Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Kerangka Manusia Ditemukan di Area DAM Duriangkang Batam
    1 hari lalu
    Kloter Pertama Haji Embarkasi Batam (BTH 1) Tiba
    1 hari lalu
    Hujan Angin Kencang Tumbangkan Pohon, Atap Rumah Warga Tertimpa
    3 hari lalu
    Tabrakan Angkot vs Trailer di Jalan Brigjen Katamso, Tidak Ada Korban Jiwa
    3 hari lalu
    Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi, Polisi Periksa Kadishub Batam
    3 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Dikbud Karimun Terapkan SPMB Online Tahun 2026
    1 hari lalu
    Damkar Evakuasi Monyet di Lingkungan Warga Sebong Pereh
    2 hari lalu
    Rencana Larangan Bawa HP ke Sekolah untuk Siswa SMA/K di Kepri, Berlaku 2027
    2 hari lalu
    PSG Juara Lagi: Tundukkan Arsenal Lewat Adu Penalti 4-3
    3 hari lalu
    “Menyusur Sungai Bersama Sultan, Terjebak Badai di Gunung Tanda”
    3 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Analisis Data Cuaca Kota Batam (Periode Mei 2026)
    2 hari lalu
    Data Akomodasi Batam: Hub Utama Pariwisata, Penggerak Okupansi di Kepri
    2 hari lalu
    Sultan Muhammad II Muazzam Shah (Sultan Riau Lingga Kedua 1832 – 1835)
    2 hari lalu
    Data Kependudukan Kota Batam 2026
    3 hari lalu
    Data Curah Hujan Tahunan di Batam 10 Tahun Terakhir
    5 hari lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    3 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    4 bulan lalu
    “Kundur & Buru – Pesona dan Tradisi”
    4 bulan lalu
    “Karimun Besar – Harmoni Alam & Budaya”
    5 bulan lalu
    #Full Hendrik; Pujakesuma di DPRD Batam
    11 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Kesepakatan Agung Itu Bernama Sidang PPKI 18 Agustus 1945

Editor Redaksi 6 tahun lalu 2k disimak

“Rapat PPKI 18 Agustus 1945 adalah titik tolak kehidupan berbangsa. Para pendiri Republik berkompromi melahirkan sebuah kesepakatan agung”.

Daftar Isi
Kesepakatan AgungYang Abadi Hanya Perubahan

—————————-

REPUBLIK Indonesia lahir dari kesepakatan orang-orang dengan pandangan hidup dan cita-cita politik berbeda bahkan terkadang bertentangan.

Dikutip dari laman tirto.id, pada 18 Agustus 1945, tepat hari ini 75 tahun lalu, dua puluh tujuh orang anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dari berbagai kepulauan, termasuk keturunan Tionghoa, Arab, dan Belanda, berkumpul di gedung Chuo Sangi In (sebelumnya gedung Volksraad).

Mereka mengadakan musyawarah untuk mengesahkan konstitusi negara baru yang baru satu hari diproklamasikan ini.

Sebelumnya, ada hari-hari panjang yang telah mereka lewati dalam perdebatan sengit dan tajam mewakili nilai, norma, pandangan hidup, dan ideologi politik masing-masing.

Titik tolaknya dimulai sejak 29 Mei sampai 1 Juni 1945 ketika Sukarno menyampaikan pidato tentang Pancasila sebagai philosophische grondslag (landasan falsafah) bagi negara Indonesia merdeka.

18 Agustus 1945 menjadi klimaks dari seluruh rangkaian peristiwa. Sebagai ketua sidang, ia menyadari bahwa setiap hadirin memiliki cara pandang dan pemikiran politik berbeda yang melandasi perdebatan mereka.

Sukarno membuka rapat yang dimulai tepat pukul 11.30 dengan meminta yang hadir untuk membahas persoalan dengan “ketjepatan kilat” dan tidak tenggelam dalam “kehendak jang ketjil-ketjil tetapi menuruti garis-besar sadja jang mengandung sedjarah”.

Seperti diharapkan, pembahasan pokok sidang hari itu selesai kurang dari dua jam, sesuai dengan harapan Sukarno. Keputusan paling pentingnya: mengesahkan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional negara republik yang baru.

Sidang-sidang selanjutnya dilanjutkan pada sore hari dengan hal teknis terkait pemilihan presiden dan wakil presiden.

Mereka juga memutuskan pembentukan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang bertindak sebagai parlemen sementara bagi Republik Indonesia.

Sidang itu adalah peluit panjang pemberangkatan kereta sejarah republik yang baru. Dua puluh tujuh orang yang hadir di gedung itu adalah penumpang pertama yang membuka “pintu gerbang” menuju cita-cita ideal emansipasi warga negara republik.

Tidak ada stasiun akhir kereta itu. Setiap generasi sebagai penumpang berikutnya memiliki hak yang sama untuk melihat arah perjalanan mereka dengan cara baru sesuai laku zamannya.

Kesepakatan Agung

Setiap negara di dunia memiliki kisah sendiri tentang kesepakatan agung dalam sejarahnya. Inggris melahirkan Magna Carta pada abad ke-13 dan Amerika Serikat menghasilkan konstitusi pada 1776.

Di sisi lain, kebuntuan menciptakan kesepakatan agung dalam kehidupan bernegara membuka jalan bagi penyelesaian lain yang bersifat revolusioner seperti yang terjadi di Perancis (1789) dan Rusia (1918). Kereta sejarah hanya mengenal dua jalur tersebut dalam perjalanannya.

18 Agustus 1945 memiliki kesejajaran sejarah dengan pengalaman setiap negara dalam melahirkan kesepakatan agung tersebut.

UUD 1945 memiliki arti penting karena ia memengaruhi kehidupan rakyat banyak. Namun, lebih penting lagi, karena ia juga mewakili bagaimana orang-orang Indonesia memandang diri sendiri dan dunia luarnya.

Kita bisa membayangkan apabila para pemimpin politik Islam menolak kompromi mengubah beberapa penggal kalimat yang tercantum dalam konstitusi Republik—kemudian dikenal dengan nama Piagam Jakarta.

Bisa jadi kita akan mendapatkan wajah Indonesia yang berbeda dengan yang kita kenal sekarang. Atau Indonesia sebagai sebuah komunitas politik memang tidak pernah lahir sama sekali.

Kemungkinan seperti itu bisa saja terjadi mengingat republik yang baru lahir segera menghadapi ancaman militer dari Sekutu dan Belanda yang datang pada akhir September 1945.

Persoalannya adalah apakah mentalitas yang pernah melahirkan kesepakatan agung tersebut terus bertahan sepanjang zaman?

Ada pepatah lama negeri Tiongkok yang menyatakan kekayaan tidak bertahan sampai generasi ketiga. Generasi pertama menciptakan kekayaan. Generasi kedua mengembangkannya. Generasi ketiga menghabiskannya.

Setelah 75 tahun kemerdekaan Indonesia, pertanyaan yang sama pun muncul: Apakah kutukan generasi ketiga berlaku juga dalam perjalanan sebuah negara-bangsa?

Kemerdekaan Indonesia memang telah menciptakan putaran jam yang tidak lagi bisa ditarik mundur. Semua orang Indonesia dewasa sepertinya tidak dapat membayangkan untuk mengundang penguasa kolonial lama kembali berkuasa.

Menempatkan lagi Ratu Belanda atau Tenno Heika sebagai junjungan tertinggi negeri ini sudah pasti berada di luar bayangan banyak orang.

Namun, bagaimana mengorganisasi kehidupan bersama dalam sebuah republik adalah persoalan lain. Kita telah melihatnya dalam beragam peristiwa, seperti tergambar pada gerakan separatisme yang mewakili rasa tidak puas satu kelompok terkait cara bagaimana kehidupan bersama diatur.

Yang Abadi Hanya Perubahan

Kehidupan politik Indonesia masa kini sepertinya membenarkan peribahasa Tiongkok lama tentang pudarnya kejayaan keluarga dalam waktu tiga generasi.

Kompromi di kalangan pemimpin politik sekadar mengatur berapa banyak pundi kekayaan bertambah dan kursi kekuasaan bertahan.

Meminjam pernyataan Sukarno dalam pidatonya pada 18 Agustus 1945, dengan cara berbeda, sekarang ini memang kita hidup dalam “kehendak jang ketjil-ketjil” dan melupakan “garis-besar jang mengandung sedjarah”.

Mengatakan bahwa Indonesia akan abadi selamanya adalah seperti mengulang sejarah lama orang-orang Romawi yang menganggap imperium mereka akan terus bertahan selamanya.

Sekarang semua kejayaan itu tinggal puing-puing dan sekadar hidup dalam drama Hollywood yang mengemasnya sebagai barang dagangan. Diktum klasik ini memang benar: yang abadi hanyalah perubahan.

*(Zhr/GoWestId)

Sumber : tirto.id

Kaitan Agustus 1954, Kesepakatan Agung, pancasila, ppki, top
Redaksi 19 Agustus 2020 19 Agustus 2020
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Marlin Ajak Pramuka Putri Sosialisasikan Pemakaian Masker
Artikel Selanjutnya Terpapar Covid-19 Ringan, Tubuh Kembangkan Imunitas

APA YANG BARU?

Dikbud Karimun Terapkan SPMB Online Tahun 2026
Pendidikan 1 hari lalu 290 disimak
Kerangka Manusia Ditemukan di Area DAM Duriangkang Batam
Artikel 1 hari lalu 292 disimak
Kloter Pertama Haji Embarkasi Batam (BTH 1) Tiba
Artikel 1 hari lalu 275 disimak
Damkar Evakuasi Monyet di Lingkungan Warga Sebong Pereh
Lingkungan 2 hari lalu 387 disimak
Rencana Larangan Bawa HP ke Sekolah untuk Siswa SMA/K di Kepri, Berlaku 2027
Pendidikan 2 hari lalu 371 disimak

POPULER PEKAN INI

“Kuala Dai 1872; Bertemu Sultan Riau Lingga”
Histori 6 hari lalu 845 disimak
BBM Subsidi Pertalite: Siapa yang Layak dan Apa Acuannya?
Artikel 6 hari lalu 823 disimak
Singapore Airlines Tambah Frekuensi Penerbangan Singapura–Amsterdam
Artikel 6 hari lalu 778 disimak
Prakiraan Cuaca Kepri Jumat (29/5/2026): Berawan hingga Hujan Ringan, Waspadai Petir
Artikel 5 hari lalu 725 disimak
Polda Kepri Hentikan Kasus Kecelakaan Maut WNA Tiongkok Lewat RJ
Artikel 7 hari lalu 673 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?