Hubungi kami di

SPORT

Atlet Jujitsu Batam, Ryan Sumbang Medali di Grand Prix Thailand Open 2022

Terbit

|

Atlet jujitsu Batam, Ryan M Fachrizal yang meraih medali di Grand Prix Thailand Open 2022. F Ist

TIM Jujitsu Indonesia meraih prestasi membanggakan di kompetisi akbar, Grand Prix Thailand Open 2022. Secara keseluruhan, tim ini memborong 13 medali dan berada di peringkat kelima dari 13 negara yang mengikuti ajang ini. Salah satu atlet Batam, Ryan M Fahrizal mampu menyumbang medali perunggu di kelas newaza 56 kg putra.

“Capaian yang sangat luar biasa. Alhamdulillah,” ujar Manajer Timnas Jujitsu Indonesia, Mahesa Arba, Rabu (22/6).

Menurut Mahesa, perkembangan jujitsu di Indonesia bisa disejajarkan dengan negara-negara peserta lainnya yang terdiri dari Thailand, Korea Selatan, Singapura, Saudi Arabia, USA, Palestina, Philipina, Kazakhstan, Lebanon, Mongolia, India dan Kamboja. “Hasil akhir, kita, Indonesia berada di posisi ke lima,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Wakil Sekjen Pengurus Besar Jujitsu Indonesia (PBJI) ini.

Selama tiga hari pergelaran, Tim Indonesia total mengumpulkan sebanyak 13 medali dengan rincian: 1 emas, 3 perak dan 9 perunggu. Medali emas diraih oleh atlet kategori Fighting System Putri kelas 63 Kg, Desyana Maharani. Untuk medali perak diraih oleh Nazwah Dzakira Putri Arba, Rosa Amalia dan Lucky Sumitro. Sedangkan 9 atlet peraih perunggu adalah, Ryan M Fahrizal, Deva Bagus Setyo, Fajar Adhitya Manthey, Willy, Ilma Yeni Megawati, Desyana Maharani, M Irfan Fauzi, Garth Wisnu Wardana dan Irfan. Mereka turun di kelas dan kategori yang berbeda.

Sorak pendukung Timnas Jujitsu Indonesia, pada hari pertama itu juga pecah dengan penampilan atlet Newaza 56 Kg putra. Ryan M Fahrizal, atlet dari Batam ini sudah bertekat untuk menyumbang medali untuk Indonesia. Di babak penyisihan grup, Ryan berhasil mengunci atlet Thailand dengan teknik Bow and Arrow Choke. Teknik mencekik dengan lapel gi ini membuat lawannya menyerah. Untuk lolos babak penyisihan itu, langkah Ryan tak mulus. Ryan harus tertatih kala menghadapi atlet lainnya. Bahkan, ia sempat cidera.

BACA JUGA :  Apri Sujadi Didakwa Terima Rp 3 Miliar dari Pengaturan Cukai Rokok dan Mikol

Lolos dari pool penyisihan, di semi final Ryan bertemu dengan atlet kuat dari Saudi Arabia. Atlet Indonesia Spider Jujitsu (ISJ) Batam ini kalah angka untuk memperebutkan tiket final. Ryan harus puas dengan raihan perunggu. “Ini debut saya untuk ajang internasional. Next, saya janji akan tampil lebih baik lagi,” kata siswa Kenacha Martial Arts Academy Batam ini. 

Mahesa menyebut, total atlet yang berangkat sebanyak 22 orang. Sebanyak 15 atlet bertanding di kategori newaza, sisanya di fighting system. “Semoga capaian ini menjadi motivasi kita untuk terus berprestasi pada ajang-ajang berikutnya,” kata Mahesa yang juga merupakan pendiri Indonesia Spider Jujitsu (ISJ) ini. Selain didampingi oleh Mahesa, tim juga didampingi langsung oleh Ketua Umum PBJI Laksda TNI (Purn) Desi Albert Mamahit.

Sementara itu, sehari sepulang dari Thailand, Ryan langsung menjalani rutinitas latihannya. Ia tak ingin terlena dengan capaian prestasinya itu. Ryan menyebut, dalam waktu dekat ini, ia juga akan memperkuat Tim Jujitsu Batam pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kepri yang akan digelar di Bintan.

“Tentu saja target saya adalah medali emas,” sebut atlet peraih perunggu pada PON XX Papua 2021 lalu ini. Setelah itu, ia akan fokus menatap PON Sumut-Aceh 2024.

BACA JUGA :  Kondisi Stabil | Direktur RSBP Batam Terpapar Covid-19

Rozi Juhendra, Pelatih Ryan, menyebut, Batam punya banyak bibit atlet. “Sayangnya, perhatian Pemda kita, khususnya KONI sangat kurang,” kata pria yang akrab disapa Oji ini. Ketua Umum PBJI Kepri ini berharap, KONI harusnya melakukan pembinaan pada atlet-atlet muda ini. Tujuannya agar saat ajang multievent setingkat nasional, Kepri bisa memperbaiki peringkat.

“Bisa dilihat, setiap kali PON, Kepri ada di urutan ke berapa. Ini menandakan bahwa cabor di Kepri ini tidak dibina dengan baik oleh KONI,” sebut Pelatih Kepala Indonesia Spider Jujitsu (ISJ) Kepri ini.

Lantas kenapa atlet ISJ bisa berprestasi hingga tingkat internasional? Oji menyebut, selama ini pembinaan dilakukan secara mandiri. Berawal dari hobi, kata Oji, ia merenovasi rumahnya untuk dijadikan dojo atau tempat latihan. “Rumah saya tak luas. Hanya tipe 36. Karena hobi dan mencintai cabor beladiri jujitsu ini, sebagian rumah saya, saya renovasi jadi dojo,” ujarnya. Diberi nama Kenacha Martial Arts Academy, atlet-atlet binaan Oji sudah banyak berprestasi di ajang setingkat kota, provinsi, nasional bahkan internasional.

“Tidak hanya cabor jujitsu aja, ketika ada kejuaraan-kejuaraan terbuka yang digelar cabor lain, kami pasti berpartisipasi untuk ikut,” ujar Oji. Hasilnya? Sangat memuaskan. Beberapa orang atlet binaannya, seperti Ryan, Danang, dan Dika berhasil jadi juara,” pungkasnya (leo).

Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Sebaran

Facebook

id
enid

id
enid