PENYUSUTAN drastis air baku di Waduk Nongsa, Batam, mulai memberi sinyal bahaya bagi keberlangsungan kawasan industri strategis nasional. Muka air waduk saat ini anjlok hingga 3,67 meter dari batas normal, menempatkan pasokan air operasional fasilitas Data Center di kawasan Nongsa dalam posisi rawan.
Berdasarkan pencatatan Badan Pengusahaan (BP) Batam, elevasi Waduk Nongsa kini tersisa 6,33 meter, jauh dari kondisi penuh yang berada di titik 10 meter. Penurunan debit ini dipicu oleh efek fenomena El Nino yang diproyeksikan BMKG bertahan hingga akhir 2026, minimnya curah hujan di daerah tangkapan air (DTA), serta lonjakan konsumsi seiring pesatnya kawasan tersebut.
Dampak dari krisis air ini langsung memaksa Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Nongsa memangkas kapasitas produksinya secara signifikan, dari yang semula 80 liter per detik (lps) kini merosot menjadi 50 lps.
Pengurangan pasokan secara bertahap ini menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan operasional kawasan industri, khususnya Nongsa Digital Park (NDP) yang membutuhkan pasokan air yang andal dan konstan untuk pendinginan sistem Data Center.
“Kami terus memantau dinamika elevasi ini untuk memastikan operasional pengolahan air tetap berjalan aman,” sebut Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano.
Menanggapi ancaman krisis air pada kawasan industri dan permukiman sekitar, BP Batam langsung mengambil langkah darurat untuk mengamankan suplai. Denny menegaskan bahwa operasional NDP tidak bisa lagi menggantungkan harapan pada Waduk Nongsa yang kian mengering.
Sebagai solusi cepat, skema pasokan air untuk kawasan NDP kini dialihkan dan dialokasikan dari jaringan utama yang bersumber dari Waduk Duriangkang melalui sistem booster, sementara Waduk Nongsa digeser fungsinya sekadar menjadi penyokong cadangan.
Di saat yang sama, BP Batam juga harus menjaga agar pasokan air rumah tangga warga tidak ikut terganggu. Sejumlah langkah rekayasa jaringan teknis pun dikejar, di antaranya:
- Pemasangan pipa baru berdiameter 160 milimeter segmen GIA Residence–Bida 3.
- Interkoneksi jaringan pipa 110 milimeter di kawasan Bida 3.
- Pemasangan boundary valve di Rhabayu Attura.
Untuk mempertahankan daya tampung Waduk Nongsa yang tersisa, BP Batam juga mengencangkan patroli DTA dari ancaman perusakan lingkungan, menggalakkan penanaman pohon, serta melakukan pengerukan sedimentasi lumpur (normalisasi) dan pembuatan kolam pengendap sedimen.
Solusi Jangka Panjang: Desalinasi Air Laut (SWRO) untuk Data Center
MENGINGAT ekspansi Data Center di Nongsa diprediksi akan terus melonjak dan tidak bisa lagi bergantung pada pasokan air darat yang makin terbatas, BP Batam menyiapkan solusi permanen berupa teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau desalinasi.
Melalui teknologi SWRO, air laut akan diolah menjadi air baku untuk menyokong kebutuhan operasional pendinginan Data Center secara mandiri tanpa membebani waduk.
Saat ini, proyek desalinasi tersebut sedang dalam tahap perizinan serta penyusunan desain teknis, dan pengembangannya akan direalisasikan secara bertahap sesuai kebutuhan masing-masing pengembang Data Center.
“Dengan demikian, keandalan pasokan air untuk kawasan strategis nasional maupun permukiman warga sekitar tetap terjamin dan dapat terpenuhi secara optimal,” tegas Denny.
(ham)


