Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Rabu (26/08) Malam, Air Batam Hilir Matikan Sementara Diberbagai Wilayah di Batam
    2 jam lalu
    BMKG Perkirakan Hari ini (26/08), Akan Terjadi Hujan di Batam, Bintan dan Karimun
    3 jam lalu
    Cemburu, Suami Siri Diduga Lakukan Pembunuhan Istrinya di Sekupang
    4 jam lalu
    Singapura Siapkan Reklamasi Tiga Pulau di Hadapan Batam
    5 jam lalu
    Dugaan Selundupkan 800 Kg Ketamine, Kapal Kargo Berbendera Komoro Disergap di Perairan Anambas
    15 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Pasokan Air Baku Sei Pulai dan Gesek Bertahan Lebih Baik Dibanding Waduk Batam
    5 jam lalu
    Negeri Lingga, 1861 (Bagian 1)
    2 hari lalu
    Jalan Kaki itu Membahagiakan
    3 hari lalu
    Anggaran Pendidikan Rp 820,9 Triliun Belum Sentuh Kesejahteraan Guru
    4 hari lalu
    Siswa SDN 005 Teluk Sebong Diajak Lebih Pede Lewat Kegiatan Literasi
    5 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Gedung Beringin, Batam
    3 hari lalu
    Rata-Rata Lama Sekolah Warga Batam Tembus 11,34 Tahun, Tertinggi di Kepri
    1 minggu lalu
    Inflasi Kota Batam Juli 2026 Stabil di Angka 3,49 Persen
    1 minggu lalu
    Bandar Udara Raja Haji Abdullah, Karimun
    2 minggu lalu
    Pengeluaran Warga Batam Melonjak Rp3,12 Juta per Bulan/ Kapita
    1 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    2 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    2 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    2 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    6 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    7 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Tajir Melintir Teuku Markam

Editor Admin 4 tahun lalu 992 disimak

SEBASTIAN Tanamas baru sebulan tinggal di Jakarta. Ia meninggalkan ketentaraan dengan pangkat terakhir Letnan. Sebastian kemudian jadi orang pelarian, ke Jepang, karena bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Selama lima tahun di Jepang, Sebastian mengerjakan berbagai profesi. Mulai dari fotografer, wartawan, hingga penyiar radio Nihon Hoson Kyokai (NHK). Pada Mei 1963, Sebastian memutuskan pulang ke Indonesia.

“Dari Jepang, waktu itu saya membawa sebuah mobil sedan merek Dodge,” kenang Sebastian Tanamas dalam otobiografinya Tak Menggantang Asap: Otobiografi Seorang Pejuang dan Pengusaha Industri Kerajinan.

Sekali waktu, Bastian hendak menjumpai seorang kawan di Jl. Sudirman. Namun, sewaktu melintas di dekat Jembatan Semanggi, mobilnya tertabrak sedan yang dikemudikan seorang wanita cantik. Bastian sendiri selamat dari kecelakaan tersebut. Tapi mobilnya ringsek karena terbalik hingga menghantam sebatang pohon.

Bastian termangu di pinggir jalan, tak mempedulikan polisi yang sibuk mengukur-ukur tempat kejadian peristiwa kecelakaan. Tiba-tiba datanglah sebuah sedan mewah. Dari mobil itu keluar sesosok pria berbadan tegap mengenakan celana pendek. Dalam hati Bastian, kalau bukan orang kaya tentulah seorang penggede. Lelaki itu menghampiri perempuan yang menabrak mobil Bastian. Rupanya, perempuan itu adalah sekretarisnya. Sejurus kemudian, dengan suara lantang ia bertanya siapa pemilik mobil yang ringsek.

“Saya, Pak,” jawab Bastian.

“Sekarang Saudara mau apa? Mau diperkarakan atau mau damai,” ujar si lelaki setengah menggertak.

Mendengar lagaknya, darah Bastian mendesir. Tapi, dia masih bisa menahan diri. Bastian melihat lelaki itu bertolak pinggang sambil menghisap rokok. Lantas, ia minta rokok. Lelaki itu mengulurkan tangan kirinya seraya mencabut sebatang rokok. Tak lupa dinyalakannya korek api buat Bastian.

“Mau damai boleh, mau diperkarakan juga tidak apa-apa,” kata Bastian setelah dua isapan rokok.
Semula Bastian mengira dia merasa ditantang. Nyatanya tidak. Dia langsung berteriak keras pada polisi yang lagi mencermati TKP, “Sudah! Kami damai. Kalian pergi saja, tak ada persoalan,” teriaknya. Kepada Bastian, ia lantas berbicara dengan nada rendah.

“Dik, sekarang bawa saja mobilmu ke bengkel saya. Berobatlah dulu setelah itu datang ke kantor saya,” katanya sembari menyerahkan selembar kartu nama.

Dari kartu nama itu, Bastian mengetahui identitas lelaki yang dihadapinya: Kapten Teuku Markam. Markam dikenal sebagai pengusaha karet ternama, pemilik perusahaan PT Karkam (Kulit Aceh Raya Kapten Markam). Sementara wanita sekretaris itu, seperti disebut Kompas 20 Maret 1968, bernama Ratna Kartika Markam alias Ellen Tan Eng Lan yang belakangan menjadi istri Markam. Markam juga dikenal luas sebagai orang dekat Presiden Sukarno. Sejumlah proyek mercusuar yang digagas Bung Karno didanai oleh Markam. Di antaranya Gelanggang Olahraga Senayan dan pucuk emas Monumen Nasional (Monas).

Mobil Sebastian Tanamas akhirnya diderek ke bengkel di Jl. Medan Merdeka Utara. Lokasinya berdekatan dengan Istana Negara. Sekarang, di lokasi bengkel itu berdiri bangunan kantor Mahkamah Agung RI.

Keesokan hari, Bastian datang bersama istrinya ke kantor Markam. Anak buah Markam melayani pasangan suami-istri itu dengan hangat. Markam menawarkan dua pilihan: mobil direparasi atau diganti dengan yang baru. Tawaran untuk reparasi diterima Bastian karena mesin mobilnya masih bagus. Markam langsung membuat perhitungan dengan Bastian.

“Adik tentu bekerja dan butuh uang untuk transportasi. Untuk itu, saya beri ongkos taksi untuk 8 jam sehari selama tiga bulan,” katanya. Markam memanggil stafnya untuk mencari informasi ongkos taksi di Jakarta per jamnya.

Total ongkos taksi yang diberikan Markam sebesar Rp500 x 8 jam x 90 hari. Jadi, semuanya berjumlah Rp480.000. Uang sejumlah itu di tahun 1963 sudah banyak. Padahal, Bastian saat itu masih belum mendapat pekerjaan. Markam bahkan kasih tawaran untuk memodali Bastian usaha studio foto di salah satu rumahnya, di Jl. Sambas, atau tokonya di Senen. Namun, setelah menilik relasi Markam yang dekat dengan Sukarno, Bastian menolaknya.

Meski demikian, uang dari Markam ada pula hikmahnya buat Bastian. Bukannya dipakai untuk ongkos sewa taksi, uang itu malah jadi modal Bastian untuk mengontrak rumah di Pejompongan, Jakarta Pusat. Bastian memboyong istri dan kelima anak pindah ke sana. Tadinya mereka menebeng di kediaman orang tua Bastian di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Setelah mendapat tempat menetap, barulah Bastian mendapat pekerjaan sebagai guru bahasa Jepang di sebuah sekolah.

“Ternyata Markam begitu baik. Saya tak menduga sebelumnya akan mendapatkan ‘uang taksi’ untuk tiga bulan lamanya,” kenang Sebastian Tanamas.

Markam memang dikenal sebagai pengusaha yang royal. Keroyalan itu juga diceritakan oleh jurnalis kawakan Rosihan Anwar. Ia mengisahkan tentang Kolonel Hidayat Martaatmadja, mantan Panglima Teritorium Sumatra, yang tak punya rumah sewaktu memasuki zaman Republik (1950-an). Melihat ada rumah “potensial” di Jl. Cik di Tiro, Menteng, Jakarta Pusat, Hidayat melapor kepada Menteri Negara Stabilisasi Ekonomi Kolonel Suprayogi.

“Ibu (Ratu Aminah, istri Hidayat) belum punya rumah,” kata Rosihan dalam Petite Histoire Indonesia Jilid 3.

Mengetahui hal itu, Markam tergerak. “Harga rumah itu Rp 40.000, dan dengan pertolongan pengusaha Markam yang memberi uang, rumah bisa dibeli,” ungkap Rosihan.

Tapi, pundi-pundi Markam tak selalu mempan untuk membeli apa saja yang diinginkannya.
Aliran dananya mandek ketika membentur “tembok” bernama Hoegeng Iman Santoso.

Suatu ketika, Markam butuh paspor diplomatik untuk bepergian ke luar negeri. Ia pun mengupayakannya. Namun, permintaan itu ditolak oleh Kepala Jawatan Imigrasi Hoegeng. Pasalnya, Markam bukan diplomat. Hoegeng hampir saja menendang Markam ke luar pintu ruangan kantornya lantaran disuguhkan sejumlah uang oleh Markam.

“Ia gelagapan juga. Maklumlah postur tubuh saya besar juga. Melebihi tinggi rata-rata orang Indonesia,” kata Hoegeng dalam biografinya yang disusun Ramadhan KH dan Abrar Yusra Polisi: Idaman dan Kenyataan. Hoegeng yang menjadi Kapolri periode 1968—1971, memang dikenal sebagai polisi jujur yang anti-suap.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan Monas, pengusaha, Teuku Markam
Admin 1 Oktober 2022 1 Oktober 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Liga Batam 2022 | Babak 8 Besar Digelar Hari ini, IKLA Ditantang Lansek Manih
Artikel Selanjutnya Jadi Bagian Paket Wisata, Museum Batam Dikunjungi 50 Pemandu Wisata

APA YANG BARU?

Rabu (26/08) Malam, Air Batam Hilir Matikan Sementara Diberbagai Wilayah di Batam
Artikel 2 jam lalu 79 disimak
BMKG Perkirakan Hari ini (26/08), Akan Terjadi Hujan di Batam, Bintan dan Karimun
Artikel 3 jam lalu 88 disimak
Cemburu, Suami Siri Diduga Lakukan Pembunuhan Istrinya di Sekupang
Artikel 4 jam lalu 93 disimak
Pasokan Air Baku Sei Pulai dan Gesek Bertahan Lebih Baik Dibanding Waduk Batam
Lingkungan 5 jam lalu 129 disimak
Singapura Siapkan Reklamasi Tiga Pulau di Hadapan Batam
Artikel 5 jam lalu 116 disimak

POPULER PEKAN INI

BMKG Batam:”Hari Ini dan Besok, Cuaca Kepri Cerah Berawan”
Artikel 5 hari lalu 453 disimak
Pemerintah Usulkan Biaya Haji 2027 Sebesar Rp107,3 Juta
Artikel 4 hari lalu 337 disimak
Anggaran Pendidikan Rp 820,9 Triliun Belum Sentuh Kesejahteraan Guru
Pendidikan 4 hari lalu 334 disimak
Warga Temukan Kerangka Manusia di Sei Ladi
Artikel 4 hari lalu 324 disimak
PTSP BP Batam Siapkan Standar Pelayanan 2026
Artikel 4 hari lalu 316 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?