Hubungi kami di

Hidup Sehat

Penjelasan Happy Hipoxia Secara Medis

nien bagaskara

Terbit

|

dr Erlina Burhan, © RS Persahabatan

DOKTER spesialis paru Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Erlina Burhan, menjelaskan mengenai salah satu gejala Covid-19 yang baru-baru ini diidentifikasi, yaitu happy hypoxia.

Erlina mengatakan, happy hypoxia merupakan suatu kondisi seseorang yang kekurangan oksigen. Namun, penderita tak mengalami sesak napas atau gejala lain, sehingga orang tersebut merasa baik-baik saja.

“Pasiennya tidak sesak, tidak kelihatan sesak jadi katanya happy-happy saja, nonton TV, masih nge-Zoom, tapi sebetulnya sudah terjadi hypoxia atau kekurangan oksigen,” kata Erlina dalam sebuah diskusi virtual, Jumat (4/9).

Erlina mengatakan, jika seseorang mengalami kekurangan oksigen, biasanya otak akan memerintahkan tubuh untuk mengambil oksigen sebanyak-banyaknya dengan bernapas lebih cepat.

Maka, setelah berolahraga atau berkegiatan berat, biasanya seseorang bernapas dengan tersengal-sengal.

Hal itu tidak terjadi pada penderita Covid-19 yang mengalami happy hypoxia.

Menurut Erlina, infeksi virus corona yang luas akan menghambat sinyal tubuh untuk memberi tahu otak bahwa telah terjadi kekurangan oksigen, sehingga penderita happy hypoxia terlihat bernapas seperti biasa.

“Pada infeksi virus Covid ini sinyal tersebut dihambat oleh inflamasi maka tidak ada sinyal ke otak,” ujar Erlina.

“Jadi kalau diperiksa darahnya kadar oksigennya rendah tetapi masih tidak sesak, tidak terlihat tersengal-sengal,” tuturnya.

Erlina menyebut bahwa happy hypoxia berbahaya lantaran dalam waktu dekat penderita akan mengalami penurunan kesadaran.

Oleh karena itu, Erlina mengimbau orang yang mengalami demam, batuk dan pusing untuk segera menghubungi fasilitas layanan kesehatan terdekat.

“Kalau Anda bergejala segeralah menghubungi fasilitas layanan kesehatan terdekat,” ujar Erlina.

“Apalagi kalau kemudian gejalanya bertambah berat, walaupun belum sesak segera datang ke rumah sakit karena kemudian di rumah sakit akan dilakukan pemeriksaan foto thorax dan diperiksa saturasi oksigen anda untuk mengetahui apakah anda kekurangan oksigen atau tidak,” tuturnya.

(*)

Sumber : Kompas

Teruskan Membaca
Advertisement
Berikan Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sebaran

Facebook