KUALITAS udara di wilayah Tanjungpinang dan Bintan, Kepulauan Riau, resmi masuk dalam kategori tidak sehat. Fenomena kabut asap yang makin pekat di sejumlah titik memicu kekhawatiran masyarakat akan dampak kesehatan yang ditimbulkan.
Berdasarkan pemantauan kualitas udara, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) US di Tanjungpinang mencapai 171, yang masuk kategori tidak sehat (Unhealthy). Polutan utama yang terdeteksi adalah PM2.5, partikel halus yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Kondisi cuaca saat pemantauan juga menunjukkan atmosfer Tanjungpinang berada dalam kondisi smoke atau berkabut asap. Suhu mencapai sekitar 32 derajat Celsius dengan suhu yang terasa hingga 38 derajat Celsius
“Hindari bakar rokok ilegal. Sudah kabut makin berasap lagi!” tulis pesan yang beredar luas di tengah warga.
Kelompok rentan dan masyarakat yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap polusi diminta untuk ekstra berhati-hati. Langkah antisipasi mandiri menjadi prioritas guna menekan risiko gangguan pernapasan.
Langkah Antisipasi bagi Masyarakat
- Kurangi aktivitas di luar ruangan jika kondisi udara terus memburuk.
- Gunakan masker saat harus berada di area yang berasap atau berdebu.
- Stop pembakaran sembarangan agar konsentrasi polutan tidak semakin parah.
Pemerintah daerah dan instansi berwenang meminta masyarakat Tanjungpinang serta Bintan untuk tidak panik, tetapi tetap memantau pembaruan data kualitas udara secara berkala melalui saluran informasi resmi.
Sementara itu, hasil pengamatan alat observasi di Stasiun Meteorologi Kelas II Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang menunjukkan jarak pandang mendatar berada pada kisaran 2 hingga 6 kilometer.
Penurunan jarak pandang ini dinilai signifikan dan dapat mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk operasional penerbangan di Bandara Raja Haji Fisabilillah, terutama apabila jarak pandang turun hingga di bawah 5 kilometer.
Prakirawan BMKG Tanjungpinang, Rizqi Nur Fitriani mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan dalam beberapa hari ke depan.
Cuaca yang relatif kering serta kondisi angin yang dapat membantu penyebaran api dan asap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Masyarakat juga diminta mencermati perubahan cuaca yang dapat terjadi dengan cepat, terutama saat beraktivitas di luar ruangan maupun di wilayah perairan.
(nes)


