“lokasi prasasti pasir panjang saat itu, masih terletak persis di lereng batu granit yang langsung berhadapan dengan perairan laut.’
..
“Waktu pendokumentasian prasasti pasir panjang pada 29 Juli 1955, juga sejalan dengan masa tugas Encik M. Apan sebagai bupati Kepulauan Riau masa itu (15 Mei 1954 – 31 Juli 1955).”
…
“Sebuah bendera dari suku laut akit terpasang persis pada lokasi; sebagai penanda situs bersejarah tersebut.”
Oleh: Bintoro Suryo
DINAS Purbakala Republik Indonesia pernah menggelar ekspedisi arkeologi ke wilayah Sumatra pada tahun 1954. Fokusnya meneliti era masa Kerajaan Sriwijaya melalui artefak atau prasasti yang pernah ditemukan pada masa lalu.
Penelitian dan dokumentasi diinisiasi oleh R. Soekmono seorang arkeolog dan sejarawan yang saat itu menjabat sebagai kepala dinas purbakala Republik Indonesia. Ia bekerjasama dengan sejarawan lain seperti Satyawati Suleiman, Soejono, Boechari, Uka Tjandrasasmita, Basoeki dan arkeolog asal Belanda.
Misi utama ekspedisi ini adalah menginventarisasi cagar budaya nasional paska kemerdekaan.
Pada 29 Juli 1955, bagian tim ekspedisi tiba di Karimun dan melakukan pendokumentasian terhadap situs prasasti pasir panjang. Hasil dokumentasi juga disimpan di museum Leiden. Berkode Oudheidkundige Dienst (OD), tepatnya nomor registrasi OD-20248 hingga OD-20253. Arsip foto ini merekam fisik tulisan kuno dan lanskap asli tebing batu itu sebelum kawasan di sekitarnya berubah menjadi area pertambangan komersial seperti sekarang.
Kode OD-20248 hingga OD-20253 merupakan nomor registrasi negatif film/foto spesifik yang disimpan. Total ada 6 lembar foto resmi (dari nomor 20248 sampai 20253) yang diambil oleh tim ekspedisi saat itu.






Kegiatan dokumentasi prasasti Pasir Panjang di Karimun pada tahun 1955. © F. Museum Leiden
Yang menarik, lokasi prasasti pasir panjang saat itu, masih terletak persis di lereng batu granit yang langsung berhadapan dengan perairan laut. Tidak seperti kondisi saat ini yang sudah direklamasi, dikelilingi dan masuk dalam area pertambangan Karimun granit.

Yang juga menarik pada kegiatan pendokumentasian tahun 1955 di Karimun ini; pada sosok berbaju putih yang ikut dalam ekspedisi. Tidak ada penjelasan tentang deskripsi sosok orang yang tergambar dalam foto. Namun diduga merupakan Bupati pertama Kepulauan Riau masa itu, Encik M. Apan.



Waktu pendokumentasian prasasti pasir panjang pada 29 Juli 1955, juga sejalan dengan masa tugas Encik M. Apan sebagai bupati Kepulauan Riau masa itu (15 Mei 1954 – 31 Juli 1955).

Dugaan juga diperkuat latar belakangnya di masa lalu yang lekat dengan penelitian sejarah. Pada masa kolonial Belanda, Encik M. Apan sempat menjabat pegawai pemerintah kolonial Belanda. Ia sempat menerbitkan laporan kajian tentang perkembangan adat dan sosio politik dan sejarah masyarakat Kepulauan Riau sekitar tahun 1934.

Lokasi Prasasti di Kawasan Eksplorasi Granit
KAWASAN Pasir Panjang, Pulau Karimun mulai dieksplorasi potensi sumberdaya batuan granitnya secara nasional pada awal dekade 1970-an. Kegiatan industri itu diinisiasi oleh PT Karimun Granite. Aktivitas survei geologi dan pemetaan wilayah dimulai secara resmi pada akhir tahun 1971 setelah pembentukan perusahaan pada September 1971.
Saat memetakan bukit granit di area konsesi Pasir Panjang, tim geolog menemukan tulisan kuno yang terpahat pada dinding batu seperti temuan awal sekitar seabad sebelumnya. Karena lokasi prasasti berada di pusat area penambangan aktif, manajemen menetapkan zona steril. Batas peledakan dinamit (blasting) digeser guna menyelamatkan dinding batu bertulis dari kehancuran.
Namun, untuk aktifitas pertambangan, area di sekitarnya yang sebelumnya merupakan perairan laut, mulai direklamasi.


Situs prasasti Pasir Panjang di Karimun pada dekade 1970-an, dengan bendera suku laut orang Akit terpasang. (Kanan) Foto hitam putih dan (Kiri) Repro dengan pewarnaan. © F. ‘Singapore Silk Road of The Sea – John N. Miksic published by NUS Press and the National Museum of Singapore
Tampak pada gambar, lokasi situs prasasti Pasir Panjang yang terletak di lereng tebing granit dan langsung berhadapan dengan laut di masa sebelumnya, terlihat telah direklamasi. Sebuah bendera dari suku laut akit terpasang persis pada lokasi; sebagai penanda situs bersejarah tersebut.
Tampaknya, lokasi prasasti yang juga terdiri dari relief tapak kaki raksasa dan sebuah sumur batu, merupakan tempat yang dihormati oleh penduduk suku laut.


Foto suku laut Akit di desa Pasir Panjang Karimun pada dekade 1970-an. (Kanan) Foto hitam putih dan (Kiri) repro dengan pewarnaan. © F. ‘Singapore Silk Road of The Sea – John N. Miksic published by NUS Press and the National Museum of Singapore
Pada awal masa eksplorasi tambang granit masa itu, lokasi sekitarnya juga masih didiami kelompok masyarakat asli suku laut.


Foto rumah suku laut orang Akit di desa Pasir Panjang, Meral sekitar dekade 1970-an. (Kanan) Hitam putih dan (Kiri) repro dengan pewarnaan. © F. ‘Singapore Silk Road of The Sea – John N. Miksic published by NUS Press and the National Museum of Singapore
(*)
Penulis/ Videografer: Bintoro Suryo – Ordinary Man. Orang teknik, Mengelola Blog, suka sejarah & Videography.
Artikel ini diterbitkan sebelumnya di: bintorosuryo.com



