Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Gubernur BI Mendadak Mundur, Prabowo Siapkan Kepres Pemberhentian
    11 jam lalu
    Aniaya Seorang Warga Hingga Meninggal, Seorang Anggota Denpom jadi Tersangka
    23 jam lalu
    Unit Reskrim Polsek Bintan Timur Ringkus Pria Pemeras 10 Anak di Mantang
    1 hari lalu
    Penuh Tawa dan Nostalgia, Mantan Pegawai Pemko Batam Sambut HUT RI ke-81 di Taman Kolam
    2 hari lalu
    KKP dan BP Batam Bangun Kerjasama Permudah Layananan Sertifikasi Mutu Hasil Laut
    2 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Alun-Alun Engku Putri Penuh Sorak, Event FIBA 3×3 2026 Ramaikan Batam
    1 hari lalu
    Bungkam China 22-9, Belanda Juara FIBA 3×3 Women’s Series Batam 2026
    2 hari lalu
    Curhat Penyandang Keterbelakangan Mental
    4 hari lalu
    31 Tim Basket 3×3 Internasional Mulai Berlaga di Batam Hari ini
    5 hari lalu
    KKP Lebur 11 Politeknik Menjadi Satu Bernama Institut Kelautan Indonesia
    5 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Pengeluaran Warga Batam Melonjak Rp3,12 Juta per Bulan/ Kapita
    6 hari lalu
    Tun Abdul Jamal (Temenggung Johor Riau 1757 – 1802)
    1 minggu lalu
    Realisasi Belanja Pemko Batam per Juli 2026
    3 minggu lalu
    Lebah Bergantung (Lebah Bergayut)
    3 minggu lalu
    Pulau Los, Tanjungpinang
    3 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    1 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    1 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    1 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    5 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    6 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

“Kisah Pengungsian Warga Rempang 79 Tahun Lalu”

Editor Admin 3 bulan lalu 3.5k disimak
Peta pulau Rempang dan Galang di gugus kepulauan Barelang. Disediakan oleh GoWest.ID

PULAU Rempang yang terletak di gugus kepulauan besar Batam – Rempang – Galang, sudah didiami orang sejak lama. Sebuah catatan jurnalis Singapura, Beck Swee Hoon, dalam laporannya yang terbit di surat kabar The Strait Times pada 7 Oktober 1946 : “Kepala Jernih: a story of the Rhio Archipelago”, melaporkan tentang kisah pengungsian warga setempat di sana karena kedatangan serdadu Jepang.

Oleh: Bintoro Suryo


SEKITAR 1.000 penduduk Rempang, terdiri dari 400 jiwa Melayu dan 600 jiwa Tionghoa, terpaksa mengungsi ke Pulau Kepala Jeri saat itu. Peristiwa terjadi pada bulan Oktober 1945, dipicu oleh rencana kedatangan pasukan Jepang ke Pulau Rempang paska kekalahan mereka dalam Perang Dunia II.

Pengungsian massal ini diberlakukan atas perintah tentara Inggris yang saat itu menguasai wilayah tersebut. Hanya dalam waktu 4 hari, penduduk Rempang diharuskan meninggalkan rumah dan kampung halaman mereka.

Jurnalis Singapura, Beck Swee Hoon , mendokumentasikan peristiwa ini dalam laporannya setahun kemudian, terbit tanggal 7 Oktober 1946 menceritakan bagaimana penduduk Rempang diberitahu tentang rencana pengungsian dan dijanjikan bantuan logistik selama berada di Kepala Jeri.

Artikel di surat kabar The Straits Times edisi 7 Oktober 1946 yang memuat kisah pengungsian warga di pulau Rempang ke pulau Kepala Jeri. © The Straits Times/ NLB

Pulau Kepala Jeri (dalam artikel disebut oleh Beck Swee Hoon sebagai Kepala Jernih, pen) adalah sebuah pulau lain di sekitar perairan Batam, berada lebih dekat dengan selat Singapura. Saat ini masuk dalam tata wilayah pemerintahan Batam di kecamatan Belakangpadang.

Meskipun diliputi kecemasan, dalam laporannya, Beck Swee Hoon menyebut bisa menenangkan warga dan membantu mereka mempersiapkan kepindahan dalam waktu singkat. Ia turut merasakan dilema, di satu sisi harus menyampaikan kabar pahit pengusiran, di sisi lain harus mencari perlindungan dari penduduk yang ia bantu pindahkan.

Pada tanggal 8 Oktober 1945, seribu penduduk Rempang beserta barang bawaan mereka dievakuasi dengan kapal cepat ke Pulau Kepala Jeri. Setibanya di sana, mereka menerima pemeriksaan kesehatan, terutama obat malaria, dan bantuan medis dari dokter yang disediakan tentara Inggris.

Saat itu, harta benda yang ditinggalkan di Rempang dihitung dan dinominalkan sebagai kompensasi yang diberikan kepada penduduk setiap bulan. Mereka diyakinkan bahwa pengungsian ini bersifat sementara, hanya sampai seluruh pasukan Jepang kembali ke negara asal mereka.

Berikut catatan Beck Swee Hoon seperti dinukil tim GoWest.ID dari perpustakaan nasional Singapura:


Kami sampai di Rempang setelah bermalam di laut, dan setelah menyelidiki kondisi di pulau tersebut, terutama persediaan air, fasilitas untuk kapal pendarat, dll. Kami kemudian kembali ke Singapura untuk membuat pengaturan lebih lanjut.

Saya tinggal di Seranggong, di Rempang, bersama tentara negara. Tugas saya menyebarkan berita kepada masyarakat sungai Raya, selat Tiong, Dapur Anam, Goba, Sembulang,. Pasir Panjang, Rempang, Monggak dan telok Dalam, serta Seranggong bahwa mereka harus meninggalkan daerah tersebut dalam waktu empat hari agar tawanan perang Jepang dapat masuk.

Itu merupakan kejutan yang mengerikan bagi semua penduduk desa, tapi saya berhasil menjaga suasana hati mereka tetap ramah. Semua warga di sini diberikan jatah makanan dan kartu yang memungkinkan mereka meminta jatah dari pihak militer ketika mereka berada jauh dari pulau Rempang.

Evakuasi tersebut melibatkan sekitar 600 orang Tionghoa dan 400 orang Melayu. Mata pencaharian mereka adalah pancang ikan (kelong) yang dibangun di dekat pantai, dan membuka hutan untuk dijadikan perkebunan pohon karet, kelapa, gambir dan buah-buahan yang tumbuh subur. Mereka juga memelihara ternak seperti babi, bebek dan ayam.

Arang diproduksi terutama di Dapor Anam yang namanya diambil dari oven arang besar di sana. Bagi saya itu adalah hal yang sulit dan bahkan berbahaya – berbahaya bagi orang asing bagi penduduk desa tersebut – karena harus mengusir mereka dari rumah dan kebun mereka dalam waktu singkat seperti empat hari. Saya harus berbicara beberapa dialek seperti teo-chew, loo-chiu, Hokien, Hylam, Kanton, dan Melayu agar mereka mengerti apa yang ingin dilakukan otoritas Inggris.

Kesalahan penanganan apa pun yang saya lakukan mungkin akan menimbulkan perasaan tidak enak dan juga menimbulkan bahaya bagi saya mengingat posisi saya yang saat itu bermukim di tempat tinggal mereka pada malam hari saat menjalankan misi saya ke berbagai desa.

Pada suatu kesempatan saya bertanya kepada seorang Tionghoa apa yang ingin dia lakukan terhadap kawanan babinya. Dia menjawab: “Saya ingin tentara membeli semuanya karena saya tidak dapat membawanya, dan jika Anda tidak membelinya, saya harus meninggalkan mereka untuk memberi makan orang Jepang”.

Saya senang bisa berjanji kepadanya bahwa hal ini akan terlaksana. Orang Cina malang lainnya harus meninggalkan sekawanan anjing Aisatian yang ia pelihara untuk mencegah tanamannya dirusak oleh babi hutan dan satwa liar lainnya.

Tempat berkumpul yang telah ditentukan ditandai untuk para pengungsi pada tanggal 8 Oktober 1945, para pengungsi dibawa dengan kapal pendarat cepat ke pulau Kepala Jernih. Setibanya di lokasi baru, diberikan obat-obatan gratis – terutama pil malaria – dan yang sakit ditangani oleh dokter khusus tentara.

Selain itu, jatah juga diberikan, harta benda yang ditinggalkan di Rempang dinilai oleh penguasa militer dan pembayaran kompensasi diberikan kepada mereka setiap bulan. Mereka diberitahu bahwa mereka hanya perlu menjalani kehidupan di pulau Kepala Jernih untuk sementara waktu, dan akan diperbolehkan kembali ke rumah segera setelah orang Jepang tersebut telah dikirim kembali ke Jepang.

Berkat kecepatan yang dilakukan pihak berwenang Inggris dalam melakukan proses repatriasi, masyarakat Rempang kini dengan gembira bisa kembali ke rumah dan kebun mereka.


Sementara itu, surat kabar Indian Daily Mail terbitan 18 Februari 1946 menyebutkan bahwa 18 kampung di Rempang akan menerima kompensasi dari Inggris saat itu. Kampung-kampung tersebut antara lain Seranggong, Tioeng, Goba, Semboelang, Mangga Landjoet, Rempang, Telok Dalam, Tanjung Datar, Kampung Tengah, Tandjoeng Kedoeng, Dapoer Anam, Tandjoeng Batoe, Tandjoeng Dondang, Tanjoeng Kertang, Telok Kapaok, Air Nanti, Soengai Atih, dan Klingking.

(ham)

Kaitan batam, galang, History, jepang, Rempang, sejarah, singapura
Admin 29 April 2026 29 April 2026
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih1
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Piala AFF U19 2024 | Raih Nilai Sempurna, Timnas Garuda Muda Lolos ke Semifinal
Artikel Selanjutnya Ketika Pulang dengan Sepatu Bersih

APA YANG BARU?

Gubernur BI Mendadak Mundur, Prabowo Siapkan Kepres Pemberhentian
Artikel 11 jam lalu 118 disimak
Aniaya Seorang Warga Hingga Meninggal, Seorang Anggota Denpom jadi Tersangka
Artikel 23 jam lalu 115 disimak
Alun-Alun Engku Putri Penuh Sorak, Event FIBA 3×3 2026 Ramaikan Batam
Sports 1 hari lalu 198 disimak
Unit Reskrim Polsek Bintan Timur Ringkus Pria Pemeras 10 Anak di Mantang
Artikel 1 hari lalu 163 disimak
Penuh Tawa dan Nostalgia, Mantan Pegawai Pemko Batam Sambut HUT RI ke-81 di Taman Kolam
Artikel 2 hari lalu 172 disimak

POPULER PEKAN INI

ABH Lakukan Penyambungan Pipa Air, Berikut Wilayah yang Akan Terdampak
Artikel 7 hari lalu 839 disimak
KKP Lebur 11 Politeknik Menjadi Satu Bernama Institut Kelautan Indonesia
Pendidikan 5 hari lalu 347 disimak
BP Batam Rekonstruksi Total Jalan Gajah Mada Mulai 25 Juli, Arus Dialihkan
Artikel 3 hari lalu 313 disimak
Urusan Paspor di Imigrasi Batam? Jangan Lupa Bawa Dokumen Asli
Artikel 2 hari lalu 303 disimak
Diduga Puting Beliung Sapu Kawasan PT VME Batu Ampar, Sejumlah Bangunan Rusak
Artikel 5 hari lalu 301 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?