BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) berada di angka 6,45 persen pada Mei 2026. Kendati menurun dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 6,87 persen, angka ini menempatkan Kepri sebagai salah satu provinsi dengan TPT tertinggi secara nasional, berada di bawah Papua (7,08%), Jawa Barat (6,61%), dan Banten (6,48%).
Tingginya angka pengangguran tersebut menuai perhatian dari Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq. Menurut Fajar, penanganan pengangguran tidak bisa sekadar mengandalkan penambahan jumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), melainkan harus berfokus pada keselarasan (link and match) antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri.
“Di Batam, pertumbuhan SMK sangat pesat dan animonya tinggi. Hal ini sebenarnya peluang untuk menyiapkan tenaga kerja sesuai karakter industri daerah, tetapi bertambahnya lulusan tidak otomatis menjamin seluruhnya terserap pasar kerja,” ujar Fajar.
Ia menjelaskan bahwa daya serap industri lokal memiliki keterbatasan dan spesifikasi khusus. Oleh karena itu, solusi atas permasalahan pengangguran memerlukan komitmen dua arah: sektor pendidikan harus mampu mencetak lulusan yang kompeten, sementara pemerintah perlu memperluas ketersediaan lapangan kerja melalui dorongan investasi domestik maupun asing.
Lebih lanjut, mantan Staf Khusus Mendikbud tersebut mengimbau para lulusan SMA dan SMK untuk tidak hanya terpaku pada pasar kerja lokal di Batam. Keterampilan yang dimiliki diharapkan cukup fleksibel untuk menangkap peluang kerja di daerah lain hingga mancanegara.
“Bapak Presiden juga mendorong penguatan program pekerja migran. Peluang bagi lulusan SMA dan SMK untuk bekerja di luar negeri dibuka lebar agar angka pengangguran lulusan vokasi terus menurun,” pungkasnya.
(dha)


