Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Tembus 563 Ribu! Ini Data Lengkap Perlintasan di Batam Agustus 2026
    19 jam lalu
    Cuaca Kota Batam Hari ini Panas Berawan, Suhu Mencapai 33 Derajat
    21 jam lalu
    19 Penerbangan Batam–Jakarta Batal Akibat Abu Krakatau, Penumpang Beralih ke Rute Transit
    24 jam lalu
    Akses Udara Terganggu, Agenda MICE dan Wisata Batam Ikut Terdampak
    24 jam lalu
    Penyusutan DAM Nongsa Mulai Ancam Suplai ke Kawasan Data Centre
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    Ekspedisi Dokumentasi Prasasti Pasir Panjang 1955
    21 jam lalu
    “Absensi Digital Langsung ke WhatsApp Orang Tua’
    23 jam lalu
    Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya
    2 hari lalu
    Dari Letnan Asworth ke Brandes; Inkripsi Prasasti Budha di Karimun
    5 hari lalu
    Pembaca Lansia
    6 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    8
    Masjid Al Mubaraq, Karimun (Masjid Raja Haji Abdullah)
    2 hari lalu
    Realisasi Belanja Pemko Tanjungpinang hingga September 2026
    2 hari lalu
    Tanjung Lamun, Batam
    4 hari lalu
    Gunung Kijang, Bintan
    4 hari lalu
    Gedung Beringin, Batam
    2 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    3 bulan lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    3 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    3 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    7 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    7 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Gede Pangrango ; Antara Kebuyutan, Perkebunan Teh dan Laboratorium

Editor Redaksi 6 tahun lalu 1.6k disimak

SETELAH sekitar tiga bulan tak bebas bergerak gara-gara PSBB, banyak orang mulai bosan dirumah dan ingin melancong saat akhir pekan tiba. Namun, tamasya ke tempat jauh bukan pilihan tepat sebab keadaan belum benar-benar membaik.

Untuk menyingkirkan rasa jemu, warga Jabodetabek biasanya banyak yang pergi ke daerah Puncak, Bogor, yang bagi mereka relatif mudah dijangkau. Jalur Puncak pun langsung ramai dipadati para pelancong saat PSBB mulai dilonggarkan sebulan lalu.

Meski sebenarnya tetap rawan, para wisatawan sudah merasa cukup aman berbekal masker dan pembersih tangan. Dan meski beberapa tempat wisata di kawasan Puncak belum boleh buka, tapi tak mengurangi hasrat orang untuk meluncur ke Puncak.

Jika menengok masa lalu, hal ini tidak terlalu mengherankan. Jangankan virus SARS-CoV-2 yang tak kasatmata, pada dekade 1950-an, risiko nyawa melayang kena sergap gerombolan DI/TII pun tak memupus keinginan orang Jakarta untuk vakansi ke Puncak.

“Kadang-kadang gerombolan ini menyerang desa-desa atau vila-vila. Jadi kalau bermalam di sini agak ngeri juga karena dapat saja menjadi korban serangan gerombolan ini, terutama di rumah atau vila yang masuk ke dalam, jauh dari jalan raya,” kenang Fiman Lubis dalam memoar Jakarta 1950-an: Kenangan Semasa Remaja (2008, hlm. 174).

Puncak yang termasuk kawasan lereng Pegunungan Gede Pangrango memang sedari dulu adalah tempat tetirah. Bukan hanya kawasan Puncak saja sebenarnya, tapi juga hampir selingkup lereng kedua gunung ini. Misalnya Cigombong dan Lido (lereng sisi barat), Cipanas dan Cibodas (lereng sisi timur, masuk wilayah Cianjur), hingga Selabintana (lereng sisi selatan, masuk wilayah Sukabumi). 

Kawasan ini populer sebagai destinasi pelesir, senada dengan alasan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff saat membangun Bogor atau dulu disebut Buitenzorg. Suasana asri dan hawa sejuk pegunungan tentu menarik sebagai tempat istirahat dari kepenatan Batavia.

“Kalau pergi beristirahat ke sini, orang Belanda mengatakan ‘naar boven’, atau pergi ke atas. Sampai sekarang (dekade 1950-an) kalau orang pergi ke sini masih ada juga yang mengatakan ‘pergi ke atas’,” tulis Firman Lubis (hlm. 171).

Seiring dengan pamornya sebagai tempat wisata era kolonial, kawasan ini juga menjadi laboratorium alam bagi para naturalis Eropa. Namun begitu, jauh sebelum orang Eropa dan sains Barat merambahnya, kawasan Gede Pangrango punya nilai sakral bagi para leluhur orang Sunda.

Kebuyutan Sunda Kuno

Catatan lokal tertua yang menyebut Gunung Gede Pangrango, adalah naskah Bujangga Manik yang ditulis sekitar abad ke-15. Di masa itu, masyarakat Kerajaan Sunda menyebut Gunung Gede sebagai Bukit Ageung. Bukan sekadar gunung, Bukit Ageung adalah kabuyutan alias tempat sakral bagi Kerajaan Sunda.

Berdasarkan naskah tersebut, resi Bujangga Manik tercatat dua kali melintasi kawasan itu. Kali pertama saat ia memulai perjalanan spiritual keliling Jawa. Dari ibu kota Kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran yang diperkirakan terletak di daerah Kota Bogor, sang resi melewati rute laiknya pelancong Jakarta hari ini. Ia melewati Tajur Mandiri lalu Suka Beurus, hingga menanjak ke Puncak—toponimi yang hingga kini tidak banyak berubah.

Dalam catatan perjalanannya Bujangga Manik menulis:

“Panjang ta(n)jakan ditedak, ku ngaing dipeding-peding. (Panjang tanjakan yang kulalui, kutempuh dengan tekun)”.

“Sadatang aing ka Puncak, deuuk di na mu(ng)kal datar, teher ngahihidan awak. Setiba aku di Puncak, aku duduk di atas batu datar (rata) sambil mengipasi tubuh”.

“Teher sia ne(n)jo gunung, itu ta na Bukit Ageung, hulu wano na Pakuan. Lalu aku memandang ke arah gunung, itulah Bukit Ageung, titik tertinggi di Pakuan.” 

Bujangga Manik melewati lagi Gunung Gede dalam perjalanan pulangnya dari timur. Saat itulah ia menyebut Bukit Ageung sebagai tempat suci orang-orang Pakuan.

Sadatang ka Bukit Ageung, eta hulu Cihaliwung, kabuyutan ti Pakuan, sanghiang Talaga Warna.

Setiba di Bukit Ageung, itulah hulu Ci Liwung, kabuyutan dari Pakuan, [yaitu] sanghiang Talaga Warna.

“Kutipan puisi itu memberikan petunjuk kepada kita bahwa di masa lampau, ketika negara yang beribukotakan Pakuan masih ada, Gunung Gede dengan Telaga Warna sudah merupakan kabuyutan atau tempat suci,” tulis budayawan Sunda Ayatrohaedi dalam “Kabuyutan di Gunung Gede dan Gunung Pangrango” yang terbit di harian Kompas (13 Agustus 2002).

Sebagaimana juga di Jawa belahan tengah dan timur, gunung punya posisi penting dalam kehidupan spiritual orang Sunda di masa lalu. Gunung dianggap sebagai pusat dunia dan dewa-dewi yang mereka puja bersemayam di puncaknya. Oleh karena itu banyak tempat suci keagamaan di Tatar Sunda berdiri di gunung.

Kebudayaan Sunda Kuno mengenal beberapa macam tempat suci, di antaranya kawikuan, patapan, dewa sasana, mandala, dan kabuyutan. Menurut peneliti Gumati Foundation Dani Sunjana, kabuyutan adalah jenis tempat suci yang paling banyak disebut dalam naskah-naskah Sunda Kuno. Kata asalnya adalah buyut yang bisa dimaknai sebagai nenek moyang dan roh mereka diyakini bersemayam di gunung-gunung. Jadi, kabuyutan adalah situs tempat para leluhur atau raja-raja terdahulu diperdewakan.

“Naskah Perjalanan Bujangga Manik menyebutkan tiga kebuyutan di Tatar Sunda yang masing-masing berlokasi di Bukit Pala, hulu Sungai Ciliwung di Bukit Ageung (Gunung Gede), serta di hulu Sungai Cisokan, di bawah Gunung Patuha,” tulis Dani dalam “Gunung Sebagai Lokasi Situs-situs Keagamaan dan Skriptoria Masa Sunda Kuno” yang terbit di jurnal Purbawidya (2019).

Dibuka untuk Kebun Teh

Kompleks Gunung Gede Pangrango makin terbuka sejak Kota Bogor mulai dikembangkan pada 1745. Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem Baron van Imhoff merancang kota baru itu sebagai destinasi tetirah bagi pejabat VOC sekaligus daerah pertanian dan perkebunan. Wilayah Bogor yang semula hanya mencakup distrik Kampung Baru dan sekitarnya lalu diperluas hingga kawasan lereng Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak.

Sejak itu, lanskap kawasan Gunung Gede Pangrango pun perlahan berubah, terutama oleh pembukaan perkebunan teh di lerengnya yang subur dan sejuk. Teh mulai ditanam di Hindia Timur sekitar tahun 1680-an sebagai tanaman hias. Pemerintah kolonial mulai mengusahakannya untuk tujuan komersial pada 1820-an. Bibit teh didatangkan dari Jepang dan diujicoba di Kebun Raya Bogor pada 1826. Lalu pada awal dekade 1830-an daerah Ciawi dan Cikopo di lereng utara Gunung Gede mulai diusahakan sebagai perkebunan tanaman ini.

Perkebunan teh di lereng Gede Pangrango makin berkembang sejak kedatangan Guillaume Louis Jaques (Willem) van der Hucht dan Pietter Holle. Pertama kali menginjakkan kaki di Priangan pada 1844, dua saudara ipar ini langsung membuka perkebunan teh di bagian selatan Gede Pangrango.

“Pada tahun itu pula Willem van der Hucht membuka perkebunan teh yang pertama di Parakan Salak, lereng Gunung Gede, Sukabumi. Disusul kemudian mengontrak perkebunan teh Sinagar yang letaknya tidak berjauhan. Kedua perkebunan teh tersebut dikelola dengan baik dan menghasilkan produksi teh terbaik di pasar Internasional Amsterdam, Belanda,” tulis Kompas (19 Januari 2020).

Merekalah cikal bakal dinasti Preanger Plannters—para juragan kebun Priangan dari klan Holle, Kerkhoven, dan Bosscha yang menghidupkan industri teh di Indonesia.

Laboratorium Alam Kolonial

Beriring dengan ekploitasi alamnya, pada abad ke-19 kawasan Gede Pangrango juga jadi salah satu laboratorium alam favorit para naturalis Eropa. Pemulanya adalah duet Thomas Stamford Raffles dan Thomas Horsfield. Raffles si Letnan Gubernur di masa pemerintahan interegnum Inggris di Jawa, memang punya ambisi menelisik dan menulis tentang Jawa. Sementara Horsfield adalah naturalis Amerika yang sejak 1801 meneliti tanaman berkhasiat medis di Hindia Belanda. Minat yang sama menjadikan mereka kolega dan kawan diskusi.

Raffles tercatat mendaki ke Gunung Gede pada pertengahan 1815. Dia berhasil mendaki hingga ke puncak, mendata dinamika suhu, dan mencoba mengukur ketinggiannya. Dalam sebuah surat bertarikh 7 Maret 1815, Raffles membagi hasil pengamatannya kepada Horsfield.

“Kami punya pandangan sangat jelas dari puncak sini: jalan-jalan Batavia dan kami dapat melihat pesisir paling selatan Sumatera; ombak di pantai selatan terlihat dengan mata telanjang; ke timur kami dapat melihat Indra Mayu dan Bukit Cheribon yang menjulang paling tinggi di sana,” tulis Raffles sebagaimana tersua dalam Memoir of the Life and Public Servicers of Sir Thomas Stamford Raffles (1830, hlm. 617).

Horsfield bisa jadi pernah pula mendaki dan meneliti ke Gunung Gede, namun sayang catatannya tak berbekas. Sejak itu kian banyak naturalis Eropa, baik pegawai kolonial maupun independen, menjelajahi dan meriset kawasan Gede Pangrango. Sebutlah di antaranya Caspar Reinwardt (direktur pertama Kebun Raya Bogor), Johannes Elias Tejsmann (juga direktur Kebun Raya Bogor), Franz Wilhelm Junghuhn, Alfred Russel Wallace, Sijfert Hendrik Koorders, hingga Melchior Treub.

Pamornya sebagai laboratorium alam kian teguh manakala Teijsmann membangun stasiun penelitian flora di Cibodas pada 1852. Diberi nama Bergtuin te Tjibodas, stasiun riset ini dimaksudkan sebagai kebun aklimatisasi dan percobaan untuk tanaman bernilai ekonomis dari luar Hindia. Di situs yang kini dikenal sebagai Kebun Raya Cibodas inilah pohon kina penghasil kinine, obat untuk malaria dari pegunungan Amerika Latin pertama kali ditanam.

Pandji Yudistira dalam Sang Pelopor: Peranan Dr. S.H. Koorders dalam Sejarah Perlindungan Alam di Indonesia (2014) menyebut fungsi stasiun riset Cibodas itu kemudian ditingkatkan sebagai kebun riset tanaman pergunungan. Ia menjadi semacam cabang dari Kebun Raya Bogor.

Melchior Treub, direktur Kebun Raya Bogor periode 1880-1910, kemudian mengajukan proposal untuk memperluasnya dan menjadikannya area konservasi pada 1888. Setahun kemudian proposal itu dikabulkan pemerintah kolonial.

Status itu kian kukuh pada 1925, saat pemerintah kolonial menetapkannya sebagai natuurmonument. Luasnya pun bertambah, dari mulanya 280 hektar menjadi 1.040 hektar hingga mencakup puncak Gunung Gede dan Pangrango.

Beberapa laboratorium dan stasiun pengamatan pun dibangun di beberapa tempat di kawasan itu untuk kepentingan riset. Sama seperti Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas pun kemudian masyhur secara internasional.

“Bagi kalangan biologi tropis internasional, Cibodas dan cagar alamnya adalah ‘tanah suci’-nya dan merupakan ‘Mekkah’ bagi semua yang berminat mengkaji flora pegunungan Jawa,” tulis Pandji (hlm. 72).

Sumber : tirto.id

*(Zhr/GoWestId)

Kaitan Gunung Gede, Laboratorium, Pangrango, Perkebunan Teh, top
Redaksi 11 Juli 2020 11 Juli 2020
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Menghilangkan Jamur Kaca Dengan Rokok
Artikel Selanjutnya Satelit Palapa ; “Mainan” Soeharto dan Kebanggaan Orde Baru

APA YANG BARU?

Tembus 563 Ribu! Ini Data Lengkap Perlintasan di Batam Agustus 2026
Artikel 19 jam lalu 106 disimak
Cuaca Kota Batam Hari ini Panas Berawan, Suhu Mencapai 33 Derajat
Artikel 21 jam lalu 142 disimak
Ekspedisi Dokumentasi Prasasti Pasir Panjang 1955
Histori 21 jam lalu 188 disimak
“Absensi Digital Langsung ke WhatsApp Orang Tua’
Catatan Netizen 23 jam lalu 173 disimak
19 Penerbangan Batam–Jakarta Batal Akibat Abu Krakatau, Penumpang Beralih ke Rute Transit
Artikel 24 jam lalu 237 disimak

POPULER PEKAN INI

Batam Belum Terdampak Abu Vulkanik Krakatau
Artikel 2 hari lalu 380 disimak
Ribuan Penumpang di Bandara Hang Nadim Batam Terdampak
Artikel 2 hari lalu 342 disimak
Makanan Beracun, dan Bagaimana McDonald’s Menghindarinya
Catatan Netizen 2 hari lalu 335 disimak
Penerbangan Jakarta – Batam Dihentikan Sementara
Artikel 2 hari lalu 321 disimak
Kantor Bea Cukai Batam Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik
Artikel 5 hari lalu 297 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?