalang.

Di era kemerdekaan, terutama di awal Orde Baru, kita semua tahu, Partai Komunis, partai yang secara terang-terangan berada di belakang rakyat yang tertindas, nasibnya mirip nasib preman jalanan. Partai Komunis dibebani tuduhan-tuduhan yang tidak benar (salah satunya seperti anti agama), yang mengakibatkan partai ini menjadi musuh bagi semua pihak. Klimaksnya adalah pembantaian jutaan orang yang dituduh komunis, meski sebagian besar tak tahu apa-apa tentang hakikat komunisme itu sendiri.

Di era itu pula, eranya Soeharto, menjadi titik mula munculnya PREMAN-PREMAN BERDASI, yang kemudian menjarah dan menghabiskan kekayaan Indonesia dengan sesadis-sadisnya dan tanpa etika. Meninggalkan rakyat dalam kemelaratan akut. Kemelaratan yang tentu saja di belakangnya membonceng kebodohan. Melarat dan bodoh, adalah situasi ideal bagi lahirnya preman-preman jalanan. Fenomena yang akhir-akhir ini marak kembali dan keberadaannya kian viral, serta meresahkan semua pihak.

Kita resah dengan preman. Tapi kita lupa, kita lah “orangtua kandung” dari preman-preman itu. Kita yang melahirkan mereka. Kita yang membesarkan mereka! Seharusnya, kita pula yang menerima akibatnya.

Segelap dan sepanjang apa pun lorong yang menaungi kita, akan selalu ada cahaya terang di depan kita. Jika kita mau berjalan ke depan dengan sabar. Dalam kasus preman dan premanisme di Indonesia, satu-satunya cara melawannya adalah dengan meniadakan kemelaratan, kebodohan, serta ketidakadilan! Dan itu sangat tidak mudah!

(*)

Penulis/ Vlogger : Sultan Yohana, Citizen Indonesia berdomisili di Singapura. Menulis di berbagai platform, mengelola blog www.sultanyohana.id 

Kaitan batam, Grib, hercules, indonesia, kepri, Premanisme
Admin 26 Mei 2025 26 Mei 2025
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Penanaman Mangrove dan Ruang Terbuka Hijau: Sinergi untuk Lingkungan
Artikel Selanjutnya Catatan J.G. Schot Tentang Kepulauan Batam (Bagian X)

APA YANG BARU?

Bentrokan Lahan Pulau Setokok, Polda Kepri Tetapkan 3 Tersangka Baru
Artikel 9 jam lalu 80 disimak
Tagih Janji 18 September, Ratusan Buruh PT Ghimli Datangi Kembali Pemko Batam
Artikel 11 jam lalu 86 disimak
Tarif Parkir Tahunan Batam Dipangkas 50 Persen, Ini Daftar Harga Terbarunya
Artikel 14 jam lalu 81 disimak
Pulau Pandan, Karimun
Wilayah 18 jam lalu 153 disimak
Dua Kebakaran Lahan Melahap 2,5 Hektare Area di Bintan Timur
Artikel 20 jam lalu 155 disimak

POPULER PEKAN INI

Kabut Asap Selimuti Wilayah Batam, Disdik Berlakukan Belajar Dari Rumah
Pendidikan 6 hari lalu 508 disimak
Meriah! Pesta Rakyat HUT ke-13 RW 20 Cipta Permata Dihadiri Camat dan Lurah
Artikel 4 hari lalu 437 disimak
Jeritan Hati dan Ketidakpastian 1.025 Buruh PT Ghim Li Batam
In Depth 6 hari lalu 413 disimak
Pemko Batam Bentuk Tim Investigasi dan Tanggung BPJS 1.025 Buruh PT Ghim Li
Artikel 5 hari lalu 346 disimak
BP Batam Dorong Industri Data Center Bangun SWRO Sendiri
Artikel 5 hari lalu 319 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?