Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Warga Temukan Kerangka Manusia di Semak Bakau
    5 jam lalu
    21 Kendaraan Knalpot Brong Disita Dalam Patroli Dini Hari di Batam
    5 jam lalu
    Empat Hari Krisis Air di Batam, Warga Mulai Kesulitan
    5 jam lalu
    Kebocoran Pipa di Muka Kuning Berulang, Suplai Air Puluhan Wilayah Batam Dihentikan
    14 jam lalu
    Balita Tewas di Batam: Awalnya Dibilang Tenggelam, Ternyata Dicekik Pengasuh
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Garuda Spark Hub Resmi Meluncur
    3 hari lalu
    Pasokan Air Baku Sei Pulai dan Gesek Bertahan Lebih Baik Dibanding Waduk Batam
    4 hari lalu
    Negeri Lingga, 1861 (Bagian 1)
    6 hari lalu
    Jalan Kaki itu Membahagiakan
    7 hari lalu
    Anggaran Pendidikan Rp 820,9 Triliun Belum Sentuh Kesejahteraan Guru
    1 minggu lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Gedung Beringin, Batam
    7 hari lalu
    Rata-Rata Lama Sekolah Warga Batam Tembus 11,34 Tahun, Tertinggi di Kepri
    2 minggu lalu
    Inflasi Kota Batam Juli 2026 Stabil di Angka 3,49 Persen
    2 minggu lalu
    Bandar Udara Raja Haji Abdullah, Karimun
    2 minggu lalu
    Pengeluaran Warga Batam Melonjak Rp3,12 Juta per Bulan/ Kapita
    1 bulan lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    2 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    2 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    2 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    6 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    7 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Negeri Lingga, 1861 (Bagian 2)

Catatan Perjalanan E. Netscher

Editor Admin 4 jam lalu 62 disimak
Ilustrasi, peta Kepulauan Lingga dan pesisir timur Sumatra. © Ham

“Para kepala suku di sini juga telah bersumpah kepada Sultan untuk tidak lagi menjalani pekerjaan merompak. Sebagai bukti ketulusan, mereka telah menghancurkan semua kapal yang selama ini digunakan untuk merompak.”

Daftar Isi
II. SUNGAI BULUHIII. TELUK SEKANAIV. RETEH

…

“Bagian pantai Sumatra ini tidak menawarkan banyak keindahan. Wilayah ini adalah dataran rendah, tanpa sedikit pun ketinggian untuk memecah keseragaman pemandangan. Lumpur lebar mengelilingi pantai dan menyulitkan pendekatan ke muara-muara sungai pada saat air surut.” (E. Netscher – Tijdschrift voor Indische Taal Land- en Volkenkunde Jilid XII, Seri IV Jilid III, 1862)

Oleh: Bintoro Suryo


USAI dari pulau Lingga, pada Oktober 1861, E. Netscher melanjutkan perjalanan ke wilayah lain di Kepulauan ini.

Catatan pada bagian 2.) ini memuat 3 laporan utama perjalanannya. Di sungai Buluh, Singkep, Netscher mengunjungi wilayah tambang timah baru yang dikelola penambang Tionghoa atas nama Sultan. Di Teluk Sekana, Singkep, Netscher mengunjungi kampung bekas sarang perompak yang kini mulai menetap dan bertani atas bujukan Sultan Lingga. Sementara di wilayah Reteh, Sumatra Timur, ia menelusuri daerah taklukan Lingga yang sepi penduduk dengan potensi udang, hasil hutan, dan batu bara yang kualitasnya kurang baik.

Laporan Netscher pada bagian ini fokus pada pengamatannya di wilayah Singkep dan Reteh pada tahun 1861.

II. SUNGAI BULUH

SETELAH urusan yang membawa saya ke Lingga selesai, pada awal Oktober 1861, saya berangkat ke sungai Buluh, di pantai utara pulau Singkep yang terletak di selatan dan berhadapan dengan Lingga.

Singkep mengandung banyak timah. Selama bertahun-tahun telah dieksploitasi atas nama sultan-sultan Lingga dengan harga tetap. Tambang dikelola oleh para penambang Tionghoa.

Pulau Singkep ini bergunung. Gunung Landjoet, di timur pulau itu mencapai tinggi 1528 kaki dan dikelilingi dari semua sisi oleh bukit-bukit yang lebih rendah. Yang paling rendah berada di sebelah barat.

Di sungai Buluh ada pembukaan lahan pertambangan baru. Mulai dibuka atas nama sultan. Saya ingin mengunjungi wilayah itu untuk mendapatkan gambaran tentang cara kekayaan mineral tanah itu dimanfaatkan.

Pada pagi tanggal 1 Oktober 1861, kami berangkat dari pelabuhan Lingga. Berlayar menuju Selat Penuba yang dibentuk oleh pulau dengan nama itu di utara dan Singkep di selatan.

Penuba adalah pulau yang cukup besar. Di sana terdapat pembuatan kapal yang mendatangkan kemakmuran. Terlihat, ada beberapa kampung besar yang dibangun dengan baik dan banyak perahu. Kapal-kapal yang dibuat, bahkan hingga ukuran kapal-kapal layar besar dan dijual ke Singapura.

Pemandangan di selat itu sangat indah. Di satu sisi, pulau Penuba terdiri dari dataran tinggi, dengan teluk-teluk dalam dan dikelilingi oleh pulau-pulau kecil dengan hutan lebat. Sebagian wilayah itu dihuni. Di sisi lain pulau Singkep, tanahnya berbukit.

Sedikit di luar selat pantai yang melengkung ke arah selatan dan membentuk sebuah teluk luas (pada sisi barat yang dibatasi oleh tanjung Sembilan); bermuara beberapa sungai kecil, termasuk sungai Buluh.

Di depan sungai ini, kami berlabuh dan mendayung dengan kapal patroli menyusuri aliran sungai di sebelah utara. Air surut tidak memungkinkan kami melewati karang-karang yang menyulitkan di pintu masuk sebelah selatan. Di antara kedua aliran ini, terdapat sebuah pulau kecil, di mana beberapa orang Melayu telah membuat kebun pisang dan kelapa.

Di pertemuan keduanya itu, sungai menjadi sangat dangkal sehingga kapal patroli harus diinggal. Perjalanan dilanjutkan dengan sekoci.


SETELAH setengah jam mendayung dan menarik sekoci melalui dasar sungai yang berpasir, yang tepiannya terutama ditumbuhi pohon bakau biasa, kami tiba di sebuah rumah pribumi yang berdiri sendiri dan terlihat miskin. Penghuninya sangat terkejut dengan kedatangan kami dan memerlukan beberapa kata ramah untuk menenangkannya.

Orang-orang ini hidup terutama dari membuat gula dari sari pohon kelapa. untuk usaha itu, terdapat tiga tungku yang dibangun dengan tanah liat di dekat rumah mereka.

Dari tempat ini, ada sebuah jalan yang terpelihara sangat baik. Ada jembatan-jembatan kokoh masuk ke hutan. Beberapa ratus langkah dari sana, terdapat sebuah rumah Tionghoa besar yang masih dalam pembangunan. Rumah itu terbuat dari kayu dengan atap rumbia.

Sedikit lebih jauh, orang bisa melewati sebuah bendungan yang menahan aliran air dari sebuah sungai kecil dan membentuk kolam. Di lokasi ini ada sebuah rumah Tionghoa besar yang berfungsi sebagai tempat tinggal para penambang.

Pertama-tama, kami mengunjungi lokasi tambang yang awalnya digarap. Lokasinya berupa tanah lapang berwarna putih dengan batu-batu bulat, yang telah digali seluruhnya untuk menggali bijih timah yang halus. Tanahnya dicuci dan bijih yang tertinggal dimurnikan dari bahan-bahan asing melalui pencucian berulang-ulang.

Tempat penambangan ini sepertinya tidak akan bertahan lama dan harus ditinggalkan. Hasil bijih timah yang didapat sangat kecil, sehingga tidak sebanding dengan ongkos pekerjaannya. Para penambang tidak mendapatkan bijih timah sebanyak yang layak untuk dilebur menjadi timah selama beberapa bulan ini.


TIDAK jauh dari situ, para penambang menemukan lapisan bijih lain. Sepertinya mereka memiliki harapan lagi untuk mendapatkan bijih timah yang lebih banyak. Namun, lapisan itu berada jauh di bawah permukaan tanah, sehingga perlu melakukan penebangan hutan terlebih dahulu.

Mereka kemudian menggali lubang besar berbentuk persegi panjang untuk dapat mencapai lapisan bijih timah putih (kollong).

Ini adalah pekerjaan yang sangat sulit; sampai kedalaman lebih dari sepuluh kaki, batang-batang pohon yang setengah lapuk harus dilepaskan dan disingkirkan dari tanah hitam yang padat. Karena lubang yang digali menjadi tempat tampungan air, mereka juga harus menyalurkan air di dalamnya ke lokasi pembuangan.

Para penambang harus mendirikan kincir air untuk dapat mengosongkan tambang. Diperkirakan masih harus menggali tanah sedalam dua puluh kaki lagi sebelum menemukan lapisan bijih timah. Namun, itu juga masih sangat diragukan; apakah akan sebanding dengan kerja keras itu.

Saat ini bekerja sekitar tujuh puluh orang Tionghoa di sini. Selain pekerjaan berat, mereka juga harus bergumul dengan banyak penyakit.
Sebagai penolak bala, mereka memasang wajah manusia yang dilukis di papan, menghadap ke arah jalan di dekat rumah mereka pada sebuah tiang.

Di samping pekerjaan tambang, mereka juga sibuk menanam sayur untuk keperluan sendiri. Mereka juga memiliki cukup ayam, bebek dan angsa.

Mereka banyak bekerja pada jalan-jalan yang menuju ke tambang. Semua bangunan air mereka berada dalam keadaan sangat baik; tepi-tepi saluran diamankan terhadap longsor oleh anyaman dahan pohon.

Selain tambang yang kami kunjungi, masih ada dua atau tiga tambang lain di hutan, yang namun juga tidak banyak menghasilkan.

Pasir dari sungai Buluh juga mengandung butiran timah dan kadang-kadang dicuci oleh perempuan dan anak-anak Melayu, meskipun hanya sedikit hasilnya. Kadang-kadang, di antara bijih ditemukan juga butiran emas asli. Belum lama ini seorang perempuan beruntung menemukan butiran seperti itu seberat dua boengkal dan bernilai f 120.

Karena waktu tidak memungkinkan saya mengunjungi tambang-tambang lain, saya kembali ke kapal melalui jalan yang sama.

Catatan:

  • Boengkal = satuan berat emas lama ≈ 3.7 gram. Jadi 2 boengkal ≈ 7.4 gram emas senilai f120 gulden
  • Kollong = istilah Melayu untuk urat bijih timah
  • f = gulden Belanda
  • Penambangan timah di Singkep ini dikelola sultan Lingga dengan sistem: penambang Tionghoa kerja, lalu hasil dibeli sultan dengan harga tetap

III. TELUK SEKANA

DI barat daya teluk yang dibentuk pantai utara pulau Singkep dan ke mana juga sungai Buluh bermuara, terletak sebuah teluk bundar. Teluk itu dikelilingi dari semua sisi oleh bukit-bukit rendah dan rerimbunan pohon bakau.

Itulah Teluk Sekana, yang terkenal luas karena keberanian para perompak yang dahulu bermukim di sana.

Di pintu masuk teluk, terletak pulau kecil berbatu Boenta. Di kedua sisinya memungkinkan jalur pelayaran untuk kapal-kapal yang cukup besar.

Di teluk itu sendiri, yang kedalamannya kira-kira setengah mil dan lebarnya seperempat mil, terdapat air sedalam 3 sampai 8 depa dan merupakan tempat berlabuh yang baik.

Tiga sungai kecil bermuara di teluk ini. Yaitu Baka di tepi barat, dekat pintu masuk, Langkap di tenggara, dan Santel di timur.

Sampai belum lama ini, penduduk tepi teluk hidup semata-mata dari perompakan di laut. Aktifitas itu dilakukan mereka sampai ke pantai Jawa, Bali, Borneo, Semenanjung Malaya, bahkan hingga Siam. Mereka biasanya menargetkan penjarahan terhadap banyak kapal dagang Tionghoa. Di perairan kepulauan Riau dan sepanjang pantai Sumatra setiap tahun, banyak kapal Tionghoa yang berhasil mereka kuasai.

Mereka menjadi momok yang menakutkan bagi para pedagang Tionghoa. Sekitar setahun yang lalu, misalnya; enam puluh orang Tionghoa yang datang dengan sebuah perahu besar dari Singapura, dibantai seperti domba oleh tiga orang Sekana, yang berhasil menguasai kapal mereka dengan sebuah sampan kecil.

Alih-alih melawan, para ABK Kapal lebih memilih erjun ke laut. Hanya lima belas orang di antaranya yang berhasil menyelamatkan diri dengan berenang atau dengan berpegangan pada potongan kayu.

Sangat terpuji bagi sultan Lingga sekarang, bahwa ia berhasil membujuk sebagian besar perompak laut itu untuk meninggalkan pekerjaan lama dan mengajari mereka cara bertani.

Para kepala suku di sini juga telah bersumpah kepada Sultan untuk tidak lagi menjalani pekerjaan merompak. Sebagai bukti ketulusan, mereka telah menghancurkan semua kapal yang selama ini digunakan untuk merompak.

Warga di sini, sekarang telah membuat beberapa kebun buah dan bekerja dengan upah pada para penanam gambir Tionghoa. Atas dorongan sultan, mereka juga telah menetap di dekat teluk. Tidak akan lama lagi, sisa kelompok orang di Sekanak yang masih mengembara di laut dan menjalani aktifitas perompakan, akan mengikuti jejak saudara-saudara mereka ini.

Orang-orang ini, dari generasi ke generasi hidup dalam sikap yang bermusuhan dengan masyarakat lain, memiliki latar kejahatan. Perubahan cara hidup mereka, tidak serta merta mengubah sikap mereka secara langsung. Ada rasa ketakutan dan kecemasan tentang aktifitas yang pernah mereka lakukan itu.

Sesuatu yang wajar dan saya menganggap penting untuk menenangkan mereka dan menjanjikan perlindungan, selama mereka berperilaku tenang, tertib dan baik.

Karena itu pada bulan Oktober, saya pergi ke Sekana dengan kapal uap Z.M. Haarlemmermeer, setelah mengambil tindakan pencegahan dengan mengirim seseorang dari Lingga terlebih dahulu. Utusan tersebut memberitahu penduduk; bahwa saya tidak memiliki maksud lain selain damai dan bahwa saya ingin mereka berkumpul di rumah sang batin (yaitu gelar kepala penduduk) sebanyak mungkin.

Sesampainya di teluk, kami tidak melihat rumah di mana pun. Penduduk telah membongkar rumah-rumah lama mereka di dekat tepi laut. Sebagai gantinya, mereka membangunnya tersebar lebih ke darat.

Kami mendayung menyusuri sungai kecil Santel. Setelah melewati rerimbunan pohon bakau, air mulai menjadi jernih. Tepian daratan juga menjadi padat.

Setelah seperempat jam mendayung, kami melihat ada tiga rumah. Kondisinya menyedihkan; terbuat dari rumbia dan tikar kadjang. Sebuah rumah yang lebih baik, yang sedang dibangun dan yang dinding sampingnya belum ada, disiapkan untuk penyambutan kami. Ada sekitar 150 orang Sekana yang telah berkumpul.

Mereka, secara umum memiliki penampilan miskin, ala kadarnya. Tetapi tidak berbeda dalam hal apa pun dari orang Melayu biasa dari golongan bawah.

Saat pertemuan, mereka mendengarkan dengan penuh perhatian pembacaan beberapa peraturan yang ditinggalkan oleh Yang Dipertuan Muda Riau kepada sang batin. Mereka juga berjanji akan terus berperilaku baik dan membujuk kawan-kawan mereka yang masih mengembara untuk menetap bersama mereka.

Dengan penuh perhatian dan minat, mereka menerima sebotol bibit tembakau yang saya berikan kepada sang batin untuk kepentingan umum. Mereka berjanji akan menanam bibit itu dengan cara yang saya jelaskan

Sampai sekarang, mereka masih sangat sedikit memahami pertanian. Tetapi, jika mereka benar-benar berhenti mengembara di laut, mereka akan belajar cara mengolah tanah untuk penghidupan mereka. Tanah subur pulau Singkep akan memberi ganjaran berlimpah atas usaha yang harus mereka lakukan untuk itu.


SAYA meninggalkan Sekana dengan keyakinan, bahwa di sini telah diambil satu langkah lebih jauh demi kepentingan perdagangan dan pelayaran. Aktifitas perompakan di perairan ini segera akan menjadi bagian masa lalu.

Di sini, bujukan akan menghasilkan sesuatu yang lebih bertahan lama daripada kekuatan senjata. Karena, penghukuman berulang-ulang terhadap para perompak Sekana dan penghancuran tempat tinggal mereka sebelumnya, hanya berakibat bahwa kejahatan itu berpindah tempat, tetapi tidak berkurang secara nyata.


Catatan:

  • depa / vadem = satuan kedalaman laut ≈ 1.7 meter. Jadi 3-8 depa = 5-14 meter
  • Sekana = Sekanak, dulu sarang perompak terkenal di Kepulauan Singkep
  • Gambier = gambir, komoditas ekspor penting Riau abad 19
  • Batin = kepala adat

IV. RETEH

DARI Sekana, perjalanan dilanjutkan ke Reteh. Sebuah daerah taklukan sultan Lingga di ujung timur Sumatra. Wilayahnya berbatasan di selatan dengan kerajaan Jambi dan di utara dengan Indragiri.

Bagian pantai Sumatra ini tidak menawarkan banyak keindahan. Wilayah ini adalah dataran rendah, tanpa sedikit pun ketinggian untuk memecah keseragaman pemandangan. Lumpur lebar mengelilingi pantai dan menyulitkan pendekatan ke muara-muara sungai pada saat air surut.

Sungai Reteh bermuara ke laut melalui tiga muara, yang dinamai, dari utara ke selatan, yakni sungai koewala Batabarang, koewala Tengah dan Koewala Terap. Yang terakhir merupakan sungai terdalam dan karena itu dipilih untuk dilayari oleh kapal Haarlemmermeer.

Sekitar dua mil dari muara, ketiga cabang sungai itu bergabung menjadi sungai Batang. Sementara enam mil lebih ke hulu, terlihat bahwa sungai Batang terbentuk oleh pertemuan sungai Batang Gangsal, yang datang dari barat, dan sungai Reteh, yang dari selatan. Alirannya mengalir tegak lurus ke Gangsal.

Sumber dari sungai Gangsal terletak jauh di barat. Saya tidak punya waktu untuk mengumpulkan keterangan yang lebih teliti mengenai hal itu.

Penduduk daerah yang saya kunjungi jarang menyusuri sungai ke hulu. Mereka terutama hidup dari penangkapan ikan. Namun mereka juga pernah mendengar tentang keberadaan sebuah danau di pedalaman.

Reteh bermula di daerah berbukit di perbatasan wilayah Jambi.

Di tempat ketiga cabang muara sungai itu bergabung, bermuara pula ke dalamnya sungai Sampi yang datang dari utara. Perairan sungai itu merupakan tempat terjadinya perlawanan panglima besar Soeloeng, yang sampai akhir hayatnya membela perkara tuannya, sultan Lingga yang diturunkan pada tahun 1857, Machmoed Moethlafar Sjah.

Tetapi usahanya sia-sia. Sebuah ekspedisi militer yang dikirim dari Riau, pada November 1858, merebut benteng-bentengnya. Ia sendiri akhirnya gugur dalam pertempuran itu.

Sejak itu, daerah ini sebagian besar ditinggalkan. Penduduknya pindah lebih ke bagian hulu sungai.

Baru di tempat ketiga cabang muara itu berpisah, terlihat beberapa rumah nelayan. Pekerjaan utama mereka adalah menangkap udang dalam jumlah besar. Udang hasil tangkapan itu, kemudian dikeringkan dan diekspor ke Singapura untuk pasar Siam dan Tiongkok.

Namun udang itu berkualitas buruk dan memiliki rasa lumpur yang sangat kuat.

Lebih ke hulu, hanya terdapat di sana-sini gubuk sementara milik orang yang mengolah ladang padi kering. Tepian di sini tidak ditumbuhi pohon bakau seperti di tempat lain. Tetapi memiliki dasar yang cukup padat dengan semak belukar. Di beberapa tempat tepah dibersihkan untuk penanaman padi.

Cara penanamannya sama dengan penanaman padi sawah di pulau Jawa. Benih padi ditabur di bedengan pembibitan yang basah. Setelah tumbuh sampai ketinggian tertentu, dipindahkan.

Karena tanahnya hanya dibersihkan apa kadar dan tidak dilunakkan dengan pengairan, jarang lebih dari sepersepuluh dari bibit padi yang dipindahkan itu tumbuh. Padi yang tumbuh pun berkualitas sangat buruk.


SUNGAI itu memiliki lebar yang cukup besar. Kedalamannya pun ternyata cukup bagi kapal Haarlemmermeer untuk berlayar sampai ke pertemuan sungai Gangsal dan Reteh. Sejauh ini, belum pernah ada kapal perang sebelumnya – menurut keterangan orang pribumi – yang menyusuri sungai Gangsal lebih jauh lagi ke dalam.

Perbedaan ketinggian air di sungai sangat besar dan mencapai sampai sepuluh kaki. Pasang dan surut juga mengalir dengan kekuatan besar, sehingga sangat bergantung pada pasang surut untuk dapat masuk dan keluar sungai. Namun tidak ada bahaya di sungai itu. Dasarnya terdiri dari lumpur lembut, sehingga dengan kapal berpenarikan 12 kaki, tidak banyak bahaya terdampar lama atau mengalami kerusakan.

Titik pertemuan sungai Gangsal dan Reteh, tempat kapal Haarlemmermeer berlabuh, terletak sekitar delapan mil dari muara. Dari sana dapat diawasi segala sesuatu yang datang dari daerah hulu. Karena itu, tempat ini juga dipilih untuk mendirikan kampung Kota-baroe, tempat dahulu panglima besar tinggal dan sekarang berdiam seorang wakil dari Yang Dipertuan Muda Riau.

Sedikit lebih ke hulu, di sungai Gangsal, terletak kampung ‘Sang Bandar’. Kampung dari seorang yang termasuk bangsa perompak Ilano, yang belum lama ini memegang kekuasaan di Reteh. Mereka tergabung yang dalam aktifitas panglima besar Soeloeng di masa sebelumnya.

Sang bandar pun sampai sekarang masih gemar melakukan penjarahan. Tetapi, aktifitasnya semakin dipersulit.

Kota-baroe terdiri dari sekitar dua puluh rumah Melayu yang bagus. Ada juga sebuah masjid kayu, yang pada hari Jumat, ramai dikunjungi orang. Kampung sang bandar sendiri, berisi sekitar sepuluh rumah yang cukup besar.

Di Kota-baroe terdapat cukup banyak perdagangan. Terutama rotan, damar, getah perca dan hasil hutan lain. Semuanya dimuat ke perahu laut yang cukup besar dan diekspor ke Singapura. Di sini juga tinggal para pedagang Tionghoa.

Beberapa hari perjalanan menyusuri Reteh, diketahui terdapat lapisan batu bara. Pada tahun 1849 lapisan itu pernah dikunjungi oleh letnan laut G. F. de Bruijn Kops dan perwira kesehatan angkatan laut C. J. H. Huberwald.

Namun batu bara itu ternyata berkualitas kurang baik. Juga penambangan dan pengangkutan batu bara itu pasti sangat sulit, sehingga penambangan yang diusahakan oleh sultan Lingga terakhir mengalami kegagalan.

Pada cuaca cerah, dari Kota-baroe terlihat puncak gunung Berapi di pedalaman Padang. Selebihnya, seluruh negeri terlihat datar dan ditutupi hutan lebat. Penduduk yang sedikit, tinggal tersebar di sana-sini.

Kepadatan penduduk baru ada lagi di lokasi yang makin ke pedalaman, mendekati daerah pegunungan. Lokasinya kira-kira di tengah Sumatra. penduduk agak bertambah dan pertambahan itu semakin besar mendekati pantai barat.

Riau, 12 Oktober 1861.

(*)

Selesai


Catatan:

  • Koewala = kuala = muara
  • Panglima besar Soeloeng = tokoh perlawanan pro-Sultan Mahmud tahun 1858, gugur dalam pertempuran melawan tentara Belanda.
  • Ilano = Iranun, kelompok pelaut-perompak dari Filipina selatan
  • Getah pertja = getah perca
  • Laki / voet = ± 0.3 meter. Jadi 10 kaki ≈ 3 meter, 12 kaki ≈ 3.6 meter
  • Mijlen = mil Belanda ≈ 5.5 km
Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com

Kaitan Elisa Netscher, History, kepri, lingga, Riau lingga, sejarah
Admin 30 Agustus 2026 30 Agustus 2026
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Warga Temukan Kerangka Manusia di Semak Bakau

APA YANG BARU?

Warga Temukan Kerangka Manusia di Semak Bakau
Artikel 5 jam lalu 67 disimak
21 Kendaraan Knalpot Brong Disita Dalam Patroli Dini Hari di Batam
Artikel 5 jam lalu 72 disimak
Empat Hari Krisis Air di Batam, Warga Mulai Kesulitan
Artikel 5 jam lalu 81 disimak
Kebocoran Pipa di Muka Kuning Berulang, Suplai Air Puluhan Wilayah Batam Dihentikan
Artikel 14 jam lalu 80 disimak
Balita Tewas di Batam: Awalnya Dibilang Tenggelam, Ternyata Dicekik Pengasuh
Artikel 2 hari lalu 140 disimak

POPULER PEKAN INI

Pasokan Air Baku Sei Pulai dan Gesek Bertahan Lebih Baik Dibanding Waduk Batam
Lingkungan 4 hari lalu 335 disimak
Rabu (26/08) Malam, Air Batam Hilir Matikan Sementara Di Berbagai Wilayah di Batam
Artikel 4 hari lalu 334 disimak
Aplikasi IKD Permudah Masyarakat Mengurus Administrasi Kependudukan
Artikel 4 hari lalu 304 disimak
Singapura Siapkan Reklamasi Tiga Pulau di Hadapan Batam
Artikel 4 hari lalu 303 disimak
Dugaan Selundupkan 800 Kg Ketamine, Kapal Kargo Berbendera Komoro Disergap di Perairan Anambas
Artikel 4 hari lalu 303 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?