ANCAMAN kesehatan dan gangguan transportasi udara kini mengancam warga Kota Batam. Paparan kabut asap yang tak kunjung hilang diperkirakan masih akan membayangi aktivitas masyarakat hingga awal Oktober 2026 mendatang akibat minimnya curah hujan yang memicu kebakaran hutan dan lahan.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada penimbunan polutan di udara dan penurunan jarak pandang. Alat pemantau partikulat BMKG mencatat konsentrasi PM10 di Batam berada pada kisaran 60–80 mikrogram per meter kubik, berada jauh di atas ambang batas standar udara sehat yang seharusnya di bawah 30 mikrogram per meter kubik. Pada saat yang sama, jarak pandang di kawasan Bandara Internasional Hang Nadim Batam menyusut hingga 4.000–5.000 meter yang berpotensi mengganggu operasional penerbangan jika terus menurun.
“Curah hujannya sangat rendah. Jadi untuk terjadinya kebakaran lahan atau hutan itu potensinya sangat besar,” ujar Forecaster BMKG Kota Batam, Ibnu Susilo.
Ibnu menambahkan bahwa kondisi kemarau makin diperparah oleh fenomena El Nino. Selain itu, kabut asap yang mengepung Batam tidak hanya bersumber dari area setempat, melainkan juga merupakan kiriman dari Kabupaten Lingga dan Sumatra bagian selatan. BMKG sendiri mendeteksi lima titik panas di wilayah Kepulauan Riau, dengan rincian satu titik di Lingga dan empat titik di Kabupaten Natuna.
Mengingat cuaca kering diprediksi masih bertahan hingga bulan depan, BMKG mengimbau masyarakat untuk lebih waspada. Warga diminta mengunakan masker serta membatasi aktivitas di luar ruangan, meningkatkan kehati-hatian saat berkendara di tengah kondisi berkabut, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gangguan pernapasan.
(ham)


