Dengan mengakses situs GoWest.ID, anda setuju dengan kebijakan privasi dan ketentuan penggunaannya.
Setuju
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
    ReportaseSimak lebih lanjut
    Kementerian Kelautan Jamin Perizinan Proyek Kabel Bawah Laut NCC Telah Memenuhi Ketentuan
    11 jam lalu
    ABH Lakukan Penyambungan Pipa Air, Berikut Wilayah yang Akan Terdampak
    15 jam lalu
    Nongsa Changi Cable Resmi Mendarat, Batam Kukuhkan Diri Jadi Gerbang Digital Indonesia
    15 jam lalu
    Tindak Balap Liar dan Knalpot Brong, Polresta Barelang Sita 83 Motor di Batam
    1 hari lalu
    Dishub Batam Targetkan 15 Halte Baru Hingga 2027
    1 hari lalu
  • Ragam
    RagamSimak lebih lanjut
    “Tersesat di Labirin Pulau-Pulau; Di Wilayah Kuasa Hamet dari Pulau Buluh”
    2 hari lalu
    Spanyol Juara Piala Dunia 2026
    2 hari lalu
    Hujan Gol di Miami, Inggris Tekuk Prancis 6-4
    3 hari lalu
    Workshop Literasi Para Ibu untuk Perkuat Karakter Anak
    4 hari lalu
    Kalahkan Inggris 2-1, Argentina Berpeluang Back to Back Juara Dunia
    6 hari lalu
  • Data
    DataSimak lebih lanjut
    Tun Abdul Jamal (Temenggung Johor Riau 1757 – 1802)
    4 hari lalu
    Realisasi Belanja Pemko Batam per Juli 2026
    2 minggu lalu
    Lebah Bergantung (Lebah Bergayut)
    3 minggu lalu
    Pulau Los, Tanjungpinang
    3 minggu lalu
    Analisis Data: Kuota Bansos di Batam dan Efektivitas Sistem Bansos Online
    3 minggu lalu
  • Program
    ProgramSimak lebih lanjut
    Limas Potong; ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’ (Documentary)
    4 minggu lalu
    “Tanjak Perkasa Alam Karimun”
    1 bulan lalu
    #ComingSoon LIMAS POTONG: ‘Cagar Budaya Separuh Hati?’
    1 bulan lalu
    Durai – Selat Gelam : “Jejak Masa Lalu & Alam yang Bersahabat”
    5 bulan lalu
    Moro – Sugi: “Surga Alam yang Tersembunyi”
    5 bulan lalu
  • id
    • zh-CN
    • en
    • id
TELUSUR
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Notifikasi Simak lebih lanjut
Aa
Aa
GoWest.IDGoWest.ID
  • 🔴 Live Streaming!
  • Reportase
  • Ragam
  • Program
  • Data
  • Reportase
    • Artikel
    • Serial
    • In Depth
    • Berita Video
    • Cerita Foto
    • Live!
  • Ragam
    • Budaya
    • Pendidikan
    • Lingkungan
    • Sports
    • Histori
    • Catatan Netizen
  • Data
    • Infrastruktur
    • Industri
    • Statistik
    • Kode Pos
    • Rumah Sakit
    • Rumah Susun
    • Tokoh
    • Wilayah
    • Situs Sejarah
    • Seni
  • Partner
    • VOA Indonesia
    • BenarNews.org
  • Yang Lain
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy
    • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
  • Advertorial
© 2025 Indonesia Multimedia GoWest. All Rights Reserved.
Histori

Slebew, Slang, dan Walikan

Editor Admin 4 tahun lalu 941 disimak

ADA banyak hal yang dapat dibahas dari popularitas Citayam Fashion Week yang sempat menghebohkan publik. Salah satunya istilah yang menarik yaitu “slebew”. Kata ini kerap diucapkan anak-anak muda yang nongkrong di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat.

Arti “slebew” mungkin hanya mereka yang tahu. Kata ini tak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) karena bentukan baru sebagai bahasa informal atau slang.

Gorys Keraf dalam Diksi dan Gaya Bahasa menjelaskan bahwa slang merupakan kata-kata nonstandar yang informal, yang disusun secara khas; atau kata-kata biasa yang diubah secara arbitrer (manasuka); atau kata-kata kiasan yang khas, bertenaga, dan jenaka yang dipakai dalam percakapan. Kadang kala kata slang dihasilkan dari salah ucap yang disengaja, atau kadang kala berupa pengrusakan sebuah kata biasa untuk mengisi suatu bidang makna yang lain.

Di Indonesia, bahasa slang telah digunakan masyarakat sejak lama. Salah satu yang populer adalah bahasa prokem. Beberapa kata prokem masih kerap digunakan hingga kini, seperti doi, bokap, nyokap, cuek, kece hingga memble.

Menurut Henri Chambert-Loir dan Prathama Rahardja dalam Kamus Bahasa Prokem, bahasa prokem bukan satu-satunya bahasa sandi dan kode di Indonesia. Di masa perang revolusi, para pejuang di Malang juga memiliki bahasa sandi dan kode yang digunakan untuk mengelabui mata-mata Belanda. Bahasa itu dikenal dengan sebutan Osob Kiwalan atau Boso Walikan.

Dukut Imam Widodo dalam Malang Tempo Doeloe menyebutkan bahwa bahasa walikan merupakan ciptaan para pejuang dalam kelompok Gerilya Rakyat Kota (GRK) yang sangat disegani di Kota Malang. Penggunaan Boso Walikan dianggap perlu untuk menjamin kerahasiaan dan efektivitas komunikasi sesama pejuang.

Selain itu, bahasa ini juga digunakan sebagai “tanda pengenal” kawan atau lawan. Hal ini dianggap penting karena pada masa perang kemerdekaan, sekitar akhir Maret 1949, Belanda gencar menyusupkan mata-mata ke dalam kelompok pejuang di Kota Malang.

Menurut Dukut, mata-mata Belanda itu tentu fasih berbahasa Jawa gaya Jawa Timuran tapi bukan Boso Walikan. Tugas mereka mencari informasi mengenai sisa-sisa Laskar Mayor Hamid Rusdi yang gugur pada 8 Maret 1949 dalam pertempuran di Dukuh Sekarputih.

Mayor Hamid Rusdi dikenal sebagai pemimpin perjuangan kemerdekaan di wilayah Malang. Ia beberapa kali membuat pusing Belanda karena memberikan komando serangan umum terhadap wilayah pendudukan Belanda. Tak hanya itu, bersama anak buahnya, Mayor Hamid Rusdi juga bergerilya di masa perang revolusi.

Wicaksono, Devan Firmansyah, dan Febby Soesilo dalam Sejarah Singkat Kecamatan Singosari dan Mengenal Tinggalan Kesejarahannya dari Masa Prasejarah sampai Masa Kemerdekaan menambahkan bahwa rute-rute gerilya pasukan Mayor Hamid Rusdi pada masa Agresi Militer Belanda II tahun 1949 berada di wilayah Karanglo dan beberapa desa di Singosari. Kematian Mayor Hamid Rusdi membuat pasukan Belanda gencar memburu para pejuang yang tersisa.

Informasi yang didapat tentara Belanda dari mata-mata membuat sisa-sisa Laskar Mayor Hamid Rusdi beberapa kali tertangkap, meski bersembunyi atau disembunyikan sedemikian rupa oleh penduduk. “Tidak itu saja, manuver-manuver mereka pun bisa terbaca oleh pasukan Belanda,” tulis Dukut.

Untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi, seorang pejuang bernama Suyudi Raharno bersama kawan karibnya Wasito menciptakan bahasa baru untuk digunakan para pejuang. Gagasan cerdik itu diharapkan dapat menjaga kerahasiaan informasi yang dikomunikasikan para pejuang. Lebih dari itu, identitas para pejuang pun bisa terjamin.

Bahasa baru yang diciptakan Suyudi dan Wasito ini diberi nama Osob Kiwalan atau Boso Walikan Coro Malang (Bahasa Kebalikan Cara Malang). Boso Walikan digunakan dengan cara membaca atau menyebut sebuah kata secara terbalik, dari belakang dibaca ke depan. “Boso Walikan Coro Malang kaya akan kode dan sandi. Bahasa ini tidak terikat pada aturan tata bahasa yang umum dan baku,” tulis Dukut.

Aturan penggunaan Boso Walikan bebas dan longgar. Sehingga para pejuang dapat membuat kesepakatan dalam menciptakan sejumlah istilah. Kesepakatan ini diperlukan karena banyak kata penting yang sulit dibaca terbalik. Sehingga harus dicari istilah dan padanan yang sesuai namun mudah diingat oleh penuturnya. Salah satu contohnya adalah kata “Belanda” yang dalam bahasa Jawa disebut “Londo”. Kata ini sulit dibaca terbalik, maka disepakatilah istilah padanannya yaitu “Nolo”.

Selain itu, istilah “mata-mata” juga tak dibalik dan dibaca secara literal menjadi “atam”. Agar maksudnya tersampaikan untuk merujuk kepada antek Belanda, maka ditambahkan kata “keat” dari kata “taek” yang dalam bahasa Jawa artinya kotoran. Sehingga saat bicara mengenai mata-mata Belanda, para pejuang memanggilnya dengan sebutan “keat atam”.

Boso Walikan dalam waktu singkat telah menjadi bahasa andalan para pejuang di Malang. Mereka fasih menggunakannya untuk berkomunikasi dengan sesama pejuang. Penggunaan Boso Walikan untuk berkomunikasi dan berbagi informasi rahasia cukup membuat mata-mata Belanda kerepotan. Pasalnya, mereka tidak setiap hari bergaul dengan para pejuang sehingga kesulitan mengikuti perkembangan yang terjadi di kelompok tersebut, termasuk penggunaan Boso Walikan yang ramai digunakan para pejuang.

Para pejuang dengan Boso Walikan mampu mengetahui siapa lawan dan siapa kawan di tengah kecamuk perang. Komunikasi antarpejuang maupun simpatisan pejuang dapat berlangsung dengan cepat dan terjaga kerahasiaannya.

Boso Walikan tak hanya diandalkan untuk komunikasi rahasia, tapi juga menjadi penanda identitas orang-orang di masa perang. “Malah kala itu ada suatu pendapat, bahwa siapapun yang tidak bisa menggunakan ‘bahasa baru’ Kota Malang, maka ia akan dicap bukan dari kalangan pejuang atau simpatisan para pejuang,” tulis Dukut.

Para pejuang kemudian mengetahui mata-mata Belanda yang telah membocorkan informasi sisa-sisa Laskar Mayor Hamid Rusdi. Setelah identitas para penyusup itu dibongkar dan diinterogasi, mereka kemudian dihukum mati.

Boso Walikan cukup efektif mengelabui mata-mata Belanda. Bahasa ini terus hidup meski penggagasnya mati pada September 1949.
Dukut menyebut Suyudi Raharno disergap tentara Belanda pada pagi buta di pinggiran wilayah Dukuh Genukwatu (kini Purwantoro).

Konon ada mata-mata yang melaporkan keberadaan Suyudi di tempat tersebut. Padahal kala itu tengah gencatan senjata antara pejuang di Malang dengan pasukan Belanda. Suyudi gugur dalam penyergapan itu.

Sebelumnya, Wasito, kawan akrab Suyudi, lebih dulu gugur dalam pertempuran di Gandongan (kini kawasan Pandanwangi). Jasad Suyudi dan Wasito terbaring di Taman Makam Pahlawan Surapati Malang.

Meski perang revolusi telah lama berakhir, namun Boso Walikan hingga kini masih digunakan oleh masyarakat di wilayah Malang. Tak hanya digunakan oleh para veteran, Boso Walikan yang semula sebagai sandi untuk mengelabui mata-mata Belanda, kini menjadi bahasa populer di kalangan anak-anak muda.

(*)

Sumber: historia.id

Kaitan belanda, Boso walikan, malang, Pejuang, Slang, Slebew, Walikan
Admin 31 Juli 2022 31 Juli 2022
Apa yang anda pikirkan
Suka sekali0
Sedih0
Gembira0
Tal peduli0
Marah0
Masa bodoh0
Geli0
Artikel Sebelumnya Batam Jazz Fest 2022, Panggung bagi Musisi Jazz Lokal
Artikel Selanjutnya Liverpool vs Man City 3-1: The Reds Juara Community Shield 2022

APA YANG BARU?

Kementerian Kelautan Jamin Perizinan Proyek Kabel Bawah Laut NCC Telah Memenuhi Ketentuan
Artikel 11 jam lalu 61 disimak
ABH Lakukan Penyambungan Pipa Air, Berikut Wilayah yang Akan Terdampak
Artikel 15 jam lalu 406 disimak
Nongsa Changi Cable Resmi Mendarat, Batam Kukuhkan Diri Jadi Gerbang Digital Indonesia
Artikel 15 jam lalu 98 disimak
Tindak Balap Liar dan Knalpot Brong, Polresta Barelang Sita 83 Motor di Batam
Artikel 1 hari lalu 139 disimak
Dishub Batam Targetkan 15 Halte Baru Hingga 2027
Artikel 1 hari lalu 152 disimak

POPULER PEKAN INI

Prakiraan Cuaca, Rabu-Kamis Batam Berawan Tidak Berpotensi Hujan
Artikel 6 hari lalu 433 disimak
ABH Lakukan Penyambungan Pipa Air, Berikut Wilayah yang Akan Terdampak
Artikel 15 jam lalu 406 disimak
Angka Kecelakaan Lalulintas di Batam Meningkat, Kematian di Jalan Turun
Artikel 3 hari lalu 336 disimak
Workshop Literasi Para Ibu untuk Perkuat Karakter Anak
Pendidikan 4 hari lalu 323 disimak
Penolakan Lahan Sekolah Rakyat di Pulau Rempang
In Depth 5 hari lalu 294 disimak
- Pariwara -
Ad imageAd image
about us

Kami berusaha menjadi CITIZEN yang netral dan objektif dalam menyampaikan pandangan serta pikiran tentang apapun di dunia ini.

  • Privacy Policy
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
Ikuti Kami
© Indonesia Multimedia GoWest 2026. All Rights Reserved.
adbanner
AdBlock Detected
Our site is an advertising supported site. Please whitelist to support our site.
Okay, I'll Whitelist
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?