SEKTOR bisnis dan pariwisata di Kota Batam bisa terdampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Lumpuhnya akses penerbangan akibat abu vulkanik kini mengancam ekonomi daerah di Batam.
Lumpuhnya konektivitas udara memicu efek domino yang tidak hanya menahan laju wisatawan, tetapi juga mengganggu mobilitas logistik dan agenda bisnis berskala internasional.
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menegaskan bahwa gangguan pada alur keluar-masuk orang dan barang secara langsung memukul fondasi ekonomi Batam sebagai pusat logistik dan industri Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE).
Dampak gangguan udara ini bahkan merembet ke agenda diplomasi dan investasi Pemko Batam. Amsakar mengaku terpaksa batal menghadiri pertemuan langsung dengan Putri Ratu Swedia di Jakarta. Selain itu menurutnya, pembahasan MoU terkait kelistrikan yang merupakan kelanjutan dari pertemuan tersebut terpaksa diwakilkan oleh Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, yang sudah lebih dulu berada di Ibu Kota.
Amsakar berharap pemerintah pusat segera memberikan kejelasan terkait pembukaan kembali ruang udara setelah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta memantau pergerakan abu vulkanik.
“Harapan kita dua atau tiga hari ke depan sudah ada pengumuman resmi dari pemerintah untuk membuka kembali alur penerbangan kita,” ujar Amsakar.
Ia menekankan bahwa keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama karena faktor alam ini. Namun, kepastian sangat dibutuhkan agar agenda-agenda bisnis yang tertunda bisa segera dijadwalkan ulang.
Gangguan penerbangan ini terjadi di tengah performa sektor pariwisata Batam yang sedang menanjak tajam. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat lonjakan signifikan pada kunjungan wisatawan mancanegara (wisman):
| Periode (Januari–Juli) | Jumlah Kunjungan Wisman |
| 2025 | 861.997 kunjungan |
| 2026 | 964.457 kunjungan |
Wisman asal Singapura, Malaysia, dan China masih menjadi penyumbang terbesar dalam angka pertumbuhan tersebut.
Amsakar mengkhawatirkan, jika pembatalan penerbangan berlarut-larut, pemulihan konektivitas akan memakan waktu lebih lama dan menahan laju wisman yang sedang tinggi-tingginya di tahun ini.
(dha)


