Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Terkendala Modal dan Pengelolaan, Kopdes Merah Putih di Pulau Buluh Batam Tutup
    4 jam lalu
    Diduga Puting Beliung Sapu Kawasan PT VME Batu Ampar, Sejumlah Bangunan Rusak
    9 jam lalu
    ZIS Tembus Rp21 Miliar, BAZNAS Batam Serahkan Laporan Audit ke Pemko
    12 jam lalu
    Unit Reskrim Polsek Sagulung Tangkap 2 Pria Perampas HP Anak 6 Tahun
    13 jam lalu
    Dihantam Gelombang Tinggi, Tugboat Tenggelam di Perairan Tambelan Bintan
    14 jam lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    KKP Lebur 11 Politeknik Menjadi Satu Bernama Institut Kelautan Indonesia
    11 jam lalu
    “Tersesat di Labirin Pulau-Pulau; Di Wilayah Kuasa Hamet dari Pulau Buluh”
    2 hari lalu
    Spanyol Juara Piala Dunia 2026
    3 hari lalu
    Hujan Gol di Miami, Inggris Tekuk Prancis 6-4
    4 hari lalu
    Workshop Literasi Para Ibu untuk Perkuat Karakter Anak
    5 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pengeluaran Warga Batam Melonjak Rp3,12 Juta per Bulan/ Kapita
    23 jam lalu
    Tun Abdul Jamal (Temenggung Johor Riau 1757 – 1802)
    5 hari lalu
    Realisasi Belanja Pemko Batam per Juli 2026
    2 minggu lalu
    Lebah Bergantung (Lebah Bergayut)
    3 minggu lalu
    Pulau Los, Tanjungpinang
    3 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    4 minggu lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    1 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    1 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    5 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    6 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

45 Tahun MUI ; Lahir di Zaman Soeharto Berkuasa

Editor Redaksi 6 tahun lalu 1.9k disimak

“Orde Baru daripada Soeharto, yang sangat mengandalkan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), sadar bahwa Islam adalah kekuatan politik yang teramat sangat besar dan tidak mungkin disingkarkan dari panggung politik Indonesia.

Adalah fakta bahwa mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Kebanyakan anggota ABRI juga beragama Islam. Orde Baru hanya perlu hati-hati saja dalam bertindak“.

———————-

MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) adalah lembaga independen yang mewadahi para ulama, zuama, dan cendikiawan Islam untuk membimbing, membina, dan mengayomi umat Islam di Indonesia.

Majelis Ulama Indonesia berdiri pada 17 Rajab1395 Hijriah atau 26 Juli 1975 Masehi di Jakarta. Sesuai dengan tugasnya, MUI membantu pemerintah dalam melakukan hal-hal yang menyangkut kemaslahatan umat Islam, seperti mengeluarkan fatwa dalam kehalalan sebuah makanan, penentuan kebenaran sebuah aliran dalam agama Islam, dan hal-hal yang berkaitan dengan hubungan seorang muslim dengan lingkungannya.

Saat ini lembaga tempat berkumpulnya ulama se Indonesia ini sudah berusia 45 tahun, bagaimana sejarah berdirinya lembaga ini? Gowest Indonesia mengutip catatan dari laman tirto.id yang disajikan dalam rubrik Histori untuk anda.

Kehati-hatian Orde Baru mirip pemerintah militer Jepang terhadap Islam di Indonesia pada zaman pendudukan 1942-1945. Jepang merestui keberadaan organisasi yang terdiri dari pemuka agama bernama Madjlisul Islamil A’laa Indonesia (MIAI), yang kemudian menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).

Organisasi yang menginduk kepada Masyumi adalah organisasi Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan partai-partai Islam yang sebelumnya ada di zaman kolonial. Pada awal 1970-an, Orde Baru mentoleransi partai-partai politik Islam, sebelum akhirnya digabungkan ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Namun, Orde Baru ingin lebih dari itu.

Soeharto dan para pembantunya, seperti dicatat James Rush dalam Adicerita Hamka (210) akhirnya mencari “teman di kalangan umat (Islam) dan mengarahkan para pemimpinnya untuk kepentingan Orde Baru”.

Maka muncul gagasan untuk menyatukan ulama dalam sebuah wadah.

Ide ini sudah ada sejak 1973. Wadah ini menjadi tempat para ulama membahas perkara-perkara umat dan mengeluarkan fatwa terkait hukum dan praktik Islam, di antaranya terkait halal-haram makanan/minuman atau kapan Ramadhan berakhir.

Para ulama kemudian berkumpul di Jakarta dalam Musyawarah Nasional I Majelis Ulama yang menghasilkan sebuah piagam.

Piagam yang dikenal sebagai Piagam Berdirinya MU itu menyatakan berdirinya Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 17 Rajab 1395 Hijriah atau tanggal 26 Juli 1975, tepat hari ini 45 tahun lalu.

Seperti tercatat dalam piagam itu, para ulama itu pentingnya persatuan ulama di Indonesia demi mewujudkan ukhuwah Islamiyah dalam rangka “Pembinaan Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia”.

Dalam situs resminya, tercatat pendirian MUI dihadiri 26 ulama yang mewakili 26 provinsi (kala itu Timor Timur belum jadi provinsi Indonesia), 10 ulama pusat dari NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti. Al Washliyah, Math’laul Anwar, GUPPI, PTDI, DMI dan Al Ittihadiyyah; empat orang ulama dari Dinas Rohani Islam empat angkatan dalam ABRI; serta 13 orang dengan reputasi sebagai cendekiawan.

Di antara perorangan ini terdapat Kasman Singodimedjo dan Hamka. MUI menyatakan diri sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mewadahi ulama, zu’ama, dan cendekiawan Islam di Indonesia untuk membimbing, membina dan mengayomi kaum muslimin di seluruh Indonesia.

Pada Juni 1975, Hamka, menurut Rush, didekati oleh Menteri Agama Mukti Ali agar mau menjadi Ketua MUI.

“Mukti Ali tahu benar Hamka terkenal se-indonesia sebagai penulis dan Ulama. Dia seorang Muslim Muhammadiyah yang menjauhkan diri dari fanatisme dan diantara tokoh-tokoh Muhammadiyah, hanya Hamka yang secara teratur diundang berbicara di acara-acara Nahdatul Ulama,” tulis Rush.

Hamka diharapkan bisa memjembatani lebih banyak golongan. Seperti dicatat Rush, Hasan Basri—yang kemudian jadi Wakil Ketua MUI—menyebut Hamka “satu-satunya pilihan yang bisa terpikirkan.”

Pada 1970 Hamka pernah menentang pembentukan majelis serupa MUI. Kali ini, seperti dicatat Rush, “Hamka mempertimbangkan kembali keadaan secara berbeda”.

Dalam sejarah MUI, Hamka adalah ketua MUI pertama.

MUI, seperti dicatat M.C. Ricklefs dalam Mengislamkan Jawa (2013:277), dimaksudkan sebagai sebuah wahana bagi pemerintah untuk mengontrol Islam demi kepentingan. Hal ini sempat menjadi stigma bagi MUI. Hamka kemudian mundur sebagai Ketua MUI pada 1981, seperti dicatat Ricklefs, “sebagai protes terhadap kurang independennya MUI di depan pemerintah”.

Meski MUI di mata Hamka tidak independen, namun Soeharto punya pikiran lain. Soeharto mengatakan, MUI harus bisa mandiri–tentu dalam koridor Orde Baru.

Pada 1989 Soeharto, catat Kompas (21/12/1989) seperti yang dikutip dalam Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita Buku XI 1989 (2008:587-589), menyebut MUI makin mandiri.

“Kerja sama ini telah menciptakan suasana baru yang segar dalam pertumbuhan agama Islam serta umatnya di Indonesia. Kerja sama itu bukan saja perlu dipelihara, tapi perlu ditumbuhkan dan dikembangkan di masa datang,” kata Soeharto.

Keadaan berubah Setelah Orde Baru runtuh pada 1998. Setelah kejatuhan Soeharto, seperti disebut Ricklefs, “MUI menjadi wadah yang memperjuangkan kepentingan Islam—terutama dari kelompok-kelompok paling konservatif, Islamis dan Dakwahis—di hadapan pemerintah.” Kali ini MUI bisa independen seperti yang dulu dicita-citakan Hamka.

Tanpa Orde Baru, seperti dicatat Fawaizul Umam dalam Kala Beragama Tak Lagi Merdeka (2014:156), “MUI tampak memainkan peran sebagai pemberi legitimasi teologis atas setiap kebijakan negara, di masa reformasi, saat negara melemah, MUI—khususnya dalam konteks praksis kebebasan berama—memainkan peran terutama sebagai lembaga control yang menjalani semacam screening (penyaringan) keyakinan guna menertibkan praktik-praktik keberislaman masyarakat dengan memancang keyakinan mainstream sebagai tolok ukur utama.”

Hari ini MUI dipandang memiliki legitimasi penuh untuk menentukan halal-haramnya sebuah produk.

Sejak 6 Januari 1989, MUI sudah punya Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI). Oleh lembaga ini sebuah produk diuji dan mendapat sertifikat halal jika lolos.

Dalam politik Indonesia termutakhir, merangkul MUI berarti merangkul Islam. Tak heran jika Ketua MUI Ma’ruf Amin kemudian digandeng Joko Widodo sebagai pasangannya dalam pilpres 2019. Keduanya kemudian menang dan Ma’ruf Amin pun tercatat sebagai Ketua MUI pertama yang sukses jadi wakil presiden.

*(Zhr/GoWestId)

Sumber : tirto.id/wikipedia

Kaitan MUI, Orde Baru, Soeharto, top
Redaksi 28 Juli 2020 28 Juli 2020
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Isdianto Resmi Jadi Gubernur Definitif
Artikel Selanjutnya “PS” Tersangka Tindak Pidana Kepabeanan Diserahkan ke Kejaksaan

APA YANG BARU?

Terkendala Modal dan Pengelolaan, Kopdes Merah Putih di Pulau Buluh Batam Tutup
Artikel 4 jam lalu 64 disimak
Diduga Puting Beliung Sapu Kawasan PT VME Batu Ampar, Sejumlah Bangunan Rusak
Artikel 9 jam lalu 121 disimak
KKP Lebur 11 Politeknik Menjadi Satu Bernama Institut Kelautan Indonesia
Pendidikan 11 jam lalu 34 disimak
ZIS Tembus Rp21 Miliar, BAZNAS Batam Serahkan Laporan Audit ke Pemko
Artikel 12 jam lalu 75 disimak
Unit Reskrim Polsek Sagulung Tangkap 2 Pria Perampas HP Anak 6 Tahun
Artikel 13 jam lalu 99 disimak

POPULER PEKAN INI

ABH Lakukan Penyambungan Pipa Air, Berikut Wilayah yang Akan Terdampak
Artikel 2 hari lalu 681 disimak
Angka Kecelakaan Lalulintas di Batam Meningkat, Kematian di Jalan Turun
Artikel 4 hari lalu 356 disimak
Workshop Literasi Para Ibu untuk Perkuat Karakter Anak
Pendidikan 5 hari lalu 341 disimak
Penolakan Lahan Sekolah Rakyat di Pulau Rempang
In Depth 6 hari lalu 320 disimak
Tun Abdul Jamal (Temenggung Johor Riau 1757 – 1802)
Tokoh 5 hari lalu 307 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?